hilang, menghilang, kehilangan
Dengan sengaja saya menghilang. Bukan bersembunyi. Menghilang. Ya, menghilang dari papan blog ini. Membiarkan blog ini terisi dengan posting lama, tahun lalu.
Memang, rasanya ada yang hilang. Bagaimana tidak, papan ini adalah media untuk berinteraksi dengan banyak orang di entah di mana. Menghilang berartikah tidak berinteraksi?
Tidak. Saya tetap berinteraksi dengan banyak orang. Hanya caranya yang beda. Muka berhadapan muka. Tangan berjabatan. Mata bertatapan.
Memang, ada rasa kehilangan. Apalagi alamat weblog ini saya cantumkan di buku-buku karangan saya. Pasti mereka kecelik saat berkunjung ternyata rumput telah meninggi di halaman tanda tak pernah dipotongi, ternyata lamat telah hangat menjadi sarang laba-laba, ketika hanya kelelawar yang sanggup menyusup di antara bebongkahan.
Namun, merasakan kehilangan dengan sadar sungguh nikmat. Dalam bahasa Ignatian, bersikap lepas bebas, tidak lekat terhadap sarana. Saya hidup dengan bejibun sarana kerja, saya kerja dengan begitu melimpah fasilitas hidup. Toh bagaimana pun semua itu hanya sarana, bukan tujuan hidup.
Maka, ketika sarana weblog ini saya tinggalkan sejenak waktu, ternyata saya tetap bisa bekerja, juga bisa berinteraksi. Dan ternyata, setelah saya kembali, rasa kehilangan itu telah hilang. Ternyata, tidak ada yang hilang. Saya juga tidak kehilangan apa pun. Saya hanya menghilang. Dan kini kembali.