kembali ke jakarta
June 6th, 2007 by kuntoSudah setahun belakangan saya tidak lagi menjadikan Jakarta sebagai tempat tinggal. Sejak meninggalkan sebuah kantor media yang tidak menghormati karyawannya, Maret 2006, saya mengubah Jakarta sebagai sekadar tempat cari uang. Untuk menulis, berkarya, Jakarta tidak lagi inspiratif. Sebagai ide sih oke, banyak fenomena di Jakarta yang layak tuang di kertas gagasan.
Untuk bekerja, saya kembali menempatkan Jogja sebagai padepokan utama, meski untuk kasus tertentu saya bekerja di kota lain. Jogja adalah sentrum ide. Dari kota sepeda ini, begitu berseliweran pemikiran-pemikiran akan dunia.
Hampir semua orang di Jakarta meniatkan diri mengabdi pada uang. Mencari uang. Memburu uang. Menghabiskan uang. Saya diuntungkan oleh niatan itu. Berarti memang benar, Jakarta saya tempatkan sebagai landasan pacu uang.
Saya kini tahu bagaimana mencari uang di Jakarta. Tidak harus tinggal di Jakarta. Mengapa? Jakarta tidak butuh manusia. Yang dibutuhkan Jakarta adalah mesin produksi uang. Tinggal di Jakarta berarti menyediakan diri menjadi mesin itu.
Benar, ada manusia-manusia yang berani berjarak dengan pemesinan itu. Mereka punya nyali untuk mempertahankan kemanusiaannya. Mereka bekerja sungguh-sungguh untuk mengusahakan kesejahteraan bersama, keadilan, dan tentu saja kemerdekaan dari rasa lapar dan terhimpit. Di luar itu, mereka bekerja karena ketakutan akan dirinya sendiri.
Menjadi penulis tidak harus di Jakarta. Apalagi di zaman internet seperti sekarang. Tempat tidak lagi penting. Karya lebih penting. Menulis bisa di mana pun. Teknologi telah membebaskan kita dari belenggu ruang. Biarlah hasil tulisan itu beredar di Jakarta, karena senyatanya sebagian besar uang memang beredar di sana, dan hasil tulisan itu bekerja untuk kita, sementara kita terus berkarya dalam kesenyapan dan kedalaman rasa.
Sesekali ke Jakarta, meski begitu, baik juga. Ya, setidaknya untuk nge-charge semangat. Mengembalikan semangat trengginas, cekatan, gesit, tangguh, tahan banting, adalah misi utama saya ketika sesekali kembali ke Jakarta. Menikmati kemacetan dan menguji tingkat kesabaran; menggelantung di atas Kopaja dan menyegarkan kepasrahan, memasuki gedung-gedung bertingkat dan menikmati aroma keangkuhan. Melesat di Thamrin, dunia begitu gemerlap. Menyusup di Tambora, betapa hidup penuh nestapa. Istana negara, kabarnya tempat para pejabat negara mengabdi. Mangga besar, senyatanya tempat pada warga negara menggadai bodi.
Dan esok, Kamis, 7 Juni saya kembali ke Jakarta. Hanya sehari. Bukan. Bukan untuk cari uang. Sebab, buku PERANG PANGLIMA yang saya tulis bersama Femi sudah bekerja dengan sangat ahli. Kami tak perlu campuri. Hadir dan berbicara di panggung utama Istora Senayan, bagi saya sekadar reuni belaka. Banyak teman menyanggupkan diri hadir. Untuk pertemuan mewah ini, yang bisa terjadi di tengah kemacetan dan kesemrawutan Jakarta, teman-teman mau berkumpul. Sekadar berbagi suka-cita.
Dan sekadar memanas-manasi: hei kalian, kapan berani mengendalikan Jakarta tanpa perlu tinggal di sini? Hmmm, arogan.