Maaf, naskah ini sudah saya kirim ke kompas beberapa waktu lalu. Karena tidak segera dimuat, lebih baik saya muat sendiri:
RAZIA BUKU, WAJAH NEGARA KEBLINGER
OLEH AA KUNTO A
Tidak ada ungkapan lain yang lebih lunak ketimbang judul tulisan ini. Memang, negara ini sudah keblinger. Salah arah, dan membiarkan diri terperosok ke belantara yang menyesatkan. Dan ini terjadi di saat bangsa Indonesia tengah merayakan sembilan tahun bergulirnya reformasi.
Wajah buruk itu terpampang jelas di perhelatan gagah razia buku-buku sejarah yang dinilai tidak mengandung kebenaran sejarah. Kompas (22/5) memberitakan, Kejaksaan Negeri Sleman-lah yang melancarkan razia penarikan buku-buku sejarah SLTP dan SLTA yang tidak memuat istilah PKI di belakang kata G30S dan peristiwa Madiun pada tahun 1948. Dasar hukum mereka adalah surat dari Kejaksaan Agung RI Nomor KEP-019/A/JA/03/2007 dan Instruksi Jaksa Agung RI Nomor INS-003/A/JA/03/2007 tertanggal 5 Maret 2007. Kejaksaan Negeri Sleman menjadi satu mata rantai dari mesin penggilas lain yang telah beroperasi di berbagai daerah.
Buku, khususnya buku sejarah, telah diperlakukan selayaknya pelacur dan penjudi kelas motel melati. Digrebek dan diseret ke tahanan tanpa hak membela diri. Diolok-olok seraya dibungkam. Dirajam, dan dibiarkan bersimbah tanya.
Ironisnya lagi, kegalakan aparat negara ini dipertontonkan di tengah kemandulan negara menghadirkan kebenaran sejarah penculikan aktivis 1996-1998, Tragedi Trisakti-Semanggi, dan kerusuhan Mei 1998. Belum, apalagi, soal ketidakmampuan negara membopong Soeharto ke meja peradilan.
Fakta-fakta tersebut menjadi cermin betapa negara tengah dalam kegalauan akut. Tentang masa lalu tidak belajar, tentang masa depan tak tahu arah. Tarik-menarik seputar usulan meninjau kembali UUD 45 yang telah diubah memperlihatkan soal hilangnya arah yang mestinya ditanam kokoh dalam pondasi dasar tersebut. Di sisi sebelah belakang, seperti disebutkan beberapa di muka, banyak peristiwa besar negeri ini yang belum tuntas diungkap.
Itu yang substansial, menyangkut isi. Negara tampak kedodoran dalam mengelola dirinya. Untuk menutupi kemandulannya, negara melancarkan tindakan-tindakan gagah yang sejatinya gegabah: razia. Gagal membereskan “isi”, negara mengalihkan perhatian pada “cara”.
Razia bukan solusi
Padahal, kita mencatat, razia tidak pernah berhasil sebagai strategi menyelesaikan persoalan. Memberangus, menundukkan, menakut-nakuti memang iya. Itu pun untuk sementara waktu. Mau sebut berapa ribu contoh? Razia minuman kerja, pelacur, perjudian, narkotika, preman, gelandangan, … justru menunjukkan betapa negara ini hobi menggunakan cara-cara barbarian untuk pura-pura membasmi apa yang mereka sebut kuman sosial. Dan razia itu tak pernah menjadi solusi tuntas. Baru sebatas pamer kuasa.
Lha, buku sejarah mau dimasukkan ke dalam kardus keranjang sosial itu? Ya terang keblinger, mbrojol. Pikiran mau diberangus? Kebenaran mau dimutlakkan? Negara gelap mata. Pikiran tak pernah bisa disekap dengan cara-cara main kuasa.
Negara keblinger. Ia melancarkan tindakan yang bertentangan sekaligus: membesarkan sekaligus menyepelekan. Hadirnya buku-buku sejarah yang tidak seversi dengan negara diletakkan sebagai ancaman besar yang membahayakan. Negara ketakutan jika gara-gara buku-buku itu ia tidak lagi dihormati. Negara keder dengan masa lalunya.
Tragisnya, negara memilih cara-cara simplistis untuk mengudari kompleksitas ketakutan itu. Dengan begitu mudah, negara menuding perkara ada di luar dirinya. Dengan serampangan pula negara mendikte rakyatnya agar percaya bahwa biang kericuhan ada pada sesuatu di luar negara. Rakyat dihadapkan vis-à-vis dengan negara, dianggap bodoh pula. Padahal, rakyat tahu, negara nyaris tidak berusaha untuk menyajikan fakta sejarah yang tuntas. Terkhusus tragedi 1965, negara tidak sanggup menyajikan telaah historis yang menjawab bukan saja rasa keadilan, namun lebih-lebih kebenaran.
Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk mengingatkan negara agar kembali menelusuri jalan yang benar untuk menemukan kebenaran masa lalu. Hadapi karya tulis dengan karya tulis, otak dengan otak. Sebab, negara ini bukan segerombolan preman yang mau adu kuasa, yang segala-galanya mau diselesaikan dengan bahasa kuasa. Kita punya banyak peneliti dan penulis yang bersedia bahu-membahu menelusuri jejak kebenaran negeri ini: asal negara mau jujur dan cerdas.
AA Kunto A,
Penulis buku Perang Panglima: Siapa Mengkhianati Siapa?