pensiun
Sudah saatnya semua perjalanan diakhiri. Pengabdian itu tuntas sudah. Menjadi pegawai di sebuah instansi. Berpuluh tahun lamanya menyediakan diri bagi sesama yang sakit dan menderita. Tidak sekadar meminumkan obat, namun lebih-lebih menyuntikkan semangat.
Berkat tangannya, ribuan orang telah diringankan rasa sakitnya. Berkat rasa cintanya, ribuan orang percaya akan kesembuhan.
Darah dan air mata senantiasa bersamanya. Luka dan kematian juga sahabat-sahabat karibnya. Luka-luka itu dibersihkannya, diberinya penawar. Diajaknya pula orang sakit itu berbicara.
Puluhan tahun ia menyediakan diri menemani korban-korban yang tak dapat menolong dirinya sendiri. Karenanya, ia mengenal betul bagaimana maut menghampiri pasien-pasien.
Pagi sekali ia berangkat hingga hari menjelang sore. Tulang patah dikembalikannya seperti semula. Erangan sakit dihiburnya.
Kerap pula ia masuk siang dan pulang saat larut malam. Juga demi kesembuhan mereka.
Masuk malam dan pulang pagi hari juga rutinitas yang pernah menyita waktunya. Orang yang datang karena sesak napas atau serangan jantung, pada malam itu dibantunya meraih kelegaan.
Berjumpa dengan orang sakit, setiap hari, sejak 1971, mengantarnya kepada kearifan: berjaga-jagalah siapa saja yang sakit, sebab Allah bisa dengan seketika mencabut mandat sehatnya untuk kita.
Kini, perjalanan itu berakhir sudah. Sebagai karyawan, hak dan kewajibannya purna. Namun, sebagai manusia, tangannya tak pernah berhenti bekerja. Dan memang tak boleh bekerja, sebelum si empunya hidup mencabut mandat.
Kami bahagia pernah dibesarkan oleh tangan hangat itu…
untuk Ibu yang kini telah pensiun, dan Bapak yang sejak tahun lalu tak lagi berstatus sebagai PNS. Terima kasih.
November 5th, 2007 at 7:45 pm
Salam untuk Bpak & Ibu. Selamat menikmati hari-hari dengan santai untuk bapak & ibu, ya Kun. Semoga selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan.