Archive for June, 2007

sang gembala

Friday, June 22nd, 2007

Senja menunggu pembaringan. Matahari sebentar lagi menjelma menjadi keheningan. Sinarnya dibagi untuk mereka yang menanti fajar. Kehangatan telah diseberangkan.

Sekawanan domba beriring meninggalkan tanah lapang. Seperti sore-sore sebelumnya, dalam hapalan mereka, menjelang petang, kaki mereka spontan melangkah menuju kandang. Langkah kenyang, sesiang rerumputan mereka kunyah segar-segar. Bahagia paras mereka, seperti hendak menjemput bidadari di peraduan.

Sang gembala terbaring di bawah pohon kelengkeng. Mungkin ia lelah, seharian sudah menggiring kawanan. Mungkin juga ia pasrah, toh domba tak bakal mengkhianatinya. Mungkin juga ia lengah, menganggap domba kawanan yang patuh.

Domba-domba tiada peduli akan sikap sang gembala. Sore-sore yang berlalu telah mengajari mereka pulang tanpa dituntun. Mereka telah menjadi domba yang mandiri, melangkah tegak tanpa dihentak tongkat komando.

Kali ini, kepulangan itu berujung pada kehilangan. Sang gembala yang mereka tinggalkan di pinggir tanah lapang tak bakal pernah menyusul.

Istri sang gembala curiga. Domba-domba itu pulang tanpa diiring siulan sang gembala. Ditelusurinya jejak langkah gembala itu. Sang istri menjumpai suaminya berbaring di atas rumput. Tidur nyenyak, pikirnya.

Nyatanya tidak. Sang gembala telah berpulang. Tidurnya tak lagi seperti malam-malam saat mereka berpelukan di atas ranjang. Tidur itu kini telah menjadi sangat panjang. Tiada berujung. Tiada berikat. Napasnya melesat bersama semburat jingga. Bersama Sang Khalik napas itu bersetubuh. Ia pergi dalam tangis kekagetan.

Toh, domba-domba itu tidak tahu. Esok pagi, pintu kandangnya tak akan lagi dibuka sang gembala. Jika mereka mengembik, tak ada lagi tongkat yang bakal mengantar mereka ke padang rumput.

Sang gembala sudah beristirahat di liang lahat, siang tadi. Ini akan menjadi malam pertamanya bersama Esa, sang gembala utama.

Untuk Pak Adi, tetangga di kampung, yang wafat dalam "dinas kegembalaan", selamat pulang. Selamat bertemu dengan gembala hidupmu.

matahari

Thursday, June 14th, 2007

Pada pagi, matahari menandai dimulainya hari. Pada petang, ia menandai diakhirinya hari. Jika pagi, ia disebut terbit. Jika petang, ia disebut terbenam. Jika tengah hari, ia disebut terik. Jika malam… tak ada sebutan untuknya.

Apakah karena malam tak ada matahari hingga ia tak bernama?

Tentu tidak. Matahari bersinar sepanjang masa. Tak pernah tenggelam. Terbit dan terbenam hanyalah bahasa manusia; manusia yang terbatas dalam kata-kata. Sejatinya matahari tak pernah tenggelam. Hanya saja, manusialah yang tidak mampu menjangkau kehidupan matahari sesudah ia tenggelam.

Matahari juga tak pernah bersinar lantaran diminta. Ia selalu hadir pada waktunya, kepada setiap manusia. Matahari tak pernah membagi sinarnya. Juga kepada mereka yang tinggal di gubuk reot pinggir ciliwung, yang gelap adalah baju mereka, matahari memberikan dirinya secara cuma-cuma. Ia pun tak menarik bayaran andai sorot cahayanya menimpa tengkuk bos-bos negara papan atas.

Juga pada waktu malam. Meski tak memberi panas, ia menyisakan kehangatan pada malam. Ia mempersiapkan diri untuk menuntaskan kehangatannya di esok hari.

Sinar matahari melesat adil kepada setiap makhluk. Semua mendapatkan sesuai proporsinya. Tidak berlebih, tidak kurang.

Matahari adalah simbol kebahagiaan bagi semua makhluk. Kehadirannya setiap pagi selalu dinanti. Kepulangannya setiap petang juga dirayakan. Panas dan dingin adalah dua menu utama pesta matahari.

Maka, kini, ketika hujan masih juga kerap mengguyur, sejatinya para makhluk sudah merindukan matahari. Merindukan kehangatannya. Matahari menjadi penawar dahaga bagi mereka yang terbenam.

pensiun

Tuesday, June 12th, 2007

Sudah saatnya semua perjalanan diakhiri. Pengabdian itu tuntas sudah. Menjadi pegawai di sebuah instansi. Berpuluh tahun lamanya menyediakan diri bagi sesama yang sakit dan menderita. Tidak sekadar meminumkan obat, namun lebih-lebih menyuntikkan semangat.

Berkat tangannya, ribuan orang telah diringankan rasa sakitnya. Berkat rasa cintanya, ribuan orang percaya akan kesembuhan.

Darah dan air mata senantiasa bersamanya. Luka dan kematian juga sahabat-sahabat karibnya. Luka-luka itu dibersihkannya, diberinya penawar. Diajaknya pula orang sakit itu berbicara.

Puluhan tahun ia menyediakan diri menemani korban-korban yang tak dapat menolong dirinya sendiri. Karenanya, ia mengenal betul bagaimana maut menghampiri pasien-pasien.

Pagi sekali ia berangkat hingga hari menjelang sore. Tulang patah dikembalikannya seperti semula. Erangan sakit dihiburnya.

Kerap pula ia masuk siang dan pulang saat larut malam. Juga demi kesembuhan mereka.

Masuk malam dan pulang pagi hari juga rutinitas yang pernah menyita waktunya. Orang yang datang karena sesak napas atau serangan jantung, pada malam itu dibantunya meraih kelegaan.

Berjumpa dengan orang sakit, setiap hari, sejak 1971, mengantarnya kepada kearifan: berjaga-jagalah siapa saja yang sakit, sebab Allah bisa dengan seketika mencabut mandat sehatnya untuk kita.

Kini, perjalanan itu berakhir sudah. Sebagai karyawan, hak dan kewajibannya purna. Namun, sebagai manusia, tangannya tak pernah berhenti bekerja. Dan memang tak boleh bekerja, sebelum si empunya hidup mencabut mandat.

Kami bahagia pernah dibesarkan oleh tangan hangat itu…

untuk Ibu yang kini telah pensiun, dan Bapak yang sejak tahun lalu tak lagi berstatus sebagai PNS. Terima kasih.

kembali ke jakarta

Wednesday, June 6th, 2007

Sudah setahun belakangan saya tidak lagi menjadikan Jakarta sebagai tempat tinggal. Sejak meninggalkan sebuah kantor media yang tidak menghormati karyawannya, Maret 2006, saya mengubah Jakarta sebagai sekadar tempat cari uang. Untuk menulis, berkarya, Jakarta tidak lagi inspiratif. Sebagai ide sih oke, banyak fenomena di Jakarta yang layak tuang di kertas gagasan.

Untuk bekerja, saya kembali menempatkan Jogja sebagai padepokan utama, meski untuk kasus tertentu saya bekerja di kota lain. Jogja adalah sentrum ide. Dari kota sepeda ini, begitu berseliweran pemikiran-pemikiran akan dunia.

Hampir semua orang di Jakarta meniatkan diri mengabdi pada uang. Mencari uang. Memburu uang. Menghabiskan uang. Saya diuntungkan oleh niatan itu. Berarti memang benar, Jakarta saya tempatkan sebagai landasan pacu uang.

Saya kini tahu bagaimana mencari uang di Jakarta. Tidak harus tinggal di Jakarta. Mengapa? Jakarta tidak butuh manusia. Yang dibutuhkan Jakarta adalah mesin produksi uang. Tinggal di Jakarta berarti menyediakan diri menjadi mesin itu.

Benar, ada manusia-manusia yang berani berjarak dengan pemesinan itu. Mereka punya nyali untuk mempertahankan kemanusiaannya. Mereka bekerja sungguh-sungguh untuk mengusahakan kesejahteraan bersama, keadilan, dan tentu saja kemerdekaan dari rasa lapar dan terhimpit. Di luar itu, mereka bekerja karena ketakutan akan dirinya sendiri.

Menjadi penulis tidak harus di Jakarta. Apalagi di zaman internet seperti sekarang. Tempat tidak lagi penting. Karya lebih penting. Menulis bisa di mana pun. Teknologi telah membebaskan kita dari belenggu ruang. Biarlah hasil tulisan itu beredar di Jakarta, karena senyatanya sebagian besar uang memang beredar di sana, dan hasil tulisan itu bekerja untuk kita, sementara kita terus berkarya dalam kesenyapan dan kedalaman rasa.

Sesekali ke Jakarta, meski begitu, baik juga. Ya, setidaknya untuk nge-charge semangat. Mengembalikan semangat trengginas, cekatan, gesit, tangguh, tahan banting, adalah misi utama saya ketika sesekali kembali ke Jakarta. Menikmati kemacetan dan menguji tingkat kesabaran; menggelantung di atas Kopaja dan menyegarkan kepasrahan, memasuki gedung-gedung bertingkat dan menikmati aroma keangkuhan. Melesat di Thamrin, dunia begitu gemerlap. Menyusup di Tambora, betapa hidup penuh nestapa. Istana negara, kabarnya tempat para pejabat negara mengabdi. Mangga besar, senyatanya tempat pada warga negara menggadai bodi.

Dan esok, Kamis, 7 Juni saya kembali ke Jakarta. Hanya sehari. Bukan. Bukan untuk cari uang. Sebab, buku PERANG PANGLIMA yang saya tulis bersama Femi sudah bekerja dengan sangat ahli. Kami tak perlu campuri. Hadir dan berbicara di panggung utama Istora Senayan, bagi saya sekadar reuni belaka. Banyak teman menyanggupkan diri hadir. Untuk pertemuan mewah ini, yang bisa terjadi di tengah kemacetan dan kesemrawutan Jakarta, teman-teman mau berkumpul. Sekadar berbagi suka-cita.

Dan sekadar memanas-manasi: hei kalian, kapan berani mengendalikan Jakarta tanpa perlu tinggal di sini? Hmmm, arogan.

canicula

Wednesday, June 6th, 2007

Hujan kerap datang tanpa dinyana beberapa malam belakangan. Hujan di musim canicula. Tak ada yang berharap hujan datang di senja yang keliru. Sebab, matahari sedang hangat menggantang.

Lalu hujan seperti kabar lenyapnya nyawa. Datang tiba-tiba tanpa memberi aba-aba. Malaikat pencabut ruh hanya tahu, mandat itu harus disampaikan. Ditukarnya dengan jiwa. Siap tidak siap. Dan ketika pertukaran itu terjadi, yang ada hanyalah kesepakatan. Tak ada tawar menawar. Seperti hujan, jika sudah dilepaskan dari awan, ia tak dapat dibelokkan.

Usah menggerutu. Biar hujan turun tanpa restu, persilakan dia meliatkan debu. Dia yang empunya hujan jauh lebih paham kenapa hujan diturunkan tidak pada saatnya. Dia punya cara soal waktu.

Jadi, hujan datang tepat waktu. Cara paham kita tentang waktu sajalah yang tidak sanggup menjangkau mengapa hujan datang saat kita terlelap.

untuk dia yang sedang bertransaksi dengan waktu: terimalah hujan mengetuk pintumu, hanya pintumu

negara keblinger

Monday, June 4th, 2007

Maaf, naskah ini sudah saya kirim ke kompas beberapa waktu lalu. Karena tidak segera dimuat, lebih baik saya muat sendiri:

RAZIA BUKU, WAJAH NEGARA KEBLINGER

OLEH AA KUNTO A

Tidak ada ungkapan lain yang lebih lunak ketimbang judul tulisan ini. Memang, negara ini sudah keblinger. Salah arah, dan membiarkan diri terperosok ke belantara yang menyesatkan. Dan ini terjadi di saat bangsa Indonesia tengah merayakan sembilan tahun bergulirnya reformasi.

Wajah buruk itu terpampang jelas di perhelatan gagah razia buku-buku sejarah yang dinilai tidak mengandung kebenaran sejarah. Kompas (22/5) memberitakan, Kejaksaan Negeri Sleman-lah yang melancarkan razia penarikan buku-buku sejarah SLTP dan SLTA yang tidak memuat istilah PKI di belakang kata G30S dan peristiwa Madiun pada tahun 1948. Dasar hukum mereka adalah surat dari Kejaksaan Agung RI Nomor KEP-019/A/JA/03/2007 dan Instruksi Jaksa Agung RI Nomor INS-003/A/JA/03/2007 tertanggal 5 Maret 2007. Kejaksaan Negeri Sleman menjadi satu mata rantai dari mesin penggilas lain yang telah beroperasi di berbagai daerah.

Buku, khususnya buku sejarah, telah diperlakukan selayaknya pelacur dan penjudi kelas motel melati. Digrebek dan diseret ke tahanan tanpa hak membela diri. Diolok-olok seraya dibungkam. Dirajam, dan dibiarkan bersimbah tanya.

Ironisnya lagi, kegalakan aparat negara ini dipertontonkan di tengah kemandulan negara menghadirkan kebenaran sejarah penculikan aktivis 1996-1998, Tragedi Trisakti-Semanggi, dan kerusuhan Mei 1998. Belum, apalagi, soal ketidakmampuan negara membopong Soeharto ke meja peradilan.

Fakta-fakta tersebut menjadi cermin betapa negara tengah dalam kegalauan akut. Tentang masa lalu tidak belajar, tentang masa depan tak tahu arah. Tarik-menarik seputar usulan meninjau kembali UUD 45 yang telah diubah memperlihatkan soal hilangnya arah yang mestinya ditanam kokoh dalam pondasi dasar tersebut. Di sisi sebelah belakang, seperti disebutkan beberapa di muka, banyak peristiwa besar negeri ini yang belum tuntas diungkap.

Itu yang substansial, menyangkut isi. Negara tampak kedodoran dalam mengelola dirinya. Untuk menutupi kemandulannya, negara melancarkan tindakan-tindakan gagah yang sejatinya gegabah: razia. Gagal membereskan “isi”, negara mengalihkan perhatian pada “cara”.

Razia bukan solusi

Padahal, kita mencatat, razia tidak pernah berhasil sebagai strategi menyelesaikan persoalan. Memberangus, menundukkan, menakut-nakuti memang iya. Itu pun untuk sementara waktu. Mau sebut berapa ribu contoh? Razia minuman kerja, pelacur, perjudian, narkotika, preman, gelandangan, … justru menunjukkan betapa negara ini hobi menggunakan cara-cara barbarian untuk pura-pura membasmi apa yang mereka sebut kuman sosial. Dan razia itu tak pernah menjadi solusi tuntas. Baru sebatas pamer kuasa.

Lha, buku sejarah mau dimasukkan ke dalam kardus keranjang sosial itu? Ya terang keblinger, mbrojol. Pikiran mau diberangus? Kebenaran mau dimutlakkan? Negara gelap mata. Pikiran tak pernah bisa disekap dengan cara-cara main kuasa.

Negara keblinger. Ia melancarkan tindakan yang bertentangan sekaligus: membesarkan sekaligus menyepelekan. Hadirnya buku-buku sejarah yang tidak seversi dengan negara diletakkan sebagai ancaman besar yang membahayakan. Negara ketakutan jika gara-gara buku-buku itu ia tidak lagi dihormati. Negara keder dengan masa lalunya.

Tragisnya, negara memilih cara-cara simplistis untuk mengudari kompleksitas ketakutan itu. Dengan begitu mudah, negara menuding perkara ada di luar dirinya. Dengan serampangan pula negara mendikte rakyatnya agar percaya bahwa biang kericuhan ada pada sesuatu di luar negara. Rakyat dihadapkan vis-à-vis dengan negara, dianggap bodoh pula. Padahal, rakyat tahu, negara nyaris tidak berusaha untuk menyajikan fakta sejarah yang tuntas. Terkhusus tragedi 1965, negara tidak sanggup menyajikan telaah historis yang menjawab bukan saja rasa keadilan, namun lebih-lebih kebenaran.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk mengingatkan negara agar kembali menelusuri jalan yang benar untuk menemukan kebenaran masa lalu. Hadapi karya tulis dengan karya tulis, otak dengan otak. Sebab, negara ini bukan segerombolan preman yang mau adu kuasa, yang segala-galanya mau diselesaikan dengan bahasa kuasa. Kita punya banyak peneliti dan penulis yang bersedia bahu-membahu menelusuri jejak kebenaran negeri ini: asal negara mau jujur dan cerdas.

AA Kunto A,

Penulis buku Perang Panglima: Siapa Mengkhianati Siapa?

wasilah dan ghoyah

Friday, June 1st, 2007

KH Mustofa Bisri tipikal kebanyakan kyai Nahdlatul Ulama. Santai, dan kerap meningkahi diri dengan lelucon segar yang pasti membuat terpingkal-pingkal siapa pun yang bersamanya.

Demikian pula malam itu. Ia yang akrab disapa sebagai Gus Mus ini diminta untuk memberikan orasi budaya. Sampai dengan duduk di tempat acara, ia mengaku masih kebingungan soal arti "orasi budaya". Kepada Prof Abdul Munir Mulkan, akademisi dari UIN Sunan Kalijaga, yang duduk lesehan di sampingnya, ia menanya soal itu. "Sudah, anggep saja pengajian…," saran Prof Munir. Jadilah, malam itu orasi budaya sebagai pengajian. Dan bincang-bincang soal multikulturalisme menjadi spiritualisme.

Pada pengajiannya kali ini, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin Rembang [www.gusmus.net] mengulas banyak soal wasilah dan ghoyah, tentang kendaraan dan tujuan. "Kalau kita mau ke Jakarta, Jakarta itu ghoyah. Sedangkan bus yang akan kita tumpangi adalah wasilah," cetusnya di awal.

Kemudian ia menjadi lebih serius. Serius pada tujuan, bukan pada gaya. Cara berceritanya tetap saja lucu menohok, membuat pendengarnya tidak sedang mengolok-olok orang lain, melainkan menertawakan diri sendiri.

"Suatu ketika saya berbicara di depan kyai-kyai, ada kyai kota, ada kyai kampung. Kepada mereka saya bertanya, PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) itu wasilah apa ghoyah?" Mereka menjawab dengan lantang, "Wasilah!" "Benar," jawab Gus Mus.

Lalu, putra mendiang KH Bisri Mustofa ini bertanya lagi, "Kalau NU dan Muhammadiyah wasilah atau ghoyah?" Mereka menjawab lagi, "Wasilah." "Tapi kali ini suara mereka lirih. Mereka ragu-ragu. Lalu saya tegaskan, jawaban mereka benar. NU dan Muhammadiyah itu wasilah. Kalau ghoyah, orang NU akan menganggap orang Muhammadiyah kurang Islamnya. Demikian sebaliknya. Kalau wasilah, kita akan menganggap satu sama lain saudara karena ghoyah kita sama."

Gus Mus menaikkan kadar pertanyaannya. "Kalau Islam, Kristen, dan agama-agama lain itu wasilah apa ghoyah?" Sejenak mereka terdiam. Tidak satu pun bersuara. Sebaliknya, mereka membalikkan pertanyaan pada Gus Mus, "Kalau sampeyan?" "Dengan tegas saya jawab ‘wasilah’." Lalu mereka memprotes putra Rembang kelahiran 10 Agustus 1944 ini.

Bagi Gus Mus, ghoyah itu hanya Allah. Semua yang di dunia ini wasilah belaka. Maka, mestinya manusia saling bersaudara. Toh tujuannya sama. Hanya caranya yang berbeda, kendaraan menuju tujuan itu yang lain.

Pengajian yang inspiratif. Allah, asal dan tujuan, alfa dan omega, purwa lan wasana.