kembali tidak merdeka!

Sontoloyo benar bangsa ini! Tak jemunya memuja pesta di tengah telaga asat. Mereka pikir, pesta bisa menghapus nestapa? Mereka pikir, pesta satu induk dengan kata merdeka?

Angka 62 menghias pagar desa. Dengan bendera merah-putih di setiap ujung lurung, warga desa hendak menegaskan nasionalismenya. Dengan umbul-umbul aneka warna, warga desa hendak mengibarkan tanda kesetiaannya kepada nusa dan bangsa. Dengan gapura, warga desa hendak turut bangga dengan kemegahan negaranya.

Lalu ada pawai sepeda hias menyusur persawahan. Seluruh kepala terlibat serta, dengan ukiran kertas aneka rupa. Semua larut dalam genjotan perjuangan, begitu bunyi omong kosong itu. Serasa pasukan gerilya di zaman prakemerdekaan.

Sehari sesudahnya, di malam libur, panggung hiburan pun dimegahkan. Para jawara lomba ditahbiskan dengan pekik bangga. Joget lentur pun dialunkan dengan gemulai. Seremonia ala kampung mereka.

Kini pesta sudah usai. Ingar-bingar sudah dikembalikan ke persewaan tenda. Piring kotor pun sudah dicuci, meski meninggalkan bau nasi rames dan sambel pete. Kembalilah mereka ke kasunyatan sejati: negeri ini jauh dari merdeka.

Kemerdekaan negeri ini hanya berlangsung sehari saja. Sisanya, kesengsaraan. Pekik merdeka hanya nyaring di lapangan upacara bendera. Pasukan Pengibar Bendera hanya berbaris patuh di depan istana. Lagu kebangsaan hanya berkumandang di lomba panjat pinang.

Selebihnya? Pekik merdeka sumbang melengking dalam vandalisme fasilitas publik, dalam penggarongan uang rakyat, dalam penzinahan janji demokrasi. Anak-anak SMA yang gagah berbaris laksana hulubalang Majapahit itu pun akan kembali pening berhadapan dengan mahalnya biaya pendidikan, suramnya masa depan, dan langkah gontai bangsa yang frustrasi. Popularitas lagu kebangsaan pun akan sekilat lenyap bersamaan dengan gemuruh gelombang lagu-lagu pop cengeng.

Maka, sudahlah. Kita sudah merdeka sehari kemarin. Kini, kita kembali tidak merdeka. Lupakan pesta sia-sia itu. Kembali ayun cangkul, putar otak, untuk memperjuangkan kemerdekaan sejati: bebas dari ketakutan dan ketidakadilan.

Turunkan panggung fantasi itu. Loroti gapura mimpi itu. Lipat bendera-bendera kebanggaan semu itu.

Kita gelar tikar pandan saja. Tanpa gapura, tanpa tiang pusaka. Kita bekerja. Ya, bekerja menyingkirkan ketakutan dan kemelaratan akut ini. Dengan atau tanpa partai. Dengan atau tanpa presiden. Dengan atau tanpa upacara. Kita rayakan kehidupan secara lebih nyata.

Selamat bekerja di negeri yang belum merdeka!

Leave a Reply