matahari
Pada pagi, matahari menandai dimulainya hari. Pada petang, ia menandai diakhirinya hari. Jika pagi, ia disebut terbit. Jika petang, ia disebut terbenam. Jika tengah hari, ia disebut terik. Jika malam… tak ada sebutan untuknya.
Apakah karena malam tak ada matahari hingga ia tak bernama?
Tentu tidak. Matahari bersinar sepanjang masa. Tak pernah tenggelam. Terbit dan terbenam hanyalah bahasa manusia; manusia yang terbatas dalam kata-kata. Sejatinya matahari tak pernah tenggelam. Hanya saja, manusialah yang tidak mampu menjangkau kehidupan matahari sesudah ia tenggelam.
Matahari juga tak pernah bersinar lantaran diminta. Ia selalu hadir pada waktunya, kepada setiap manusia. Matahari tak pernah membagi sinarnya. Juga kepada mereka yang tinggal di gubuk reot pinggir ciliwung, yang gelap adalah baju mereka, matahari memberikan dirinya secara cuma-cuma. Ia pun tak menarik bayaran andai sorot cahayanya menimpa tengkuk bos-bos negara papan atas.
Juga pada waktu malam. Meski tak memberi panas, ia menyisakan kehangatan pada malam. Ia mempersiapkan diri untuk menuntaskan kehangatannya di esok hari.
Sinar matahari melesat adil kepada setiap makhluk. Semua mendapatkan sesuai proporsinya. Tidak berlebih, tidak kurang.
Matahari adalah simbol kebahagiaan bagi semua makhluk. Kehadirannya setiap pagi selalu dinanti. Kepulangannya setiap petang juga dirayakan. Panas dan dingin adalah dua menu utama pesta matahari.
Maka, kini, ketika hujan masih juga kerap mengguyur, sejatinya para makhluk sudah merindukan matahari. Merindukan kehangatannya. Matahari menjadi penawar dahaga bagi mereka yang terbenam.
June 14th, 2007 at 8:07 pm
Rembulan adalah kata lain dari matahari, yang hidupnya mengganti hidup yang satunya. Saat matahari terbenan dan tak bernama, rembulan memberi nama lain dari matahari dan kehidupan lain karena sejatinya cahaya yang dikeluarkan oleh rembulan adalah pantulan cahaya matahari… (tidurlah bersama rembulan dan bangunlah bersama matahari, satu kata, satu arti, satu napas).