Mengembalikan Anak Kepada Keluarga

Relevansi topik ini adalah terjadinya bencana yang bertubi-tubi melanda negeri ini, termasuk tanah Jawa Tengah. Gempa, tsunami, gunung meletus, dan berbagai bencana alam lainnya. Salah satu akibat paling kentara dari bencana itu adalah tercerai-beraikannya keluarga satu sama lain. Suami terpisah dari istrinya. Ibu terpisah dari anak-anaknya. Nah, korban yang menderita trauma paling dalam dari peristiwa perpisahan ini adalah anak-anak.

Oleh karena itu, pasca bencana gempa bumi yang meluluhlantakkan Klaten dan Jogja, serta pasca tsunami yang mengguyur Cilacap, Kebumen dan pantai selatan Jawa, kiranya perhatian pada anak-anak korban bencana alam ditempatkan pada prioritas utama. Mengapa? Karena anak memiliki kemampuan bertahan hidup (life survival) yang masih terbatas, atau malah belum punya sama sekali. Mereka belum bisa menolong dirinya sendiri.

Selain itu, trauma pada anak sangat sulit dihapus. Ingatan akan penderitaan yang pernah mereka alami akan membekas sepanjang hidup. Dan keluargalah institusi paling teruji yang sanggup menyembuhkan secara perlahan-lahan bilur-bilur penderitaan. Tulisan ini terinspirasi oleh gagasan Hermann Gmeiner, pecinta anak-anak asal Austria. Ia menyatukan anak-anak korban Perang Dunia II ke dalam keluarga. Tentu bukan kandung, karena kebanyakan mereka kehilangan orangtua.

SOS-Kinderdorf, lembaga yang didirikannya sejak tahun 1949, kini telah meluaskan karyanya di 132 negara di dunia, termasuk di Indonesia, dengan gagasan utama mengembalikan anak kepada keluarga. Memulihkan trauma Yang kerap terlupakan setiap kali terjadi bencana adalah perhatian pada korban anak-anak. Bantuan yang mengalir kerap hanya ditujukan kepada orang dewasa. Relawan yang berlarian ke lokasi bencana pun kebanyakan terpaku untuk bertanya pada orangtua, pada mereka yang masih bisa berkata-kata? Sedangkan pada tangisan bayi? Pada rengekan anak yang jongkok di depan reruntuhan rumah? Pada anak yang bengong menunggui bapak dan ibunya terluka di rumah sakit? Bahkan, pada anak yang meraung-raung di pelukan ibunya?

Mereka kerap terabaikan. Atau, kalau pun terperhatikan, umumnya setelah dua-tiga hari bencana terjadi. Ketika tangisan mereka menjadi-jadi. Atau ketika air mata mereka sudah habis. Jauh hari setelah bencana terlewati pun, anak-anak ini kembali terabaikan. Mentang-mentang anak sudah berkumpul kembali dengan keluarga di tenda. Atau malah sudah kembali ke sekolah dengan segala keceriaannya. Padahal, ingatan yang membekas pada anak tentang bencana tidak begitu saja bisa hilang.

Pengalaman buruk selalu terekam di benak anak sebagai goresan hitam yang menyakitkan. Kelak, sakit itu bisa kambuh lagi manakala ternyata balutan lukanya tidak sungguh-sungguh menyembuhkan. Anak itu jujur. Mereka juga spontan. Bisa jadi mereka segera dapat melupakan kejadian buruk yang menimpa tempo hari. Namun, ingatan bawah sadar tidak bisa direkayasa. Kekelaman masa lalu akan menjadi mimpi buruk di kemudian hari tatkala peristiwa serupa mereka hadapi. Anak-anak korban tsunami contohnya. Baik di Aceh maupun Cilacap-Kebumen dan pantai selatan Jawa, anak-anak menjadi takut akan air. Mereka takut mandi. Air, yang hanya satu bak, dalam benak mereka tak ubahnya air bah yang siap menggulung.

Maka, untuk memulangkan kecintaan pada air, untuk yang muslim, anak diajak untuk menjalankan ibadah sholat. Harus wudlu dulu, bukan? Jalan inilah yang akhirnya menjadi pendamai anak kepada air. Anak-anak yang menyaksikan rumahnya meliuk-liuk digoyang gempa, juga jadi takut kembali ke rumah. Bagi mereka, rumah bukan lagi tempat nyaman untuk berteduh, namun monster yang siap membinasakan. Maka, harus dipikirkan cara agar anak kembali mau tidur di rumah, kelak jika bangunan baru sudah didirikan. Mengajak anak untuk membantu menyiapkan batu-batu, mengestafetkan genting, mengaduk semen, bisa menolong anak untuk meyakini bahwa rumah yang kelak mereka tempati cukup kokoh karena mereka ikut membangun.

Dengan keyakinan dari dalam diri anaklah, pelan-pelan mereka berani meninggalkan tenda. Mengembalikan kepada keluarga Di antara begitu banyak tugas penyembuhan trauma anak, tentu yang perlu juga dikaji adalah bagaimana mengembalikan anak tersebut kepada kehangatan keluarga. Jangan biarkan anak terlalu lama tinggal di tenda, apalagi di barak yang bercampur dengan orang lain. Sebab, percampuran dengan berbagai macam orang dalam situasi buruk begini tetaplah tidak baik. Anak kehilangan teladan untuk melakukan hal-hal kecil seperti mandi, menyapu lantai, atau membantu ibu.

Oleh karena itu, bagaimana pun terbatasnya, anak harus segera dikembalikan ke “rumahnya”. Yang orangtuanya masih utuh disatukan kembali hanya dengan bapak, ibu, dan kakak-adik. Yang kehilangan semuanya dipulangkan ke saudara terdekat, kakek-nenek, paman-tante, atau kerabat dekat. Adopsi adalah pilihan terakhir. Sebab, yang dibutuhkan anak bukan status orangtua, melainkan kasih-sayang, direngkuh, diselimuti kehangatan. Perasaan terlindung, nyaman, tenang, adalah awal dari beresnya proses pemulihan trauma.

Dan keluarga adalah tempat paling ideal. Melihat bapak kandung sendiri sedikit demi sedikit membersihkan puing-puing rumah, menyerut kayu untuk bakal tiang rumah, menganyam bambu untuk bakal dinding sementara, bagi anak besar sekali pengaruhnya. Teladan ini meyakinkan anak bahwa mereka wajib menatap masa depan dengan semangat. Menemani ibu kandung sendiri memasak di dapur darurat, dengan bahan sayuran seadanya, tungku dari tatanan batu-bata, adalah spirit bagi anak bahwa masih ada makanan yang bisa mengenyangkan dan akhirnya menghidupi.

Dengan teladan nyata tersebut, anak diberi contoh bagaimana mereka menyembuhkan sendiri traumanya. Dengan cara ini pula anak menemukan sosok orangtua mereka yang tegar, yang berani bangkit dari keterpurukan, yang tidak sekadar meratap mengharapkan bantuan dari luar. Di mata anak, teladan ini menjadi bukti bahwa keluarga mereka punya harga diri. Nilai ini sangat penting untuk bekal anak ke depan. Semoga, dengan cara ini, anak menemukan kembali keceriaannya yang terenggut.

Semoga anak-anak korban bencana bertumbuh menjadi generasi yang tangguh, yang pantang menyerah, dan mencintai keluarganya.

Kompas, 8 Agustus 2006

Leave a Reply