kembali ke jakarta

June 6th, 2007 by kunto

Sudah setahun belakangan saya tidak lagi menjadikan Jakarta sebagai tempat tinggal. Sejak meninggalkan sebuah kantor media yang tidak menghormati karyawannya, Maret 2006, saya mengubah Jakarta sebagai sekadar tempat cari uang. Untuk menulis, berkarya, Jakarta tidak lagi inspiratif. Sebagai ide sih oke, banyak fenomena di Jakarta yang layak tuang di kertas gagasan.

Untuk bekerja, saya kembali menempatkan Jogja sebagai padepokan utama, meski untuk kasus tertentu saya bekerja di kota lain. Jogja adalah sentrum ide. Dari kota sepeda ini, begitu berseliweran pemikiran-pemikiran akan dunia.

Hampir semua orang di Jakarta meniatkan diri mengabdi pada uang. Mencari uang. Memburu uang. Menghabiskan uang. Saya diuntungkan oleh niatan itu. Berarti memang benar, Jakarta saya tempatkan sebagai landasan pacu uang.

Saya kini tahu bagaimana mencari uang di Jakarta. Tidak harus tinggal di Jakarta. Mengapa? Jakarta tidak butuh manusia. Yang dibutuhkan Jakarta adalah mesin produksi uang. Tinggal di Jakarta berarti menyediakan diri menjadi mesin itu.

Benar, ada manusia-manusia yang berani berjarak dengan pemesinan itu. Mereka punya nyali untuk mempertahankan kemanusiaannya. Mereka bekerja sungguh-sungguh untuk mengusahakan kesejahteraan bersama, keadilan, dan tentu saja kemerdekaan dari rasa lapar dan terhimpit. Di luar itu, mereka bekerja karena ketakutan akan dirinya sendiri.

Menjadi penulis tidak harus di Jakarta. Apalagi di zaman internet seperti sekarang. Tempat tidak lagi penting. Karya lebih penting. Menulis bisa di mana pun. Teknologi telah membebaskan kita dari belenggu ruang. Biarlah hasil tulisan itu beredar di Jakarta, karena senyatanya sebagian besar uang memang beredar di sana, dan hasil tulisan itu bekerja untuk kita, sementara kita terus berkarya dalam kesenyapan dan kedalaman rasa.

Sesekali ke Jakarta, meski begitu, baik juga. Ya, setidaknya untuk nge-charge semangat. Mengembalikan semangat trengginas, cekatan, gesit, tangguh, tahan banting, adalah misi utama saya ketika sesekali kembali ke Jakarta. Menikmati kemacetan dan menguji tingkat kesabaran; menggelantung di atas Kopaja dan menyegarkan kepasrahan, memasuki gedung-gedung bertingkat dan menikmati aroma keangkuhan. Melesat di Thamrin, dunia begitu gemerlap. Menyusup di Tambora, betapa hidup penuh nestapa. Istana negara, kabarnya tempat para pejabat negara mengabdi. Mangga besar, senyatanya tempat pada warga negara menggadai bodi.

Dan esok, Kamis, 7 Juni saya kembali ke Jakarta. Hanya sehari. Bukan. Bukan untuk cari uang. Sebab, buku PERANG PANGLIMA yang saya tulis bersama Femi sudah bekerja dengan sangat ahli. Kami tak perlu campuri. Hadir dan berbicara di panggung utama Istora Senayan, bagi saya sekadar reuni belaka. Banyak teman menyanggupkan diri hadir. Untuk pertemuan mewah ini, yang bisa terjadi di tengah kemacetan dan kesemrawutan Jakarta, teman-teman mau berkumpul. Sekadar berbagi suka-cita.

Dan sekadar memanas-manasi: hei kalian, kapan berani mengendalikan Jakarta tanpa perlu tinggal di sini? Hmmm, arogan.

canicula

June 6th, 2007 by kunto

Hujan kerap datang tanpa dinyana beberapa malam belakangan. Hujan di musim canicula. Tak ada yang berharap hujan datang di senja yang keliru. Sebab, matahari sedang hangat menggantang.

Lalu hujan seperti kabar lenyapnya nyawa. Datang tiba-tiba tanpa memberi aba-aba. Malaikat pencabut ruh hanya tahu, mandat itu harus disampaikan. Ditukarnya dengan jiwa. Siap tidak siap. Dan ketika pertukaran itu terjadi, yang ada hanyalah kesepakatan. Tak ada tawar menawar. Seperti hujan, jika sudah dilepaskan dari awan, ia tak dapat dibelokkan.

Usah menggerutu. Biar hujan turun tanpa restu, persilakan dia meliatkan debu. Dia yang empunya hujan jauh lebih paham kenapa hujan diturunkan tidak pada saatnya. Dia punya cara soal waktu.

Jadi, hujan datang tepat waktu. Cara paham kita tentang waktu sajalah yang tidak sanggup menjangkau mengapa hujan datang saat kita terlelap.

untuk dia yang sedang bertransaksi dengan waktu: terimalah hujan mengetuk pintumu, hanya pintumu

negara keblinger

June 4th, 2007 by kunto

Maaf, naskah ini sudah saya kirim ke kompas beberapa waktu lalu. Karena tidak segera dimuat, lebih baik saya muat sendiri:

RAZIA BUKU, WAJAH NEGARA KEBLINGER

OLEH AA KUNTO A

Tidak ada ungkapan lain yang lebih lunak ketimbang judul tulisan ini. Memang, negara ini sudah keblinger. Salah arah, dan membiarkan diri terperosok ke belantara yang menyesatkan. Dan ini terjadi di saat bangsa Indonesia tengah merayakan sembilan tahun bergulirnya reformasi.

Wajah buruk itu terpampang jelas di perhelatan gagah razia buku-buku sejarah yang dinilai tidak mengandung kebenaran sejarah. Kompas (22/5) memberitakan, Kejaksaan Negeri Sleman-lah yang melancarkan razia penarikan buku-buku sejarah SLTP dan SLTA yang tidak memuat istilah PKI di belakang kata G30S dan peristiwa Madiun pada tahun 1948. Dasar hukum mereka adalah surat dari Kejaksaan Agung RI Nomor KEP-019/A/JA/03/2007 dan Instruksi Jaksa Agung RI Nomor INS-003/A/JA/03/2007 tertanggal 5 Maret 2007. Kejaksaan Negeri Sleman menjadi satu mata rantai dari mesin penggilas lain yang telah beroperasi di berbagai daerah.

Buku, khususnya buku sejarah, telah diperlakukan selayaknya pelacur dan penjudi kelas motel melati. Digrebek dan diseret ke tahanan tanpa hak membela diri. Diolok-olok seraya dibungkam. Dirajam, dan dibiarkan bersimbah tanya.

Ironisnya lagi, kegalakan aparat negara ini dipertontonkan di tengah kemandulan negara menghadirkan kebenaran sejarah penculikan aktivis 1996-1998, Tragedi Trisakti-Semanggi, dan kerusuhan Mei 1998. Belum, apalagi, soal ketidakmampuan negara membopong Soeharto ke meja peradilan.

Fakta-fakta tersebut menjadi cermin betapa negara tengah dalam kegalauan akut. Tentang masa lalu tidak belajar, tentang masa depan tak tahu arah. Tarik-menarik seputar usulan meninjau kembali UUD 45 yang telah diubah memperlihatkan soal hilangnya arah yang mestinya ditanam kokoh dalam pondasi dasar tersebut. Di sisi sebelah belakang, seperti disebutkan beberapa di muka, banyak peristiwa besar negeri ini yang belum tuntas diungkap.

Itu yang substansial, menyangkut isi. Negara tampak kedodoran dalam mengelola dirinya. Untuk menutupi kemandulannya, negara melancarkan tindakan-tindakan gagah yang sejatinya gegabah: razia. Gagal membereskan “isi”, negara mengalihkan perhatian pada “cara”.

Razia bukan solusi

Padahal, kita mencatat, razia tidak pernah berhasil sebagai strategi menyelesaikan persoalan. Memberangus, menundukkan, menakut-nakuti memang iya. Itu pun untuk sementara waktu. Mau sebut berapa ribu contoh? Razia minuman kerja, pelacur, perjudian, narkotika, preman, gelandangan, … justru menunjukkan betapa negara ini hobi menggunakan cara-cara barbarian untuk pura-pura membasmi apa yang mereka sebut kuman sosial. Dan razia itu tak pernah menjadi solusi tuntas. Baru sebatas pamer kuasa.

Lha, buku sejarah mau dimasukkan ke dalam kardus keranjang sosial itu? Ya terang keblinger, mbrojol. Pikiran mau diberangus? Kebenaran mau dimutlakkan? Negara gelap mata. Pikiran tak pernah bisa disekap dengan cara-cara main kuasa.

Negara keblinger. Ia melancarkan tindakan yang bertentangan sekaligus: membesarkan sekaligus menyepelekan. Hadirnya buku-buku sejarah yang tidak seversi dengan negara diletakkan sebagai ancaman besar yang membahayakan. Negara ketakutan jika gara-gara buku-buku itu ia tidak lagi dihormati. Negara keder dengan masa lalunya.

Tragisnya, negara memilih cara-cara simplistis untuk mengudari kompleksitas ketakutan itu. Dengan begitu mudah, negara menuding perkara ada di luar dirinya. Dengan serampangan pula negara mendikte rakyatnya agar percaya bahwa biang kericuhan ada pada sesuatu di luar negara. Rakyat dihadapkan vis-à-vis dengan negara, dianggap bodoh pula. Padahal, rakyat tahu, negara nyaris tidak berusaha untuk menyajikan fakta sejarah yang tuntas. Terkhusus tragedi 1965, negara tidak sanggup menyajikan telaah historis yang menjawab bukan saja rasa keadilan, namun lebih-lebih kebenaran.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk mengingatkan negara agar kembali menelusuri jalan yang benar untuk menemukan kebenaran masa lalu. Hadapi karya tulis dengan karya tulis, otak dengan otak. Sebab, negara ini bukan segerombolan preman yang mau adu kuasa, yang segala-galanya mau diselesaikan dengan bahasa kuasa. Kita punya banyak peneliti dan penulis yang bersedia bahu-membahu menelusuri jejak kebenaran negeri ini: asal negara mau jujur dan cerdas.

AA Kunto A,

Penulis buku Perang Panglima: Siapa Mengkhianati Siapa?

wasilah dan ghoyah

June 1st, 2007 by kunto

KH Mustofa Bisri tipikal kebanyakan kyai Nahdlatul Ulama. Santai, dan kerap meningkahi diri dengan lelucon segar yang pasti membuat terpingkal-pingkal siapa pun yang bersamanya.

Demikian pula malam itu. Ia yang akrab disapa sebagai Gus Mus ini diminta untuk memberikan orasi budaya. Sampai dengan duduk di tempat acara, ia mengaku masih kebingungan soal arti "orasi budaya". Kepada Prof Abdul Munir Mulkan, akademisi dari UIN Sunan Kalijaga, yang duduk lesehan di sampingnya, ia menanya soal itu. "Sudah, anggep saja pengajian…," saran Prof Munir. Jadilah, malam itu orasi budaya sebagai pengajian. Dan bincang-bincang soal multikulturalisme menjadi spiritualisme.

Pada pengajiannya kali ini, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin Rembang [www.gusmus.net] mengulas banyak soal wasilah dan ghoyah, tentang kendaraan dan tujuan. "Kalau kita mau ke Jakarta, Jakarta itu ghoyah. Sedangkan bus yang akan kita tumpangi adalah wasilah," cetusnya di awal.

Kemudian ia menjadi lebih serius. Serius pada tujuan, bukan pada gaya. Cara berceritanya tetap saja lucu menohok, membuat pendengarnya tidak sedang mengolok-olok orang lain, melainkan menertawakan diri sendiri.

"Suatu ketika saya berbicara di depan kyai-kyai, ada kyai kota, ada kyai kampung. Kepada mereka saya bertanya, PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) itu wasilah apa ghoyah?" Mereka menjawab dengan lantang, "Wasilah!" "Benar," jawab Gus Mus.

Lalu, putra mendiang KH Bisri Mustofa ini bertanya lagi, "Kalau NU dan Muhammadiyah wasilah atau ghoyah?" Mereka menjawab lagi, "Wasilah." "Tapi kali ini suara mereka lirih. Mereka ragu-ragu. Lalu saya tegaskan, jawaban mereka benar. NU dan Muhammadiyah itu wasilah. Kalau ghoyah, orang NU akan menganggap orang Muhammadiyah kurang Islamnya. Demikian sebaliknya. Kalau wasilah, kita akan menganggap satu sama lain saudara karena ghoyah kita sama."

Gus Mus menaikkan kadar pertanyaannya. "Kalau Islam, Kristen, dan agama-agama lain itu wasilah apa ghoyah?" Sejenak mereka terdiam. Tidak satu pun bersuara. Sebaliknya, mereka membalikkan pertanyaan pada Gus Mus, "Kalau sampeyan?" "Dengan tegas saya jawab ‘wasilah’." Lalu mereka memprotes putra Rembang kelahiran 10 Agustus 1944 ini.

Bagi Gus Mus, ghoyah itu hanya Allah. Semua yang di dunia ini wasilah belaka. Maka, mestinya manusia saling bersaudara. Toh tujuannya sama. Hanya caranya yang berbeda, kendaraan menuju tujuan itu yang lain.

Pengajian yang inspiratif. Allah, asal dan tujuan, alfa dan omega, purwa lan wasana.

membunuh amarah

May 30th, 2007 by kunto

Apakah kita harus marah pada Susilo Bambang Yudhoyono supaya pemerintah segera ambil tindakan untuk menyelamatkan warga Sidoarjo dari gempuran lumpur? Apakah kita harus mencincang Jusuf Kalla supaya ia tidak menelorkan pikiran busuk "ini bencana nasional" sehingga Bakrie terbebas dari tanggung jawab?

Rasanya tidak. Amarah tidak pernah mampu mengusaikan soalan. Hanya akan memompa nada tinggi. Dan lebih lagi, amarah di negeri ini sudah menjelma menjadi secuil kerupuk. Kerupuk, begitu dipelorotkan dari toples, membutuhkan gigi cadas untuk merajangnya. Thas! Kriuk… kriuk…. Tetapi, begitu ia ditelantarkan sebentar di atas mangkuk sayur, ia segera menjadi layu. Mlempem, sebutan wong ndesa katrok

Begitu pula amarah. Satu-dua detik begitu ia melejit dari kerongkongan, berkat dipacu jantung yang berdegup kencang, ia akan menjelma menjadi kata-kata yang amat dahsyat. "Bajingan, kamu!" "Anjing, lo!" "Setan Kebon Kacang!" Sesaat, mantra-mantra itu nyata dahsyatnya. Jika ditanggapi, ia akan makin terbakar. Makin membubung. Making membuih.

Sebaliknya, jika didiamkan, diabaikan, diluwehkan, ia akan mlempem. Layu. Loyo. Lenyap bersama kentut.

Maka, baiklah kita tidak perlu marah pada SBY dan JK jika nyata-nyata mereka telah begitu buta dan tuli pada penderitaan saudara kita di Porong-Sidoarjo. Tidak perlu marah. Sebab, kita justru akan memuruk mlempem jika melampiaskan hasrat dongkol ini. Mereka toh bergeming, mbegegeg, nganyur tanpa kesantunan. Mereka abai pada keterancaman rakyatnya. Mereka hendak membinasakan warganya, dengan membiarkan saudara kita tenggelam oleh lumpur, yang kemarin kita "rayakan" ulang tahun pertamanya.

Tidak. Jangan luapkan amarah itu. Daripada kita mlempem karena dicuekin. Tapi kita tidak boleh diam. Kita harus terus bersuara. Kita harus meminta tanggung jawab negara agar segera menyelamatkan warganya. Jangan biarkan negara menetapkan status "bencana nasional", sebab bencana ini bukan disebabkan oleh alam yang murka, tapi oleh manusia yang goblok dan negara yang lemah. Kita jangan pernah mau menyisihkan sebagian dana APBN untuk menanggulangi bencana, kecuali jika itu untuk menalangi dan kelak ditagihkan kepada manusia-manusia goblok pengeruk harta bumi.

Jangan kita marah. Jalan elegan kiranya lebih sampai kepada tujuan. Terus bersuara, terus mendesak, terus berteriak, sampai mereka yang buta dan tuli itu melihat dan mendengar. Supaya kita tidak kehilangan saudara, yang tenggelam oleh angkara.

kelas akselerasi

May 27th, 2007 by kunto

Setahun sudah gempa itu. Meratakan tanah mereka. Membinasakan mereka. Sekaligus, menegarkan mereka.

Bencana itu telah menjadi kelas pelajaran hidup penting bagi manusia. Untuk mereka menjadi tamak, untuk mereka menjadi nrimo, untuk mereka menjadi hampa, untuk mereka menjadi perkasa.

Alam, kau beri kami pelajaran sungguh amat berharga. Tentang hidup bersama saudara kandungnya: mati. Tentang suka bersama ibu darahnya: duka. Tentang manusia dan pemiliknya.

Tuhan, masihkah kau bersama kami?

pencapaian

May 23rd, 2007 by kunto

Kabar bahagia itu datang dua hari yang lalu. Buku PERANG PANGLIMA: SIAPA MENGKHIANATI SIAPA?[http://www.galangpress.com/detailResensi.php?act=lihat&idNya=194] yang saya tulis bersama Femi Adi Soempeno, diputuskan untuk cetak ulang ketiga. Hmmm…

Sabtu, 24 Maret 2007, masih segar dalam ingatan, kami duduk sepanel dengan Mantan Menteri Pertahanan RI Moh Mahfud MD dan pengamat militer MT Arifin di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saat itu, buku kami diluncurkan secara resmi oleh Galangpress, sebagai penerbit, bekerja sama dengan PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) Universitas Sanata Dharma. Hangat sekali diskusi siang itu. [http://www.usd.ac.id/06/news.php?v=w&a=386&fp=l] Sebuah pengalaman perjalanan yang sangat berkesan, berbicara sebagai penulis buku.

Masih pula melekat kuat dalam ingatan, sebuah pertemuan kecil di Bakul Coffee, Cikini, Jakarta Pusat. Juga pada sebuah Sabtu. Femi tergopoh-gopoh melepaskan diri dari sadel motor ojek, sedang saya berbasuh keringat setelah bermotor menyusuri jalanan ibukota dari Pinangranti, rumah remaja SOS Kinderdorf, tempat saya menginap untuk mengerjakan buku mereka. Di teras belakang, yang tidak berpendingan udara, yang menghadap ke taman, kami duduk berdua. Itu awal dari proyek penulisan buku PERANG PANGLIMA tersebut.

Lalu pada sebuah malam Sabtu, di sebuah rumah belakang Masjid, sebuah Jogja, Femi berbagi kisah kepada umat Katolik yang hadir di perayaan ekaristi mengenang setahun wafat Sang Ayah.[http://femiadi.wordpress.com/] Itu sesi kotbah Romo Baskara T Wardaya, SJ, sejarahwan beken, direktur PUSdEP, penulis banyak buku sejarah dan politik, yang separuh waktu homilinya dibagikan ke Femi. Bukan soal buku ini. Bukan. Ya, pencapaian ini telah saya tempuh bersama seorang sahabat yang tepat.

Buku itu telah membawa kami keliling ke berbagai kota, berbagi ingatan kepada sesama warga bangsa: Jogja, Purwokerto, Semarang, Solo, dan 7 Juni nanti Senayan-Jakarta. Kami telah pula persembahkan buku itu kepada Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka di kediamannya di Keuskupan Purwokerto.

Semoga energi kehidupan ini melimpah kepada banyak orang di sekitar kami, juga kepada Anda. Dengan karya, kami hendak berbagi kebahagiaan…

belajar hidup

May 15th, 2007 by kunto

hidup adalah perjalanan belajar yang tiada usai…

demikianlah

hanya jika dilahirkan bayi belajar menangis

hanya jika diceburkan bocah belajar berenang

hanya jika dikuburkan manusia belajar tentang keterbatasan

itulah kenapa manusia harus tua. supaya yang muda beroleh sela. itulah kenapa jalan kesempatan harus selalu dibuka. supaya ada pertukaran. itulah kenapa bumi harus mengitari matahari. supaya yang usai lelap bangkit berjaga-jaga, lekas bekerja.

perjuangan hidup yang paling berat, kiranya, adalah menaklukkan diri sendiri. melampaui ketakutan diri sendiri. menyingkap kegelapan diri sendiri.

sejarah peradaban manusia sudah membuktikan, hanya para pemberani yang hidupnya melegenda. hanya mereka yang berani melompati api yang boleh mengenal kata "panas". hanya mereka mau menyerahkan hidupnya bagi orang lain yang boleh menghayati makna "cinta". hanya mereka yang mau melangkah maju yang boleh berkenalan dengan semangat "unggul".

untuk dia yang sedang bertransaksi dengan waktu: melangkahlah!

ini mei lagi

May 10th, 2007 by kunto

Ini Mei. Saatnya untuk kembali merenung. Saatnya untuk kembali berbenah.

Sembilan tahun, di Mei yang sama, negeri ini pernah nyaris pecah. Indonesia pernah di ambang punah. Ketika itu ribuan orang terpanggang di sudut-sudut Jakarta. Ratusan mahasiswa jatuh memang digebuki serdadu.

Tentara pernah menjadi begitu beringas di negeri ini. Polisi masih pengecut ketika itu, sebaliknya kini mereka justru makin angkuh.

Kabar tentang pemerkosaan wanita-wanita Cina tak pernah terbuka jelas lembarannya. Kematian mahasiswa-mahasiswa yang dibunuh oleh serdadu juga tak pernah terkupas tuntas misterinya.

Lalu Soeharto dengan seenaknya sendiri turun tahta, dan kemudian mengaku sakit setiap kali dipanggil pimpinan sidang. Meski tak lagi menjadi penguasa, terbukti ia masih begitu perkasa. Jaksa Agung yang baru dilantik kemarin, Hendarman Soepandji, pun buru-buru menghunuskan pedang penolakan ketika beberapa pihak mendesakkan perlunya kasus Soeharto dibuka kembali. Soeharto, menjelang ajalnya, masih tak tersentuh tangan-tangan keadilan.

Berulangkali sesudah itu negeri ini berganti Presiden, dari yang seorang teknokrat, punggawa agama, anak mantan penguasa, hingga satria bersenjata, keadilan tak juga menyata. Rakyat semakin miskin, korupsi makin merajalela, negara makin tak berdaya. Fakta-fakta gelap Mei 1998 tak juga melipir ke ujung terang.

Tapi kita tidak boleh mati muda. Sebelum tabir-tabir itu tersingkap, kita harus terus berusaha. Keadilan adalah hak kita. Kesejahteraan juga hak kita.

Kita punya kewajiban bekerja keras untuk menggapai hak-hak itu. Salah satu kerja keras itu berupa kesediaan untuk merawat ingatan, menghalau lupa.

Mei kali ini menjadi saat yang tepat bagi kita untuk menyegarkan kembali ingatan akan tujuan perubahan, untuk pekerjaan memperbaiki nasib bangsa.

Memperingati Mei, menghormati korban-korban anarki. Merayakan Mei, menghormati pekik reformasi. Membungkus Mei, menyatukan harapan demokrasi.

hilang, menghilang, kehilangan

April 16th, 2007 by kunto

Dengan sengaja saya menghilang. Bukan bersembunyi. Menghilang. Ya, menghilang dari papan blog ini. Membiarkan blog ini terisi dengan posting lama, tahun lalu.

Memang, rasanya ada yang hilang. Bagaimana tidak, papan ini adalah media untuk berinteraksi dengan banyak orang di entah di mana. Menghilang berartikah tidak berinteraksi?

Tidak. Saya tetap berinteraksi dengan banyak orang. Hanya caranya yang beda. Muka berhadapan muka. Tangan berjabatan. Mata bertatapan.

Memang, ada rasa kehilangan. Apalagi alamat weblog ini saya cantumkan di buku-buku karangan saya. Pasti mereka kecelik saat berkunjung ternyata rumput telah meninggi di halaman tanda tak pernah dipotongi, ternyata lamat telah hangat menjadi sarang laba-laba, ketika hanya kelelawar yang sanggup menyusup di antara bebongkahan.

Namun, merasakan kehilangan dengan sadar sungguh nikmat. Dalam bahasa Ignatian, bersikap lepas bebas, tidak lekat terhadap sarana. Saya hidup dengan bejibun sarana kerja, saya kerja dengan begitu melimpah fasilitas hidup. Toh bagaimana pun semua itu hanya sarana, bukan tujuan hidup.

Maka, ketika sarana weblog ini saya tinggalkan sejenak waktu, ternyata saya tetap bisa bekerja, juga bisa berinteraksi. Dan ternyata, setelah saya kembali, rasa kehilangan itu telah hilang. Ternyata, tidak ada yang hilang. Saya juga tidak kehilangan apa pun. Saya hanya menghilang. Dan kini kembali.