Surat untuk Terpidana

Para terpidana di dalam penjara, ijinkanlah aku mengetuk pintu teralismu. Kau tak perlu membuka, toh tanpa kau buka, pintu itu tak pernah tertutup. Aku menulis surat bukan untuk menghibur. Bukan untuk melipur. Apalagi, bukan untuk mengajakmu berlibur di negeri bubur kencur ini. Aku hanya bermain-main saja.

Kamis, 17 Maret 2006 lalu, aku membaca Kompas. Ada pilu di halaman satu. Soal matinya empat aparat negara ditimpuk massa di Papua; soal jerit massa yang menjadi garang setelah lama memendam dendam. Tapi bukan itu yang ingin kusampaikan padamu. Lewat koran yang kau baca, atau cerita sanak saudara yang mengunjungimu, atau bisikan hatimu sendiri, aku yakin, kamu tahu kenapa bara itu membakar amarah.

Bukan. Aku mengajakmu untuk membaca tajuk rencana hari itu. Yang di atas, “Ironi KPU Masih Terasa”, bukan yang di bawah, “Kapan PM Taksin Mundur”. Mungkin kau sudah membaca, tapi aku akan menceritakan sedikit supaya kau membaca, sekali lagi. Tajuk itu berbicara soal ironi. Kebetulan, dan pasti sesudah dipilih, contoh yang dikemukakan adalah tentang terpidananya ketua dan tiga anggota KPU, yaitu kamu. Kamu dibui setelah terbukti korupsi.

Ironisnya, begitu tulisan itu menekankan, 2004 lalu kamu-kamu dipuji sebagai penyelenggara pemilu yang demokratis. Masyarakat dalam dan luar negeri menilai pemilu kali itu sebagai sukses demokrasi, tegas tulisan itu lagi. Setelah itu kamu dipenjara. Aku kutipkan untukmu, “Juga berironi, karena acap kali terdengar omongan seberapa jauh yang lain-lain itu benar-benar bersih.”

Ini yang mengusik hatiku, hingga aku menulis surat untukmu. Ya, semua kamu yang di dalam penjara. Kau bersalah, vonis pengadilan. Karenanya, bunyi putusan yang pernah kau dengar bersama ketukan palu, kau pantas dipenjara. Semua hakmu sebagai manusia bebas dicabut. Semua atribut kegagahanmu selama di luar sana, sebagai ketua, direktur, ustad, dilorot. Kau sandang predikat baru sebagai terpidana.

Tetapi kau jangan berkecil hati. Mungkin kau benar-benar salah, sepanjang yang mengatakan salah itu tidak salah. Mungkin kau benar, tetapi penentu kebenaran itu tidak melihat kebenaranmu. Kau adalah ironi. Penjara yang kau diami hanyalah penjara kecil. Sedang kami, yang leluasa berkeliaran di luar ini, ada di penjara besar.

Ini bukan kata-kataku. Aku lupa siapa yang mengatakannya pertama. Tapi terang, pernyataan itu benar adanya. Kau masuk penjara penuh penghormatan, disidang, dikawal, disiapkan tempat, dan diliput media massa. Sesekali, keluarga dan kolega boleh menjengukmu, sembari mencincing oleh-oleh sebagai teman membunuh kesunyian.

Sedang kami? Kami dipenjara di terali besar ini penuh nista. Tanpa sidang, kami divonis menjadi orang miskin. Tanpa pengawalan, kami dibiarkan keleleran mencari makan. Tempat yang kami tiduri, bisa tiba-tiba digusur atau dibakar. Atau sekonyong-konyong disapu bandang. Atau ambruk tertimpa tanah longsor. Di mata media massa, potret kami kalah seksi dari kamu. Sesekali saja kami diulas, selebihnya halaman-halaman koran dipenuhi kabar-kabar para elit yang entah mengerjakan apa itu.

Sekarang, kebutuhan hidup makin tak terjangkau. Gaji tak naik. Boro-boro bonus. Bikin usaha sendiri tidak laku. Kalah dihisap imperialis kejam. Harga meninggi kian hari. Kami semakin tak mampu membeli. Di dalam penjara kecil dan penjara besar, kita sama. Sama-sama dijaga. Sama-sama diawasi. Kau diawasi supaya tidak kabur. Kami dipelototi supaya tidak melawan. Kau masih diberi ransum saat lapar, meski mungkin tak mengenyangkan. Sedang kami mesti mengais sendiri, padahal semakin sedikit sumber makanan tersisa untuk kami.

Kau yang pernah jadi pengusaha tentu tahu bagaimana susahnya bekerja di luaran sini. Jangankan difasilitasi, setiap usaha nyaris selalu diganjal tetek-bengek persyaratan yang ujung-ujungnya, kamu tahu, minta uang. Kalau kami melawan, pasti keesokan harinya kami diseret di kamar sebelahmu. Sedang kalau kami penuhi, esok mereka akan datang lagi meminta lebih.

Maka, kami berharap, kau jangan berkecil hati. Di penjara kecil tak ubahnya penjara besar. Sama saja. Bedanya, kau dipenjara karena ada yang memutuskan untuk memenjarakanmu. Sedang kami dipenjara karena pembiaran. Kau dijebloskan. Kami diabaikan. Dan kita sama-sama tidak pernah bisa memahami, apakah kau sungguh kotor, sebagaimana apakah benar yang memenjarakanmu bersih.

Bahkan, di penjara besar ini, kami kehilangan pedoman untuk menemukan mana yang memang bersih. Sebab, semua berlomba tampil bersih. Kau tahu, aparat penegak hukum di negeri ini pun banyak yang berperilaku kotor. Aku menolak menyebutnya oknum. Bukan oknum namanya jika telah melembaga.

Saudaraku, pastilah kau gelisah di dalam penjara kecil itu. Kau menghitung hari penuh rasa sesal. Menyesal karena memang salah, bisa juga menyesal telah terlalu banyak mengabdi pada bangsa ini. Dan semua sia-sia belaka. Namun, kita sama-sama menunggu, adakah hari kebebasan itu akan datang? Adakah penjara besar ini pun runtuh, sehingga memungkinkan kita semua hidup benar-benar bersih?

Mungkin masih lama, namun kita toh tidak pernah boleh putus asa. Lebih-lebih kau yang di dalam sana. Nikmatilah penjara kecilmu sebagai kesempatan yang langka. Berbuat baiklah di sana, supaya lekas keluar. Sudah banyak yang antri menggantikanmu, yakni mereka-mereka yang mengaku bersih itu…

Jakarta, 20 Maret 2006

Leave a Reply