membunuh amarah
Apakah kita harus marah pada Susilo Bambang Yudhoyono supaya pemerintah segera ambil tindakan untuk menyelamatkan warga Sidoarjo dari gempuran lumpur? Apakah kita harus mencincang Jusuf Kalla supaya ia tidak menelorkan pikiran busuk "ini bencana nasional" sehingga Bakrie terbebas dari tanggung jawab?
Rasanya tidak. Amarah tidak pernah mampu mengusaikan soalan. Hanya akan memompa nada tinggi. Dan lebih lagi, amarah di negeri ini sudah menjelma menjadi secuil kerupuk. Kerupuk, begitu dipelorotkan dari toples, membutuhkan gigi cadas untuk merajangnya. Thas! Kriuk… kriuk…. Tetapi, begitu ia ditelantarkan sebentar di atas mangkuk sayur, ia segera menjadi layu. Mlempem, sebutan wong ndesa katrok.
Begitu pula amarah. Satu-dua detik begitu ia melejit dari kerongkongan, berkat dipacu jantung yang berdegup kencang, ia akan menjelma menjadi kata-kata yang amat dahsyat. "Bajingan, kamu!" "Anjing, lo!" "Setan Kebon Kacang!" Sesaat, mantra-mantra itu nyata dahsyatnya. Jika ditanggapi, ia akan makin terbakar. Makin membubung. Making membuih.
Sebaliknya, jika didiamkan, diabaikan, diluwehkan, ia akan mlempem. Layu. Loyo. Lenyap bersama kentut.
Maka, baiklah kita tidak perlu marah pada SBY dan JK jika nyata-nyata mereka telah begitu buta dan tuli pada penderitaan saudara kita di Porong-Sidoarjo. Tidak perlu marah. Sebab, kita justru akan memuruk mlempem jika melampiaskan hasrat dongkol ini. Mereka toh bergeming, mbegegeg, nganyur tanpa kesantunan. Mereka abai pada keterancaman rakyatnya. Mereka hendak membinasakan warganya, dengan membiarkan saudara kita tenggelam oleh lumpur, yang kemarin kita "rayakan" ulang tahun pertamanya.
Tidak. Jangan luapkan amarah itu. Daripada kita mlempem karena dicuekin. Tapi kita tidak boleh diam. Kita harus terus bersuara. Kita harus meminta tanggung jawab negara agar segera menyelamatkan warganya. Jangan biarkan negara menetapkan status "bencana nasional", sebab bencana ini bukan disebabkan oleh alam yang murka, tapi oleh manusia yang goblok dan negara yang lemah. Kita jangan pernah mau menyisihkan sebagian dana APBN untuk menanggulangi bencana, kecuali jika itu untuk menalangi dan kelak ditagihkan kepada manusia-manusia goblok pengeruk harta bumi.
Jangan kita marah. Jalan elegan kiranya lebih sampai kepada tujuan. Terus bersuara, terus mendesak, terus berteriak, sampai mereka yang buta dan tuli itu melihat dan mendengar. Supaya kita tidak kehilangan saudara, yang tenggelam oleh angkara.