Archive for May, 2007

membunuh amarah

Wednesday, May 30th, 2007

Apakah kita harus marah pada Susilo Bambang Yudhoyono supaya pemerintah segera ambil tindakan untuk menyelamatkan warga Sidoarjo dari gempuran lumpur? Apakah kita harus mencincang Jusuf Kalla supaya ia tidak menelorkan pikiran busuk "ini bencana nasional" sehingga Bakrie terbebas dari tanggung jawab?

Rasanya tidak. Amarah tidak pernah mampu mengusaikan soalan. Hanya akan memompa nada tinggi. Dan lebih lagi, amarah di negeri ini sudah menjelma menjadi secuil kerupuk. Kerupuk, begitu dipelorotkan dari toples, membutuhkan gigi cadas untuk merajangnya. Thas! Kriuk… kriuk…. Tetapi, begitu ia ditelantarkan sebentar di atas mangkuk sayur, ia segera menjadi layu. Mlempem, sebutan wong ndesa katrok

Begitu pula amarah. Satu-dua detik begitu ia melejit dari kerongkongan, berkat dipacu jantung yang berdegup kencang, ia akan menjelma menjadi kata-kata yang amat dahsyat. "Bajingan, kamu!" "Anjing, lo!" "Setan Kebon Kacang!" Sesaat, mantra-mantra itu nyata dahsyatnya. Jika ditanggapi, ia akan makin terbakar. Makin membubung. Making membuih.

Sebaliknya, jika didiamkan, diabaikan, diluwehkan, ia akan mlempem. Layu. Loyo. Lenyap bersama kentut.

Maka, baiklah kita tidak perlu marah pada SBY dan JK jika nyata-nyata mereka telah begitu buta dan tuli pada penderitaan saudara kita di Porong-Sidoarjo. Tidak perlu marah. Sebab, kita justru akan memuruk mlempem jika melampiaskan hasrat dongkol ini. Mereka toh bergeming, mbegegeg, nganyur tanpa kesantunan. Mereka abai pada keterancaman rakyatnya. Mereka hendak membinasakan warganya, dengan membiarkan saudara kita tenggelam oleh lumpur, yang kemarin kita "rayakan" ulang tahun pertamanya.

Tidak. Jangan luapkan amarah itu. Daripada kita mlempem karena dicuekin. Tapi kita tidak boleh diam. Kita harus terus bersuara. Kita harus meminta tanggung jawab negara agar segera menyelamatkan warganya. Jangan biarkan negara menetapkan status "bencana nasional", sebab bencana ini bukan disebabkan oleh alam yang murka, tapi oleh manusia yang goblok dan negara yang lemah. Kita jangan pernah mau menyisihkan sebagian dana APBN untuk menanggulangi bencana, kecuali jika itu untuk menalangi dan kelak ditagihkan kepada manusia-manusia goblok pengeruk harta bumi.

Jangan kita marah. Jalan elegan kiranya lebih sampai kepada tujuan. Terus bersuara, terus mendesak, terus berteriak, sampai mereka yang buta dan tuli itu melihat dan mendengar. Supaya kita tidak kehilangan saudara, yang tenggelam oleh angkara.

kelas akselerasi

Sunday, May 27th, 2007

Setahun sudah gempa itu. Meratakan tanah mereka. Membinasakan mereka. Sekaligus, menegarkan mereka.

Bencana itu telah menjadi kelas pelajaran hidup penting bagi manusia. Untuk mereka menjadi tamak, untuk mereka menjadi nrimo, untuk mereka menjadi hampa, untuk mereka menjadi perkasa.

Alam, kau beri kami pelajaran sungguh amat berharga. Tentang hidup bersama saudara kandungnya: mati. Tentang suka bersama ibu darahnya: duka. Tentang manusia dan pemiliknya.

Tuhan, masihkah kau bersama kami?

pencapaian

Wednesday, May 23rd, 2007

Kabar bahagia itu datang dua hari yang lalu. Buku PERANG PANGLIMA: SIAPA MENGKHIANATI SIAPA?[http://www.galangpress.com/detailResensi.php?act=lihat&idNya=194] yang saya tulis bersama Femi Adi Soempeno, diputuskan untuk cetak ulang ketiga. Hmmm…

Sabtu, 24 Maret 2007, masih segar dalam ingatan, kami duduk sepanel dengan Mantan Menteri Pertahanan RI Moh Mahfud MD dan pengamat militer MT Arifin di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saat itu, buku kami diluncurkan secara resmi oleh Galangpress, sebagai penerbit, bekerja sama dengan PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) Universitas Sanata Dharma. Hangat sekali diskusi siang itu. [http://www.usd.ac.id/06/news.php?v=w&a=386&fp=l] Sebuah pengalaman perjalanan yang sangat berkesan, berbicara sebagai penulis buku.

Masih pula melekat kuat dalam ingatan, sebuah pertemuan kecil di Bakul Coffee, Cikini, Jakarta Pusat. Juga pada sebuah Sabtu. Femi tergopoh-gopoh melepaskan diri dari sadel motor ojek, sedang saya berbasuh keringat setelah bermotor menyusuri jalanan ibukota dari Pinangranti, rumah remaja SOS Kinderdorf, tempat saya menginap untuk mengerjakan buku mereka. Di teras belakang, yang tidak berpendingan udara, yang menghadap ke taman, kami duduk berdua. Itu awal dari proyek penulisan buku PERANG PANGLIMA tersebut.

Lalu pada sebuah malam Sabtu, di sebuah rumah belakang Masjid, sebuah Jogja, Femi berbagi kisah kepada umat Katolik yang hadir di perayaan ekaristi mengenang setahun wafat Sang Ayah.[http://femiadi.wordpress.com/] Itu sesi kotbah Romo Baskara T Wardaya, SJ, sejarahwan beken, direktur PUSdEP, penulis banyak buku sejarah dan politik, yang separuh waktu homilinya dibagikan ke Femi. Bukan soal buku ini. Bukan. Ya, pencapaian ini telah saya tempuh bersama seorang sahabat yang tepat.

Buku itu telah membawa kami keliling ke berbagai kota, berbagi ingatan kepada sesama warga bangsa: Jogja, Purwokerto, Semarang, Solo, dan 7 Juni nanti Senayan-Jakarta. Kami telah pula persembahkan buku itu kepada Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka di kediamannya di Keuskupan Purwokerto.

Semoga energi kehidupan ini melimpah kepada banyak orang di sekitar kami, juga kepada Anda. Dengan karya, kami hendak berbagi kebahagiaan…

belajar hidup

Tuesday, May 15th, 2007

hidup adalah perjalanan belajar yang tiada usai…

demikianlah

hanya jika dilahirkan bayi belajar menangis

hanya jika diceburkan bocah belajar berenang

hanya jika dikuburkan manusia belajar tentang keterbatasan

itulah kenapa manusia harus tua. supaya yang muda beroleh sela. itulah kenapa jalan kesempatan harus selalu dibuka. supaya ada pertukaran. itulah kenapa bumi harus mengitari matahari. supaya yang usai lelap bangkit berjaga-jaga, lekas bekerja.

perjuangan hidup yang paling berat, kiranya, adalah menaklukkan diri sendiri. melampaui ketakutan diri sendiri. menyingkap kegelapan diri sendiri.

sejarah peradaban manusia sudah membuktikan, hanya para pemberani yang hidupnya melegenda. hanya mereka yang berani melompati api yang boleh mengenal kata "panas". hanya mereka mau menyerahkan hidupnya bagi orang lain yang boleh menghayati makna "cinta". hanya mereka yang mau melangkah maju yang boleh berkenalan dengan semangat "unggul".

untuk dia yang sedang bertransaksi dengan waktu: melangkahlah!

ini mei lagi

Thursday, May 10th, 2007

Ini Mei. Saatnya untuk kembali merenung. Saatnya untuk kembali berbenah.

Sembilan tahun, di Mei yang sama, negeri ini pernah nyaris pecah. Indonesia pernah di ambang punah. Ketika itu ribuan orang terpanggang di sudut-sudut Jakarta. Ratusan mahasiswa jatuh memang digebuki serdadu.

Tentara pernah menjadi begitu beringas di negeri ini. Polisi masih pengecut ketika itu, sebaliknya kini mereka justru makin angkuh.

Kabar tentang pemerkosaan wanita-wanita Cina tak pernah terbuka jelas lembarannya. Kematian mahasiswa-mahasiswa yang dibunuh oleh serdadu juga tak pernah terkupas tuntas misterinya.

Lalu Soeharto dengan seenaknya sendiri turun tahta, dan kemudian mengaku sakit setiap kali dipanggil pimpinan sidang. Meski tak lagi menjadi penguasa, terbukti ia masih begitu perkasa. Jaksa Agung yang baru dilantik kemarin, Hendarman Soepandji, pun buru-buru menghunuskan pedang penolakan ketika beberapa pihak mendesakkan perlunya kasus Soeharto dibuka kembali. Soeharto, menjelang ajalnya, masih tak tersentuh tangan-tangan keadilan.

Berulangkali sesudah itu negeri ini berganti Presiden, dari yang seorang teknokrat, punggawa agama, anak mantan penguasa, hingga satria bersenjata, keadilan tak juga menyata. Rakyat semakin miskin, korupsi makin merajalela, negara makin tak berdaya. Fakta-fakta gelap Mei 1998 tak juga melipir ke ujung terang.

Tapi kita tidak boleh mati muda. Sebelum tabir-tabir itu tersingkap, kita harus terus berusaha. Keadilan adalah hak kita. Kesejahteraan juga hak kita.

Kita punya kewajiban bekerja keras untuk menggapai hak-hak itu. Salah satu kerja keras itu berupa kesediaan untuk merawat ingatan, menghalau lupa.

Mei kali ini menjadi saat yang tepat bagi kita untuk menyegarkan kembali ingatan akan tujuan perubahan, untuk pekerjaan memperbaiki nasib bangsa.

Memperingati Mei, menghormati korban-korban anarki. Merayakan Mei, menghormati pekik reformasi. Membungkus Mei, menyatukan harapan demokrasi.