Archive for August, 2007

vip

Wednesday, August 29th, 2007

Pesawat sudah bersiap menuju run way. Orang-orang itu masih saja sibuk ber-sms. Atau, kalau tidak, teriak-teriak ke orang di seberang, entah minta dijemput tepat waktu, entah meninggalkan pesan bisnis, atau sekadar mengabari bahwa pesawat segera tinggal landas.

Saat mendarat demikian pula. Pesawat belum lagi berhenti sempurna, bunyi ponsel sudah bersahutan. Ada yang memastikan bahwa penjemput berada pada posisi yang diinginkan, ada yang memastikan pada orang yang ditinggal bahwa dirinya sudah sampai, ada pula yang sekadar mengetahui adakah pesan offline yang masuk ke selularnya.

Permintaan pramugari agar menyalakan ponsel setelah meninggalkan pesawat tiada digubris.

Soalnya bukan keselamatan, tetapi rasa hormat. Rasa menghargai.

Ini juga sering terjadi pada forum-forum publik seperti seminar. Duh, susahnya mematikan ponsel meski moderator sudah menyampaikan aturan main forum.

Orang-orang penting! Ya, mereka orang paling penting di negeri ini. Setidaknya, orang yang ingin diakui sebagai orang penting. Yah, selamat jadi orang penting deh… Halo… halo… aku wis landing lho… Kentul-kentul runway-ne. Pethuk nak destination gate yo. Jo lali… selak ngelih je…

display

Monday, August 27th, 2007

Menyempatkan diri mampir ke Gramedia Matraman. Renovasi belum paripurna. Masih ada debu merangkak di antara hembusan pendingin udara.

Luar biasa. Beda sekali penampilan toko buku beromzet paling besar di tanah air ini dibandingkan dengan sebelumnya. Mirip mall. Dan hampir semuanya berubah.

Perubahan paling mencolok ada pada display buku. Raknya gede-gede, kayak rak beras kalau di minimarket. Jadi, buku-buku yang dipajang tampak sangat mencolok. Dari kejauhan tampak begitu jelas buku apa saja yang dipampang. Tidak perlu jongkok untuk melihat buku di rak paling bawah.

Tak heran, malam kemarin, toko ini begitu menuai pengunjung. Kini tak perlu lagi berdesakan untuk berbelanja. Tempatnya begitu lega.

Dengan display yang baru, peluang penulis agar buku karyanya dipajang di podium utama begitu besar. Maka, tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk menunda menulis. Semua orang kini bisa menulis. Dan pasarnya begitu besar. Tak akan cukup waktu sehari untuk berburu di toko yang paling tersohor ini.

Hanya satu kekurangan mencoloknya: satpam terlalu ramah. Saya percaya, tujuan perusahaan baik, yakni agar pengunjung merasakan kehangatan sentuhan petugas secara lebih personal. Sayangnya itu tidak terjadi. Satpam menyapa setiap pengunjung secara berlebihan. Terasa sekali basa-basi. Maklum standard operation procedur (SOP)-nya. Keluar dari cangkem,  belum keluar dari hati.

optimis

Friday, August 24th, 2007

Seorang kakak kelas melontarkan gugatan setelah membaca blog ini:

Di,
Sore ini aku rodo longgar dari ke-rutin-an di tanah sebrang.
Kubuka milis tercinta dan kubuka satu-2nya blog yang kekenal..tapi..
Kenapa suaramu merintih penuh kecemasan..penuh ke-pesimisan..
Bukan-kah paling tidak kita masih punya HUT Kemerdekaan yang bisa dirayakan dengan kebanggaan, sebagai mana bangganya para pemakai Peci Kuning berlambang Veteran RI..biarpun harus berebutan berdesakkan memasuki pelataran Istana Merdeka untuk menyambut hari yang mereka ciptakan itu…
Jangan terlalu pesimis adi-ku, jangan sesalkan siapapun, bukan-kah tugas kita bersama untuk membenahi negeri ini tanpa harus pesimis..kasihan mereka yang sudah bangga berpeci Kuning …terus mengepal dengan berani dan bangga sebagi putra utama Indonesia..
GBU

Boleh. Saya terima komentar itu. Terima kasih Kangmas.

Saya tidak membela diri. Setiap kepala punya kemerdekaan untuk berpendapat. Juga bersikap. Maka, sudah semestinya dua kepala itu bertemu. Bukan beradu, tetapi berpadu. Bukan bersatu.

maya

Thursday, August 23rd, 2007

Ketiadaan telah menjadi kenyataan. Manusia semakin mudah percaya pada sesuatu yang tidak pernah jelas keberadaannya. Manusia telah pula gampak digoyak oleh kenyataan yang tidak ada.

Manusia modern menyebutnya dunia maya. Tanpa tatap muka, tanpa sentuhan. Tanpa wujud, hanya ada bayang-bayang. Tanpa kehadiran, namun dengan perpisahan.

Dunia maya, dunia tanpa bentuk yang nyata. SMS, email, mailinglist, blog, dan web adalah beberapa contoh kemayaan yang nyata itu. Lalu, manusia bisa terhubung ke belahan dunia yang lain dalam waktu yang begitu cepat. Manusia bisa begitu akrab dengan teman barunya hanya dengan kata-kata, atau bertatap sepotong foto. Jarak telah ditiadakan. Semua terasa begitu dekat, yang kadang-kadang memang sungguh seperti dekat.

Kehangatan pun tak memerlukan pelukan untuk menggetarkan. Keromantisan juga tidak memerlukan belaian untuk mendidihkan gairah. Hmmm, bahkan kemarahan pun tak memerlukan pelototan atau tonjokan.

Dunia maya adalah dunia tanda. Tanda hanyalah wakil, hanya silih, simbol akan.

Malapetaka besar ketika tanda dipuja. Dan kini sudah terjadi. Manusia-manusia terkesima pada tanda. Dunia maya telah begitu nyata bagi mereka.

Haha, kecanggihan teknologi melahirkan manusia berwajah ganda: tampak maju, sekaligus bego. Terampil berselancar, sekaligus melorot nalarnya.

Maka, marilah kita merayakan kesuksesan dunia maya menjungkalkan kemanusiaan kita. Dengan sukacita kita olok-olok mereka yang gampang termakan muslihat maya, eh kelabuh dunia maya hahahahaha….

kembali tidak merdeka!

Monday, August 20th, 2007

Sontoloyo benar bangsa ini! Tak jemunya memuja pesta di tengah telaga asat. Mereka pikir, pesta bisa menghapus nestapa? Mereka pikir, pesta satu induk dengan kata merdeka?

Angka 62 menghias pagar desa. Dengan bendera merah-putih di setiap ujung lurung, warga desa hendak menegaskan nasionalismenya. Dengan umbul-umbul aneka warna, warga desa hendak mengibarkan tanda kesetiaannya kepada nusa dan bangsa. Dengan gapura, warga desa hendak turut bangga dengan kemegahan negaranya.

Lalu ada pawai sepeda hias menyusur persawahan. Seluruh kepala terlibat serta, dengan ukiran kertas aneka rupa. Semua larut dalam genjotan perjuangan, begitu bunyi omong kosong itu. Serasa pasukan gerilya di zaman prakemerdekaan.

Sehari sesudahnya, di malam libur, panggung hiburan pun dimegahkan. Para jawara lomba ditahbiskan dengan pekik bangga. Joget lentur pun dialunkan dengan gemulai. Seremonia ala kampung mereka.

Kini pesta sudah usai. Ingar-bingar sudah dikembalikan ke persewaan tenda. Piring kotor pun sudah dicuci, meski meninggalkan bau nasi rames dan sambel pete. Kembalilah mereka ke kasunyatan sejati: negeri ini jauh dari merdeka.

Kemerdekaan negeri ini hanya berlangsung sehari saja. Sisanya, kesengsaraan. Pekik merdeka hanya nyaring di lapangan upacara bendera. Pasukan Pengibar Bendera hanya berbaris patuh di depan istana. Lagu kebangsaan hanya berkumandang di lomba panjat pinang.

Selebihnya? Pekik merdeka sumbang melengking dalam vandalisme fasilitas publik, dalam penggarongan uang rakyat, dalam penzinahan janji demokrasi. Anak-anak SMA yang gagah berbaris laksana hulubalang Majapahit itu pun akan kembali pening berhadapan dengan mahalnya biaya pendidikan, suramnya masa depan, dan langkah gontai bangsa yang frustrasi. Popularitas lagu kebangsaan pun akan sekilat lenyap bersamaan dengan gemuruh gelombang lagu-lagu pop cengeng.

Maka, sudahlah. Kita sudah merdeka sehari kemarin. Kini, kita kembali tidak merdeka. Lupakan pesta sia-sia itu. Kembali ayun cangkul, putar otak, untuk memperjuangkan kemerdekaan sejati: bebas dari ketakutan dan ketidakadilan.

Turunkan panggung fantasi itu. Loroti gapura mimpi itu. Lipat bendera-bendera kebanggaan semu itu.

Kita gelar tikar pandan saja. Tanpa gapura, tanpa tiang pusaka. Kita bekerja. Ya, bekerja menyingkirkan ketakutan dan kemelaratan akut ini. Dengan atau tanpa partai. Dengan atau tanpa presiden. Dengan atau tanpa upacara. Kita rayakan kehidupan secara lebih nyata.

Selamat bekerja di negeri yang belum merdeka!