Menyibak Klaten
Tentu saja sangat sedih ketika melihat kenyataan bahwa Kota Kecamatan Gantiwarno, Klaten, rata dengan tanah. Pertokoan di sepanjang jalan rubuh hingga ke jalan. Melihat bekasnya, rasanya rumah itu tidak hanya diguncang namun dilontarkan sehingga puing-puingnya menutup jalan selebar enam meter itu. Menengok agak ke dalam, keadaan lebih memprihatinkan. Rumah-rumah di desa-desa tak ada yang utuh.
Hanya terlihat SMP Gantiwarno yang sebagian berdiri tegak. Itu pun, saya sangsi, bangunan itu masih layak digunakan. Di samping sekolah, di tanah lapang, SAR Kabupaten Sragen telah mendirikan tenda militer untuk para korban. Belum padat. Baru beberapa orang terlihat menempatinya, Senin, 29 Mei 2006 sore. Senja sudah menyapa ketika kami hendak meninggalkan kota kecil itu. Pengungsi yang tinggal di tenda-tenda mulai menyalakan teplok dan lampu penerangan seadanya.
Jangan dibayangkan tenda yang mereka pakai selalu besar. Banyak yang kecil, seukuran 5×4 meter saja. Itu pun untuk beberapa kepala keluarga. Dan pastilah, orangtua serta anak-anak yang didahulukan untuk berteduh. Sedang anak muda dan bapak-bapak lebih berperan untuk berjaga-jaga. Pemandangan memilukan menohok di depan mata tatkala dua buah mobil pick-up melintas.
Karena lalu lintas melambat, sontak orang-orang di kanan-kiri jalan menyerbu kendaraan itu dan menguras habis barang-barang yang diangkut di bak. Ada mi instan, ada pula berbagai bungkusan dos lainnya. Sekejap saja, isi bak itu ludes. Jangan pula membayangkan bahwa pelaku “penjarahan” itu anak muda, laki-laki, yang beringas, dan bertampang sangar. Sama sekali tidak. Justru kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu dan bapak-bapak tua. Dengan daster atau berkalung sarung. Bercelana pendek, ada yang tak beralas kaki. Dengan wajah penuh belas kasihan, tentu saja.
Saya duga, wajah itu memperlihatkan tubuh yang kelaparan karena bantuan tak kunjung tiba. Saya juga punya dugaan, perilaku itu lebih merupakan cermin kekhawatiran bahwa mereka bakal tidak kebagian makanan. Rasa cemas yang mendalam. Saya tidak tahu, makanan yang mereka “jarah” itu hendak disimpan di mana mengingat tak satu pun bangunan layak menjadi tempat penyimpanan. Di tenda, mungkin. Namun, bagaimana jika hujan mengingat sore itu mendung menggelayut, dan sejam kemudian hujan deras mengguyur mereka.
Pemilik mobil yang barangnya diserobot tampak tak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak turun dari kemudi. Mungkin takut, mungkin juga pasrah. Namun, sopir mobil belakang turun sambil membentak-bentak, “Sudah-sudah! Yang lain nanti tidak kebagian!” Dan massa pun beringsut mundur. Saya kehilangan kata-kata. Saya tahu mereka kehilangan rumah. Saya paham mereka merasa hampa. Mereka lapar. Bingung. Kalut. Gelisah. Mungkin juga marah. Pada siapa, entah. Mungkin pada diri sendiri. Mungkin pada negara yang tidak becus ini. Mungkin pada Tuhan yang murka.
Belum sirna ketrenyuhan saya, wajah-wajah lain menghadang. Di sepanjang jalan berdiri orang-orang, laki-laki perempuan, tua-muda, menyodorkan kardus atau besek, atau wadah-wadah lain untuk mencari sumbangan dari orang-orang lewat. Banyak sekali! Banyak sekali. Sepanjang jalan. Sepanjang hari!
Wedi relatif utuh
Gereja santa maria jadi posko penampungan mayat
Sekitar candi prambanan rusak, di sepanjang jalan solo
Klaten, 29 Mei 2006
December 11th, 2008 at 12:13 pm
Blogwalking ..
nice posting i found here,.. thanks for the info