ini mei lagi
Ini Mei. Saatnya untuk kembali merenung. Saatnya untuk kembali berbenah.
Sembilan tahun, di Mei yang sama, negeri ini pernah nyaris pecah. Indonesia pernah di ambang punah. Ketika itu ribuan orang terpanggang di sudut-sudut Jakarta. Ratusan mahasiswa jatuh memang digebuki serdadu.
Tentara pernah menjadi begitu beringas di negeri ini. Polisi masih pengecut ketika itu, sebaliknya kini mereka justru makin angkuh.
Kabar tentang pemerkosaan wanita-wanita Cina tak pernah terbuka jelas lembarannya. Kematian mahasiswa-mahasiswa yang dibunuh oleh serdadu juga tak pernah terkupas tuntas misterinya.
Lalu Soeharto dengan seenaknya sendiri turun tahta, dan kemudian mengaku sakit setiap kali dipanggil pimpinan sidang. Meski tak lagi menjadi penguasa, terbukti ia masih begitu perkasa. Jaksa Agung yang baru dilantik kemarin, Hendarman Soepandji, pun buru-buru menghunuskan pedang penolakan ketika beberapa pihak mendesakkan perlunya kasus Soeharto dibuka kembali. Soeharto, menjelang ajalnya, masih tak tersentuh tangan-tangan keadilan.
Berulangkali sesudah itu negeri ini berganti Presiden, dari yang seorang teknokrat, punggawa agama, anak mantan penguasa, hingga satria bersenjata, keadilan tak juga menyata. Rakyat semakin miskin, korupsi makin merajalela, negara makin tak berdaya. Fakta-fakta gelap Mei 1998 tak juga melipir ke ujung terang.
Tapi kita tidak boleh mati muda. Sebelum tabir-tabir itu tersingkap, kita harus terus berusaha. Keadilan adalah hak kita. Kesejahteraan juga hak kita.
Kita punya kewajiban bekerja keras untuk menggapai hak-hak itu. Salah satu kerja keras itu berupa kesediaan untuk merawat ingatan, menghalau lupa.
Mei kali ini menjadi saat yang tepat bagi kita untuk menyegarkan kembali ingatan akan tujuan perubahan, untuk pekerjaan memperbaiki nasib bangsa.
Memperingati Mei, menghormati korban-korban anarki. Merayakan Mei, menghormati pekik reformasi. Membungkus Mei, menyatukan harapan demokrasi.