sang gembala
Senja menunggu pembaringan. Matahari sebentar lagi menjelma menjadi keheningan. Sinarnya dibagi untuk mereka yang menanti fajar. Kehangatan telah diseberangkan.
Sekawanan domba beriring meninggalkan tanah lapang. Seperti sore-sore sebelumnya, dalam hapalan mereka, menjelang petang, kaki mereka spontan melangkah menuju kandang. Langkah kenyang, sesiang rerumputan mereka kunyah segar-segar. Bahagia paras mereka, seperti hendak menjemput bidadari di peraduan.
Sang gembala terbaring di bawah pohon kelengkeng. Mungkin ia lelah, seharian sudah menggiring kawanan. Mungkin juga ia pasrah, toh domba tak bakal mengkhianatinya. Mungkin juga ia lengah, menganggap domba kawanan yang patuh.
Domba-domba tiada peduli akan sikap sang gembala. Sore-sore yang berlalu telah mengajari mereka pulang tanpa dituntun. Mereka telah menjadi domba yang mandiri, melangkah tegak tanpa dihentak tongkat komando.
Kali ini, kepulangan itu berujung pada kehilangan. Sang gembala yang mereka tinggalkan di pinggir tanah lapang tak bakal pernah menyusul.
Istri sang gembala curiga. Domba-domba itu pulang tanpa diiring siulan sang gembala. Ditelusurinya jejak langkah gembala itu. Sang istri menjumpai suaminya berbaring di atas rumput. Tidur nyenyak, pikirnya.
Nyatanya tidak. Sang gembala telah berpulang. Tidurnya tak lagi seperti malam-malam saat mereka berpelukan di atas ranjang. Tidur itu kini telah menjadi sangat panjang. Tiada berujung. Tiada berikat. Napasnya melesat bersama semburat jingga. Bersama Sang Khalik napas itu bersetubuh. Ia pergi dalam tangis kekagetan.
Toh, domba-domba itu tidak tahu. Esok pagi, pintu kandangnya tak akan lagi dibuka sang gembala. Jika mereka mengembik, tak ada lagi tongkat yang bakal mengantar mereka ke padang rumput.
Sang gembala sudah beristirahat di liang lahat, siang tadi. Ini akan menjadi malam pertamanya bersama Esa, sang gembala utama.
Untuk Pak Adi, tetangga di kampung, yang wafat dalam "dinas kegembalaan", selamat pulang. Selamat bertemu dengan gembala hidupmu.