Surat untuk Terpidana

October 10th, 2006 by kunto

Para terpidana di dalam penjara, ijinkanlah aku mengetuk pintu teralismu. Kau tak perlu membuka, toh tanpa kau buka, pintu itu tak pernah tertutup. Aku menulis surat bukan untuk menghibur. Bukan untuk melipur. Apalagi, bukan untuk mengajakmu berlibur di negeri bubur kencur ini. Aku hanya bermain-main saja.

Kamis, 17 Maret 2006 lalu, aku membaca Kompas. Ada pilu di halaman satu. Soal matinya empat aparat negara ditimpuk massa di Papua; soal jerit massa yang menjadi garang setelah lama memendam dendam. Tapi bukan itu yang ingin kusampaikan padamu. Lewat koran yang kau baca, atau cerita sanak saudara yang mengunjungimu, atau bisikan hatimu sendiri, aku yakin, kamu tahu kenapa bara itu membakar amarah.

Bukan. Aku mengajakmu untuk membaca tajuk rencana hari itu. Yang di atas, “Ironi KPU Masih Terasa”, bukan yang di bawah, “Kapan PM Taksin Mundur”. Mungkin kau sudah membaca, tapi aku akan menceritakan sedikit supaya kau membaca, sekali lagi. Tajuk itu berbicara soal ironi. Kebetulan, dan pasti sesudah dipilih, contoh yang dikemukakan adalah tentang terpidananya ketua dan tiga anggota KPU, yaitu kamu. Kamu dibui setelah terbukti korupsi.

Ironisnya, begitu tulisan itu menekankan, 2004 lalu kamu-kamu dipuji sebagai penyelenggara pemilu yang demokratis. Masyarakat dalam dan luar negeri menilai pemilu kali itu sebagai sukses demokrasi, tegas tulisan itu lagi. Setelah itu kamu dipenjara. Aku kutipkan untukmu, “Juga berironi, karena acap kali terdengar omongan seberapa jauh yang lain-lain itu benar-benar bersih.”

Ini yang mengusik hatiku, hingga aku menulis surat untukmu. Ya, semua kamu yang di dalam penjara. Kau bersalah, vonis pengadilan. Karenanya, bunyi putusan yang pernah kau dengar bersama ketukan palu, kau pantas dipenjara. Semua hakmu sebagai manusia bebas dicabut. Semua atribut kegagahanmu selama di luar sana, sebagai ketua, direktur, ustad, dilorot. Kau sandang predikat baru sebagai terpidana.

Tetapi kau jangan berkecil hati. Mungkin kau benar-benar salah, sepanjang yang mengatakan salah itu tidak salah. Mungkin kau benar, tetapi penentu kebenaran itu tidak melihat kebenaranmu. Kau adalah ironi. Penjara yang kau diami hanyalah penjara kecil. Sedang kami, yang leluasa berkeliaran di luar ini, ada di penjara besar.

Ini bukan kata-kataku. Aku lupa siapa yang mengatakannya pertama. Tapi terang, pernyataan itu benar adanya. Kau masuk penjara penuh penghormatan, disidang, dikawal, disiapkan tempat, dan diliput media massa. Sesekali, keluarga dan kolega boleh menjengukmu, sembari mencincing oleh-oleh sebagai teman membunuh kesunyian.

Sedang kami? Kami dipenjara di terali besar ini penuh nista. Tanpa sidang, kami divonis menjadi orang miskin. Tanpa pengawalan, kami dibiarkan keleleran mencari makan. Tempat yang kami tiduri, bisa tiba-tiba digusur atau dibakar. Atau sekonyong-konyong disapu bandang. Atau ambruk tertimpa tanah longsor. Di mata media massa, potret kami kalah seksi dari kamu. Sesekali saja kami diulas, selebihnya halaman-halaman koran dipenuhi kabar-kabar para elit yang entah mengerjakan apa itu.

Sekarang, kebutuhan hidup makin tak terjangkau. Gaji tak naik. Boro-boro bonus. Bikin usaha sendiri tidak laku. Kalah dihisap imperialis kejam. Harga meninggi kian hari. Kami semakin tak mampu membeli. Di dalam penjara kecil dan penjara besar, kita sama. Sama-sama dijaga. Sama-sama diawasi. Kau diawasi supaya tidak kabur. Kami dipelototi supaya tidak melawan. Kau masih diberi ransum saat lapar, meski mungkin tak mengenyangkan. Sedang kami mesti mengais sendiri, padahal semakin sedikit sumber makanan tersisa untuk kami.

Kau yang pernah jadi pengusaha tentu tahu bagaimana susahnya bekerja di luaran sini. Jangankan difasilitasi, setiap usaha nyaris selalu diganjal tetek-bengek persyaratan yang ujung-ujungnya, kamu tahu, minta uang. Kalau kami melawan, pasti keesokan harinya kami diseret di kamar sebelahmu. Sedang kalau kami penuhi, esok mereka akan datang lagi meminta lebih.

Maka, kami berharap, kau jangan berkecil hati. Di penjara kecil tak ubahnya penjara besar. Sama saja. Bedanya, kau dipenjara karena ada yang memutuskan untuk memenjarakanmu. Sedang kami dipenjara karena pembiaran. Kau dijebloskan. Kami diabaikan. Dan kita sama-sama tidak pernah bisa memahami, apakah kau sungguh kotor, sebagaimana apakah benar yang memenjarakanmu bersih.

Bahkan, di penjara besar ini, kami kehilangan pedoman untuk menemukan mana yang memang bersih. Sebab, semua berlomba tampil bersih. Kau tahu, aparat penegak hukum di negeri ini pun banyak yang berperilaku kotor. Aku menolak menyebutnya oknum. Bukan oknum namanya jika telah melembaga.

Saudaraku, pastilah kau gelisah di dalam penjara kecil itu. Kau menghitung hari penuh rasa sesal. Menyesal karena memang salah, bisa juga menyesal telah terlalu banyak mengabdi pada bangsa ini. Dan semua sia-sia belaka. Namun, kita sama-sama menunggu, adakah hari kebebasan itu akan datang? Adakah penjara besar ini pun runtuh, sehingga memungkinkan kita semua hidup benar-benar bersih?

Mungkin masih lama, namun kita toh tidak pernah boleh putus asa. Lebih-lebih kau yang di dalam sana. Nikmatilah penjara kecilmu sebagai kesempatan yang langka. Berbuat baiklah di sana, supaya lekas keluar. Sudah banyak yang antri menggantikanmu, yakni mereka-mereka yang mengaku bersih itu…

Jakarta, 20 Maret 2006

Mudik Naik Motor Lagi Ah…

October 10th, 2006 by kunto

Mudik naik sepeda motor betul-betul telah menjadi pilihan. Tahun ini terjadi lonjakan jumlah pemudik bermotor sebesar 40 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai jumlah 2 juta kendaraan. Mengapa bisa terjadi?

Sebab, tak ada moda transportasi yang semurah dan semerdeka sepeda motor. Pesawat? Ya, untuk kalangan menengah atas tarifnya masih terjangkau. Kereta api? Ah, sakit hati berebut tiket dengan calo. Bus? Sama saja, malas beradu otot menawar tuslah, belum lagi kerap terjebak kemacetan di hari-hari puncak. Mobil pribadi? Harga bensin nyaris tak terbeli…

Banyak yang menarik dari perjalanan mudik bersepeda motor. Cermin bangsa ini ada di sana: menang sendiri, terabas aturan, napas pendek, emosional. Ada pula cermin yang lain: kebersamaan, keramahan, ketekunan. Tulisan ini merupakan refleksi pengalaman saya 2 tahun lalu tatkala mudik ke Jogja mengendarai sepeda motor. Lebaran kali ini kembali saya akan menumpak kuda besi, menjadi bagian kecil dari sekitar 400.000 pemudik bermotor yang akan meninggalkan Jakarta, sebagaimana diprediksi oleh Kepala Dinas Perhubungan DKI, akhir September lalu.

Mental pemburu

Mudik bermotor memberi banyak pelajaran. Watak orang bisa dibaca dari perilaku mereka di jalanan. Tentu bukan potret yang utuh. Tetapi setidaknya bisa mengungkap wajah aslinya. Secara khusus, dalam tulisan ini, saya hendak menyorot wajah asli Jakarta, tempat saya merantau dan beranjak pulang kampung.

Wajah Jakarta ada di sepanjang jalan. Sekeluar dari Bekasi hingga Cikampek, banyak pengendara memacu motornya dengan amat kencang. Maklum, kebanyakan menunggang motor baru keluaran tahun-tahun belakangan. Dengan kapasitas mesin yang besar pula. Lagian hari masih pagi, tepatnya dini hari. Waktu ini saya suka karena Jakarta agak ramah: sepi dan tenang.

Memasuki Indramayu, Cirebon, hingga Tegal, mulai banyak pengemudi “bertumbangan”. Mereka kelelahan. Perjalanan lebih dari 4 jam telah menguras tenaga mereka. Lebih-lebih, tak sedikit di antaranya menjalankan ibadah puasa.

Inilah cermin itu. Banyak pengendara mengira bahwa perjalanan mudik layaknya penempuhan Bintaro-Kebayoran, Depok-Menteng, Bekasi-Palmerah. Pacu sekencangnya supaya lekas sampai. Maklum, di hari-hari biasa mereka lakukan itu. Berburu waktu supaya tidak terlambat masuk kantor. Tancap gas supaya terbebas dari jebakan macet.

Banyak pengendara yang baru sekali melakukan perjalanan jauh. Malah, tak sedikit yang baru bisa mengendarai motor. Dengan motor baru pula, yang kilometernya belum genap 100, yang baru keluar dari dealer seminggu lalu. Mereka bertumbangan di pompa bensin sepanjang perjalanan. Kelelahan.

Mengapa mereka tumbang? Karena mental mereka sprinter, padahal lintasan yang harus dilalui adalah marathon. Napas mereka pendek, sementara perjalanan panjang. Mereka terbiasa hidup dengan target. Sekian jam harus sampai. Sekian waktu harus tercapai.

Jakarta, dan mungkin kota-kota besar lainnya, memang telah mengajarkan mereka untuk berburu. Selalu bergerak cepat. Meraih hasil. Acapkali proses harus dibiarkan terbengkalai supaya pencapaian hasil lebih optimal.

Mau menang sendiri

Tentu yang dimaksud bukan mental pemenang. Tetapi mental mau menang sendiri. Betul, di rantau mereka telah digembleng oleh situasi untuk bisa bertahan dalam segala situasi. Mereka harus pintar-pintar merancang siasat supaya bisa mendapatkan pekerjaan. Ketika bekerja, mereka harus berusaha berusaha keras untuk mendapatkan keuntungan. Ketika sudah untung, mereka harus bekerja keras untuk memenangi persaingan, jangan sampai mereka jatuh.

Jalanan juga mempertontonkan itu. Di Jakarta, motor sering dikeluhkan oleh pengguna moda transportasi yang lain sebagai raja jalanan. Berhenti di depan marka, naik ke trotoar, mendului dari kiri, menyerobot di persimpangan. Perilaku itu begitu melekat. Begitu sampai di simpul-simpul kemacetan, karena pasar tumpah misalnya, pengendara motor dengan gesitnya mencari celah untuk bisa menyelinap di antara kesesakan.

Ambil sebelah kiri, menyalip di sebelah kanan, atau kalau dari depan terhadang kendaraan besar, tak sedikit motor yang banting stang melaju di tepian lajur lawan, melipir melawan arus. Kendaraan sebesar apa pun tak akan berani jika dihadang oleh iring-iringan sepeda motor. Sungguh, karena motor adalah raja.

Secara psikologis, berada di tengah kerumunan motor memang serasa penguasa jalan. Penguasa yang lahir dari keterhimpitan. Jangan sembrono menghadapi pemudik bermotor. Meski mereka tidak saling mengenal, solidaritas mereka besar. Pernah suatu ketika sebuah mobil menyerempet pengendara motor hingga jatuh. Mobil itu melaju seperti tidak tahu. Karena dianggap melarikan diri, beberapa pengendara motor mengejar mobil itu. Tertangkap. Segesit-gesitnya mobil, toh, di tengah arus mudik ia tak bisa lari ke mana. Penghakiman massa pun tak terhindarkan, padahal belum tentu mobil itu bersalah.

Sering, kecelakaan terjadi akibat sikap sembrono pengendara motor sendiri. Berhenti tak kasih tanda. Mendului tak perhatikan kendaraan lain. Beriringan terlalu mepet. Karenanya, tah heran jika Polisi pun secara khusus menyediakan jasa pengawalan secara estafet supaya pergerakan kendaraan roda dua ini lebih tertib.

Kembalinya kebersamaan

Di luar itu, banyak pemandangan unik yang menjadikan mudik sebagai ritual yang bikin kangen. Salah satunya adalah keramahan. Orang-orang yang biasanya terkesan begitu angkuh itu seolah dalam sekejap menjadi orang yang begitu hangat. Saat beristirahat di pompa bensin, atau sekadar berteduh di bawah pohon, saling sapa pun spontan bersahutan. Pertanyaan soal tinggal di mana, tujuannya ke mana, mengalir menjadi pelunas dahaga di tengah kelelahan. Barangkali nasiblah pemersatunya. Sama-sama pemudik. Sama-sama berada di tanah orang, mencari makan di sana. Bahasa perbincangan pun berubah.

Layaknya sahabat yang telah lama terpisah, perjumpaan-perjumpaan kecil itu layaknya reuni dalam keluarga. Ada ibu yang menawarkan segelas air minum. Ada bapak yang mempersilakan saya untuk berbaring sejenak di tikarnya, sekadar untuk meluruskan punggung, ada yang membantu menurunkan tas ketika hendak mengisi bensin. Ah, rasanya uluran-uluran kasih itu begitu tulus. Meski kadang basa-basi pun terlontar. “Nanti kalau lewat Temanggung, singgah di rumah kami, Mas.”

Perlawanan sekaligus kepasrahan

Di balik semua itu, saya merasakan, pilihan mudik menggunakan sepeda motor adalah sebentuk perlawanan. Terhadap apa? Terhadap minimnya fasilitas publik yang manusiawi. Terhadap kesulitan hidup yang kian mengganas. Dari tahun ke tahun, pemerintah tak pernah tuntas dalam menyediakan moda transportasi yang nyaman dengan harga terjangkau. Jalan tol dibangun di mana-mana, tetapi angkutan massal bobrok di sana-sini. Akibat semakin dihimpit, masyarakat memberontak.

Mudik bermotor adalah pemberontakan yang pasrah. Perlawanan diam. Karena pemerintah tidak pernah memikirkan secara serius persoalan tahunan ini, masyarakat akhirnya memilih untuk memikirkan dirinya sendiri. Di atas dua roda, mereka memasrahkan dirinya pada diri sendiri.

Mengembalikan Anak Kepada Keluarga

October 10th, 2006 by kunto

Relevansi topik ini adalah terjadinya bencana yang bertubi-tubi melanda negeri ini, termasuk tanah Jawa Tengah. Gempa, tsunami, gunung meletus, dan berbagai bencana alam lainnya. Salah satu akibat paling kentara dari bencana itu adalah tercerai-beraikannya keluarga satu sama lain. Suami terpisah dari istrinya. Ibu terpisah dari anak-anaknya. Nah, korban yang menderita trauma paling dalam dari peristiwa perpisahan ini adalah anak-anak.

Oleh karena itu, pasca bencana gempa bumi yang meluluhlantakkan Klaten dan Jogja, serta pasca tsunami yang mengguyur Cilacap, Kebumen dan pantai selatan Jawa, kiranya perhatian pada anak-anak korban bencana alam ditempatkan pada prioritas utama. Mengapa? Karena anak memiliki kemampuan bertahan hidup (life survival) yang masih terbatas, atau malah belum punya sama sekali. Mereka belum bisa menolong dirinya sendiri.

Selain itu, trauma pada anak sangat sulit dihapus. Ingatan akan penderitaan yang pernah mereka alami akan membekas sepanjang hidup. Dan keluargalah institusi paling teruji yang sanggup menyembuhkan secara perlahan-lahan bilur-bilur penderitaan. Tulisan ini terinspirasi oleh gagasan Hermann Gmeiner, pecinta anak-anak asal Austria. Ia menyatukan anak-anak korban Perang Dunia II ke dalam keluarga. Tentu bukan kandung, karena kebanyakan mereka kehilangan orangtua.

SOS-Kinderdorf, lembaga yang didirikannya sejak tahun 1949, kini telah meluaskan karyanya di 132 negara di dunia, termasuk di Indonesia, dengan gagasan utama mengembalikan anak kepada keluarga. Memulihkan trauma Yang kerap terlupakan setiap kali terjadi bencana adalah perhatian pada korban anak-anak. Bantuan yang mengalir kerap hanya ditujukan kepada orang dewasa. Relawan yang berlarian ke lokasi bencana pun kebanyakan terpaku untuk bertanya pada orangtua, pada mereka yang masih bisa berkata-kata? Sedangkan pada tangisan bayi? Pada rengekan anak yang jongkok di depan reruntuhan rumah? Pada anak yang bengong menunggui bapak dan ibunya terluka di rumah sakit? Bahkan, pada anak yang meraung-raung di pelukan ibunya?

Mereka kerap terabaikan. Atau, kalau pun terperhatikan, umumnya setelah dua-tiga hari bencana terjadi. Ketika tangisan mereka menjadi-jadi. Atau ketika air mata mereka sudah habis. Jauh hari setelah bencana terlewati pun, anak-anak ini kembali terabaikan. Mentang-mentang anak sudah berkumpul kembali dengan keluarga di tenda. Atau malah sudah kembali ke sekolah dengan segala keceriaannya. Padahal, ingatan yang membekas pada anak tentang bencana tidak begitu saja bisa hilang.

Pengalaman buruk selalu terekam di benak anak sebagai goresan hitam yang menyakitkan. Kelak, sakit itu bisa kambuh lagi manakala ternyata balutan lukanya tidak sungguh-sungguh menyembuhkan. Anak itu jujur. Mereka juga spontan. Bisa jadi mereka segera dapat melupakan kejadian buruk yang menimpa tempo hari. Namun, ingatan bawah sadar tidak bisa direkayasa. Kekelaman masa lalu akan menjadi mimpi buruk di kemudian hari tatkala peristiwa serupa mereka hadapi. Anak-anak korban tsunami contohnya. Baik di Aceh maupun Cilacap-Kebumen dan pantai selatan Jawa, anak-anak menjadi takut akan air. Mereka takut mandi. Air, yang hanya satu bak, dalam benak mereka tak ubahnya air bah yang siap menggulung.

Maka, untuk memulangkan kecintaan pada air, untuk yang muslim, anak diajak untuk menjalankan ibadah sholat. Harus wudlu dulu, bukan? Jalan inilah yang akhirnya menjadi pendamai anak kepada air. Anak-anak yang menyaksikan rumahnya meliuk-liuk digoyang gempa, juga jadi takut kembali ke rumah. Bagi mereka, rumah bukan lagi tempat nyaman untuk berteduh, namun monster yang siap membinasakan. Maka, harus dipikirkan cara agar anak kembali mau tidur di rumah, kelak jika bangunan baru sudah didirikan. Mengajak anak untuk membantu menyiapkan batu-batu, mengestafetkan genting, mengaduk semen, bisa menolong anak untuk meyakini bahwa rumah yang kelak mereka tempati cukup kokoh karena mereka ikut membangun.

Dengan keyakinan dari dalam diri anaklah, pelan-pelan mereka berani meninggalkan tenda. Mengembalikan kepada keluarga Di antara begitu banyak tugas penyembuhan trauma anak, tentu yang perlu juga dikaji adalah bagaimana mengembalikan anak tersebut kepada kehangatan keluarga. Jangan biarkan anak terlalu lama tinggal di tenda, apalagi di barak yang bercampur dengan orang lain. Sebab, percampuran dengan berbagai macam orang dalam situasi buruk begini tetaplah tidak baik. Anak kehilangan teladan untuk melakukan hal-hal kecil seperti mandi, menyapu lantai, atau membantu ibu.

Oleh karena itu, bagaimana pun terbatasnya, anak harus segera dikembalikan ke “rumahnya”. Yang orangtuanya masih utuh disatukan kembali hanya dengan bapak, ibu, dan kakak-adik. Yang kehilangan semuanya dipulangkan ke saudara terdekat, kakek-nenek, paman-tante, atau kerabat dekat. Adopsi adalah pilihan terakhir. Sebab, yang dibutuhkan anak bukan status orangtua, melainkan kasih-sayang, direngkuh, diselimuti kehangatan. Perasaan terlindung, nyaman, tenang, adalah awal dari beresnya proses pemulihan trauma.

Dan keluarga adalah tempat paling ideal. Melihat bapak kandung sendiri sedikit demi sedikit membersihkan puing-puing rumah, menyerut kayu untuk bakal tiang rumah, menganyam bambu untuk bakal dinding sementara, bagi anak besar sekali pengaruhnya. Teladan ini meyakinkan anak bahwa mereka wajib menatap masa depan dengan semangat. Menemani ibu kandung sendiri memasak di dapur darurat, dengan bahan sayuran seadanya, tungku dari tatanan batu-bata, adalah spirit bagi anak bahwa masih ada makanan yang bisa mengenyangkan dan akhirnya menghidupi.

Dengan teladan nyata tersebut, anak diberi contoh bagaimana mereka menyembuhkan sendiri traumanya. Dengan cara ini pula anak menemukan sosok orangtua mereka yang tegar, yang berani bangkit dari keterpurukan, yang tidak sekadar meratap mengharapkan bantuan dari luar. Di mata anak, teladan ini menjadi bukti bahwa keluarga mereka punya harga diri. Nilai ini sangat penting untuk bekal anak ke depan. Semoga, dengan cara ini, anak menemukan kembali keceriaannya yang terenggut.

Semoga anak-anak korban bencana bertumbuh menjadi generasi yang tangguh, yang pantang menyerah, dan mencintai keluarganya.

Kompas, 8 Agustus 2006

Menyibak Klaten

October 10th, 2006 by kunto

Tentu saja sangat sedih ketika melihat kenyataan bahwa Kota Kecamatan Gantiwarno, Klaten, rata dengan tanah. Pertokoan di sepanjang jalan rubuh hingga ke jalan. Melihat bekasnya, rasanya rumah itu tidak hanya diguncang namun dilontarkan sehingga puing-puingnya menutup jalan selebar enam meter itu. Menengok agak ke dalam, keadaan lebih memprihatinkan. Rumah-rumah di desa-desa tak ada yang utuh.

Hanya terlihat SMP Gantiwarno yang sebagian berdiri tegak. Itu pun, saya sangsi, bangunan itu masih layak digunakan. Di samping sekolah, di tanah lapang, SAR Kabupaten Sragen telah mendirikan tenda militer untuk para korban. Belum padat. Baru beberapa orang terlihat menempatinya, Senin, 29 Mei 2006 sore. Senja sudah menyapa ketika kami hendak meninggalkan kota kecil itu. Pengungsi yang tinggal di tenda-tenda mulai menyalakan teplok dan lampu penerangan seadanya.

Jangan dibayangkan tenda yang mereka pakai selalu besar. Banyak yang kecil, seukuran 5×4 meter saja. Itu pun untuk beberapa kepala keluarga. Dan pastilah, orangtua serta anak-anak yang didahulukan untuk berteduh. Sedang anak muda dan bapak-bapak lebih berperan untuk berjaga-jaga. Pemandangan memilukan menohok di depan mata tatkala dua buah mobil pick-up melintas.

Karena lalu lintas melambat, sontak orang-orang di kanan-kiri jalan menyerbu kendaraan itu dan menguras habis barang-barang yang diangkut di bak. Ada mi instan, ada pula berbagai bungkusan dos lainnya. Sekejap saja, isi bak itu ludes. Jangan pula membayangkan bahwa pelaku “penjarahan” itu anak muda, laki-laki, yang beringas, dan bertampang sangar. Sama sekali tidak. Justru kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu dan bapak-bapak tua. Dengan daster atau berkalung sarung. Bercelana pendek, ada yang tak beralas kaki. Dengan wajah penuh belas kasihan, tentu saja.

Saya duga, wajah itu memperlihatkan tubuh yang kelaparan karena bantuan tak kunjung tiba. Saya juga punya dugaan, perilaku itu lebih merupakan cermin kekhawatiran bahwa mereka bakal tidak kebagian makanan. Rasa cemas yang mendalam. Saya tidak tahu, makanan yang mereka “jarah” itu hendak disimpan di mana mengingat tak satu pun bangunan layak menjadi tempat penyimpanan. Di tenda, mungkin. Namun, bagaimana jika hujan mengingat sore itu mendung menggelayut, dan sejam kemudian hujan deras mengguyur mereka.

Pemilik mobil yang barangnya diserobot tampak tak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak turun dari kemudi. Mungkin takut, mungkin juga pasrah. Namun, sopir mobil belakang turun sambil membentak-bentak, “Sudah-sudah! Yang lain nanti tidak kebagian!” Dan massa pun beringsut mundur. Saya kehilangan kata-kata. Saya tahu mereka kehilangan rumah. Saya paham mereka merasa hampa. Mereka lapar. Bingung. Kalut. Gelisah. Mungkin juga marah. Pada siapa, entah. Mungkin pada diri sendiri. Mungkin pada negara yang tidak becus ini. Mungkin pada Tuhan yang murka.

Belum sirna ketrenyuhan saya, wajah-wajah lain menghadang. Di sepanjang jalan berdiri orang-orang, laki-laki perempuan, tua-muda, menyodorkan kardus atau besek, atau wadah-wadah lain untuk mencari sumbangan dari orang-orang lewat. Banyak sekali! Banyak sekali. Sepanjang jalan. Sepanjang hari!

Wedi relatif utuh

Gereja santa maria jadi posko penampungan mayat

Sekitar candi prambanan rusak, di sepanjang jalan solo

Klaten, 29 Mei 2006

Ibu

October 1st, 2006 by kunto

Semalam aku terhenyak. Tiga sahabat sedang bergulat hati karena satu alasan: ibu. Satu orang ingin lari meninggalkan ibunya. Satu orang hendak merasakan kembali kehangatan ibunya. Satu lagi baru saja melepas hidup ibunya.

Orang pertama, inisial R, tiba-tiba saja marah ketika kutanya hendakkah ia mudik ke Jogja lebaran depan? Tidak, katanya. Tidak pula pada Natal depan. Sudah tidak ada yang menjadi tujuan pulang, katanya. Tentu aku bengong. Ia masih punya ibu, sejak bapaknya mati beberapa tahun lalu. Memang, tak berselang ibunya kawin lagi.

Entah apa yang menyebabkan mereka terbelah. Aku tak berusaha mencari tahu. Biarkan saja ia bicara, andai memang perlu. Dan memang ia bicara, "Sudah lebih dari dua tahun aku tak berkomunikasi dengan ibuku." Lalu, "Aku malas pulang karena tidak mau bertemu dengan orangtuaku sendiri."

Ia marah.

G adalah inisial orang kedua. Ia baru 40 hari didului istrinya menghadap Bapa, demikian ia memanggil Allahnya. Dua putri-putra ditinggalkan istrinya untuk sejak kematian itu ia asuh seorang diri. Usianya 52 tahun, telah menjalani pernikahan 17 tahun. Selama itu pula ia dicoret dari daftar keluarga besarnya, termasuk tidak berkomunikasi dengan ibunya.

Ia Cina, menikah dengan perempuan yang bukan dari sukunya. Tidak kaya pula. Begitu alasan yang dikemukakannya untuk menyebut penyebab pembuangannya. Ia tertunduk mengingat mendiang istrinya, perempuan yang digambarkannya sebagai sosok yang tegar dan berjiwa besar. Perempuan itu mendidik kedua anaknya dengan lembut, sepenuhnya hendak melindungi anak-anak yang tidak diakui neneknya itu.

Yang membuatnya terharu, hari-hari terakhir sebelum ajal menjemput, sang istri berulang kali meminta untuk diantar menemui mama, ibu G. Tetapi G menolak, tanpa menanyakan tujuannya. Ia hanya menebak setelah peristiwa kematian itu, mungkin sang istri hendak berpamit kepada ibu bahwa ia telah selesai menunaikan tugasnya dengan baik.

G memaafkan ibunya.

Sosok ketiga seorang pastor. Penulis ini berinisial S. Ibunya mati setelah dirawat sekira 2 minggu di Jakarta. Hidup ibunya banyak dihabiskan di Jawa Timur. Khusus untuk menjemput maut ibu itu pergi ke Jakarta, berada di tengah banyak anaknya yang berkumpul di ibu kota.

Misa requiem diselenggarakan keesokan sorenya. S sendiri yang memimpin misa bersama 4 konselebran teman seserikatnya. Sepanjang misa, ia banyak melantunkan kidung-kidung rohani yang selalu ia bisikkan ke telinga ibunya semasa dirawat di rumah sakit. Bacaan Injil yang dicukilnya dari Kidung Simeon pun ditembangkannya, dalam bahasa Jawa pula. Ya, ia Cina yang amat mencintai kebudayaan Jawa, sebagaimana ibunya.

S tampak terpukul dengan peristiwa kematian ini, meski dalam kotbahnya ia berusaha menunjukkan ketegaran. Bagaimana tidak, setelah semua saudaranya hidup berkeluarga, praktis ia sendirilah yang masih boleh sepenuhnya dicintai sebagai anak.

Ibu itulah alasan utama dirinya ketika setiap kali ada undangan ke Jawa Timur. Ia selalu berusaha menyanggupi, untuk sekalian menjenguk ibu yang belum menjadi Katolik ketika sekian tahun lalu melepasnya pergi ke seminari.

Devosi S pada Bunda Maria begitu kental. Beberapa buku tentang Maria sudah dikarangnya. Maria adalah ibu sejati yang dirindukannya. Mungkin pada ibunya ia menemukan sosok Maria yang dekat di hatinya.

Natal depan akan menjadi liburan yang hampa baginya. Andai ia tetap pulang kampung seperti biasanya, tidak ada lagi kening ibu yang bisa dikecupnya. Tidak ada lagi lengan renta yang bisa dituntunnya.

Ia kehilangan.

Aku bersyukur masih punya ibu, yang masih boleh kucintai sepenuhnya tanpa syarat apa pun. Ia bahagia hidup di desa, menemani suaminya, bapakku, berkebun. Mereka adalah alasan utamaku setiap kali pulang kampung.

Tempur!

June 24th, 2006 by kunto

Ini kali ketiga aku ke Kupang
Dua kali lalu untuk penulisan buku tentang pengungsi Timor Leste di NTT
membantu JRS

Kini membantu SOS Kinderdorf
juga menyusun buku
tentang anak asuh dan ibu asuh mereka, karya 34 tahun mereka di Indonesia

Ada yang beda di Bandara El Tari kini
3 pesawat tempur disiagakan di sebuah hanggar khusus
dan setiap hari diterbangkan
menjaga perbatasan, katanya

Mestinya
bukan ketakutan yang dipelihara
untuk memulai hidup baru dengan Timor Leste

Yang dibutuhkan adalah rangkulan bersahabat
dari saudara yang pernah tinggal seatap dan selantai
supaya damai ada di mana-mana

Kupang, 19 Juni 2006

Derita di mana-mana

June 24th, 2006 by kunto

Ketika di sana ada pesta
ada seremonia
ada hura-hura
ada tawa

Di sini ada derita
kelaparan
tak ada sisa makanan yang bisa di santap
hanya ada doa
semoga bencana ini lekas bisa diatasi

Sikka-Maumere, 14 Juni 2006

5,9 Skala Richter!

June 6th, 2006 by kunto

Kotaku terguncang. Saudaraku menderita.

Gempa bumi 5,9 skala Richter itu meluluhlantakkan Jogja, Bantul, Sleman, Gunung Kidul, Kulonprogo, Klaten, Boyolali, dan Sukoharjo. Sabtu wage, 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB menjadi waktu yang mencekam. Akan terekam sepanjang hayat.

Aku tidak merasakan 57 detik itu. Tapi aku merasakan detik-demi-detik sesudahnya, yang panjang, mencemaskan, dan gamang. Juga merasakan gairah kerja yang membangkitkan semangat hidup mereka.

Tulisan di bawah ini hanya catatan kecil atas peristiwa sangat besar itu. Tidak komplet. Juga tidak utuh.

Hanya satu tujuanku, membuat catatan. Terlalu besar untuk dilewatkan begitu saja. Aku berharap, catatan ini menginspirasi siapa pun untuk membuat catatan yang lebih dalam dan lengkap.

 

Jogja, 5 Juni 2006

AA Kunto A

Wisata Bencana

June 6th, 2006 by kunto

Ada

pemandangan unik di antara reruntuhan bangunan-bangunan korban gempa bumi. Tiada lain adalah munculnya beraneka tulisan dengan nada kurang lebih sama, “Kami bukan tontotan, kami butuh bantuan.”

Bahkan, seorang teman yang rumahnya roboh sempat menyebarkan sms yang berbunyi, “Tolong sebarkan imbauan: jangan penuhi jalan daerah bencana hanya untuk NONTON, karena hambat distribusi. Sms itu dikirim pada Rabu, 31 Mei 2006, pukul 03.25 WIB. Pagi sekali.

Teman yang tinggal di Ganjuran itu pantas jengkel. Rumahnya ambruk. Ibunya sakit gara-gara tertimpa bagian bangunan. Sementara rerobohan rumahnya sering dijadikan background orang-orang yang hendak berfoto mengabadikan kejadian. Hatinya panas, merasa bahwa orang-orang itu tak punya perasaan sama sekali. Tega-teganya mereka berpose layaknya di studio foto di depan puing-puing rumah itu. Maka, untuk memampat kejengkelannya, ia mendirikan pagar seng di depan reruntuhan rumahnya. Setelah berdiri, ia torehkan tulisan besar-besar berwarna merah, “INI BENCANA, BUKAN PANORAMA”. Tujuannya, katanya, supaya tidak ada lagi orang yang mengambil gambar bekas rumahnya. Padahal ia keliru, dengan tulisan sedemonstratif itu, orang justru memotret semakin sering. Terutama, tulisan itu pasti jadi santapan empuk para wartawan foto. Ah, serba keliru memang.

Memang, peristiwa seperti ini selalu berulang di lokasi bencana di mana pun. Banyak yang berseliweran bukan hendak membantu, tapi sekadar melihat-lihat. Dan mereka tidak selalu masyarakat biasa. Pejabat, artis, atau figur publik lainnya kerap melakukan itu. Pejabat datang diiring kendaraan polisi, sirine meraung-raung, pengawalan sangat ketat, menggelar kegiatan seremonial penyerahan sumbangan, dan sesudahnya pulang. Artis juga begitu, tak sedikit yang mendompleng popularitas. Datang ke lokasi diiringi puluhan wartawan infotainment, diselingi perilaku-perilaku yang cari muka belaka.

Tentang sirine pejabat sungguh menjengkelkan. Di tengah kesusahan, masih saja mereka meminta prioritas jalan, menggusur orang lain, bahkan meminta minggir relawan yang hendak mengirimkan bantuan logistik. Tidak sadarkah mereka suarana sirine yang meraung-raung itu melukai perasaan korban? Tidak tahukah bahwa hari-hari sebelumnya korban dihantui ribuan suara raungan sirine ambulans pemberi pertolongan? Tidak semua orang bisa membedakan mana suara sirine ambulans, mana sirine mobil patroli polisi/dinas perhubungan, dan mana sirine kendaraan iseng. Bagi mereka, semua sama saja. Suara-suara gaduh itu membuat mereka cemas dan gelisah.

Yang menyakitkan, tentu saja, rombongan “wisatawan bencana” itu memacetkan jalanan di daerah bencana pada hari-hari pertama sesudah gempa bumi melanda. Padahal, di hari-hari itu, jalanan –yang rata-rata sempit– sedang dibutuhkan untuk mengevakuasi korban sakit, untuk mendatangkan alat berat guna menggali korban yang masih tertimbun, dan menyalurkan bantuan logistik. Juga menyesaki perasaan keluarga korban yang datang dari luar kota segera ingin mengetahui nasib kerabatnya.

Belajar dari pengalaman bencana di tempat lain, fenomena “wisatawan bencana” ini masih akan berulang. Mereka bisa berkedok relawan sekali pun, yang sibuk ke sana-kemari tapi sejatinya tidak melakukan apa pun. Bisa pula berupa pejabat yang pura-pura meninjau padahal hanya pengen disorot kamera.

Kubertolongtolong

June 6th, 2006 by kunto

Pertolongan itu datang dari tetangga

Secara seadanya

Namun dalam semangat luar biasa

Bantuan dari negara datang sangat lambat

Nyaris tak ada

Itu pun dalam orkestrasi yang gaduh ricuh

Lalu buat apa presiden berpindah kantor ke Jogja?

Darahku merekam siapa yang bisa dipercaya

Tetangga

Bukan negara

Kawan

Bukan negara

Saudara

Bukan negara

Tuhan

Bukan negara