Mudik Naik Motor Lagi Ah…
Mudik naik sepeda motor betul-betul telah menjadi pilihan. Tahun ini terjadi lonjakan jumlah pemudik bermotor sebesar 40 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai jumlah 2 juta kendaraan. Mengapa bisa terjadi?
Sebab, tak ada moda transportasi yang semurah dan semerdeka sepeda motor. Pesawat? Ya, untuk kalangan menengah atas tarifnya masih terjangkau. Kereta api? Ah, sakit hati berebut tiket dengan calo. Bus? Sama saja, malas beradu otot menawar tuslah, belum lagi kerap terjebak kemacetan di hari-hari puncak. Mobil pribadi? Harga bensin nyaris tak terbeli…
Banyak yang menarik dari perjalanan mudik bersepeda motor. Cermin bangsa ini ada di sana: menang sendiri, terabas aturan, napas pendek, emosional. Ada pula cermin yang lain: kebersamaan, keramahan, ketekunan. Tulisan ini merupakan refleksi pengalaman saya 2 tahun lalu tatkala mudik ke Jogja mengendarai sepeda motor. Lebaran kali ini kembali saya akan menumpak kuda besi, menjadi bagian kecil dari sekitar 400.000 pemudik bermotor yang akan meninggalkan Jakarta, sebagaimana diprediksi oleh Kepala Dinas Perhubungan DKI, akhir September lalu.
Mental pemburu
Mudik bermotor memberi banyak pelajaran. Watak orang bisa dibaca dari perilaku mereka di jalanan. Tentu bukan potret yang utuh. Tetapi setidaknya bisa mengungkap wajah aslinya. Secara khusus, dalam tulisan ini, saya hendak menyorot wajah asli Jakarta, tempat saya merantau dan beranjak pulang kampung.
Wajah Jakarta ada di sepanjang jalan. Sekeluar dari Bekasi hingga Cikampek, banyak pengendara memacu motornya dengan amat kencang. Maklum, kebanyakan menunggang motor baru keluaran tahun-tahun belakangan. Dengan kapasitas mesin yang besar pula. Lagian hari masih pagi, tepatnya dini hari. Waktu ini saya suka karena Jakarta agak ramah: sepi dan tenang.
Memasuki Indramayu, Cirebon, hingga Tegal, mulai banyak pengemudi “bertumbangan”. Mereka kelelahan. Perjalanan lebih dari 4 jam telah menguras tenaga mereka. Lebih-lebih, tak sedikit di antaranya menjalankan ibadah puasa.
Inilah cermin itu. Banyak pengendara mengira bahwa perjalanan mudik layaknya penempuhan Bintaro-Kebayoran, Depok-Menteng, Bekasi-Palmerah. Pacu sekencangnya supaya lekas sampai. Maklum, di hari-hari biasa mereka lakukan itu. Berburu waktu supaya tidak terlambat masuk kantor. Tancap gas supaya terbebas dari jebakan macet.
Banyak pengendara yang baru sekali melakukan perjalanan jauh. Malah, tak sedikit yang baru bisa mengendarai motor. Dengan motor baru pula, yang kilometernya belum genap 100, yang baru keluar dari dealer seminggu lalu. Mereka bertumbangan di pompa bensin sepanjang perjalanan. Kelelahan.
Mengapa mereka tumbang? Karena mental mereka sprinter, padahal lintasan yang harus dilalui adalah marathon. Napas mereka pendek, sementara perjalanan panjang. Mereka terbiasa hidup dengan target. Sekian jam harus sampai. Sekian waktu harus tercapai.
Jakarta, dan mungkin kota-kota besar lainnya, memang telah mengajarkan mereka untuk berburu. Selalu bergerak cepat. Meraih hasil. Acapkali proses harus dibiarkan terbengkalai supaya pencapaian hasil lebih optimal.
Mau menang sendiri
Tentu yang dimaksud bukan mental pemenang. Tetapi mental mau menang sendiri. Betul, di rantau mereka telah digembleng oleh situasi untuk bisa bertahan dalam segala situasi. Mereka harus pintar-pintar merancang siasat supaya bisa mendapatkan pekerjaan. Ketika bekerja, mereka harus berusaha berusaha keras untuk mendapatkan keuntungan. Ketika sudah untung, mereka harus bekerja keras untuk memenangi persaingan, jangan sampai mereka jatuh.
Jalanan juga mempertontonkan itu. Di Jakarta, motor sering dikeluhkan oleh pengguna moda transportasi yang lain sebagai raja jalanan. Berhenti di depan marka, naik ke trotoar, mendului dari kiri, menyerobot di persimpangan. Perilaku itu begitu melekat. Begitu sampai di simpul-simpul kemacetan, karena pasar tumpah misalnya, pengendara motor dengan gesitnya mencari celah untuk bisa menyelinap di antara kesesakan.
Ambil sebelah kiri, menyalip di sebelah kanan, atau kalau dari depan terhadang kendaraan besar, tak sedikit motor yang banting stang melaju di tepian lajur lawan, melipir melawan arus. Kendaraan sebesar apa pun tak akan berani jika dihadang oleh iring-iringan sepeda motor. Sungguh, karena motor adalah raja.
Secara psikologis, berada di tengah kerumunan motor memang serasa penguasa jalan. Penguasa yang lahir dari keterhimpitan. Jangan sembrono menghadapi pemudik bermotor. Meski mereka tidak saling mengenal, solidaritas mereka besar. Pernah suatu ketika sebuah mobil menyerempet pengendara motor hingga jatuh. Mobil itu melaju seperti tidak tahu. Karena dianggap melarikan diri, beberapa pengendara motor mengejar mobil itu. Tertangkap. Segesit-gesitnya mobil, toh, di tengah arus mudik ia tak bisa lari ke mana. Penghakiman massa pun tak terhindarkan, padahal belum tentu mobil itu bersalah.
Sering, kecelakaan terjadi akibat sikap sembrono pengendara motor sendiri. Berhenti tak kasih tanda. Mendului tak perhatikan kendaraan lain. Beriringan terlalu mepet. Karenanya, tah heran jika Polisi pun secara khusus menyediakan jasa pengawalan secara estafet supaya pergerakan kendaraan roda dua ini lebih tertib.
Kembalinya kebersamaan
Di luar itu, banyak pemandangan unik yang menjadikan mudik sebagai ritual yang bikin kangen. Salah satunya adalah keramahan. Orang-orang yang biasanya terkesan begitu angkuh itu seolah dalam sekejap menjadi orang yang begitu hangat. Saat beristirahat di pompa bensin, atau sekadar berteduh di bawah pohon, saling sapa pun spontan bersahutan. Pertanyaan soal tinggal di mana, tujuannya ke mana, mengalir menjadi pelunas dahaga di tengah kelelahan. Barangkali nasiblah pemersatunya. Sama-sama pemudik. Sama-sama berada di tanah orang, mencari makan di sana. Bahasa perbincangan pun berubah.
Layaknya sahabat yang telah lama terpisah, perjumpaan-perjumpaan kecil itu layaknya reuni dalam keluarga. Ada ibu yang menawarkan segelas air minum. Ada bapak yang mempersilakan saya untuk berbaring sejenak di tikarnya, sekadar untuk meluruskan punggung, ada yang membantu menurunkan tas ketika hendak mengisi bensin. Ah, rasanya uluran-uluran kasih itu begitu tulus. Meski kadang basa-basi pun terlontar. “Nanti kalau lewat Temanggung, singgah di rumah kami, Mas.”
Perlawanan sekaligus kepasrahan
Di balik semua itu, saya merasakan, pilihan mudik menggunakan sepeda motor adalah sebentuk perlawanan. Terhadap apa? Terhadap minimnya fasilitas publik yang manusiawi. Terhadap kesulitan hidup yang kian mengganas. Dari tahun ke tahun, pemerintah tak pernah tuntas dalam menyediakan moda transportasi yang nyaman dengan harga terjangkau. Jalan tol dibangun di mana-mana, tetapi angkutan massal bobrok di sana-sini. Akibat semakin dihimpit, masyarakat memberontak.
Mudik bermotor adalah pemberontakan yang pasrah. Perlawanan diam. Karena pemerintah tidak pernah memikirkan secara serius persoalan tahunan ini, masyarakat akhirnya memilih untuk memikirkan dirinya sendiri. Di atas dua roda, mereka memasrahkan dirinya pada diri sendiri.
October 10th, 2006 at 4:48 am
ati2 nang ndalan yo le…
October 11th, 2006 at 6:22 pm
tanya ken apa?
September 25th, 2007 at 8:57 pm
setuju, anda pantas dijuluki bikers, oh ya bro ada rencana lebaran ini muleh? pake kuda besi? tips dari saya menikmati perjalanan itu, janagan kesusu, live to ride
November 1st, 2007 at 5:12 pm
thank u untuk saranmu dulu jakarta bandung via bogor.
sing biasane mudik lebaran bandung-jogja nunggang montor pun taun ini kandas, STNK ku ilang mas…