Ibu

Semalam aku terhenyak. Tiga sahabat sedang bergulat hati karena satu alasan: ibu. Satu orang ingin lari meninggalkan ibunya. Satu orang hendak merasakan kembali kehangatan ibunya. Satu lagi baru saja melepas hidup ibunya.

Orang pertama, inisial R, tiba-tiba saja marah ketika kutanya hendakkah ia mudik ke Jogja lebaran depan? Tidak, katanya. Tidak pula pada Natal depan. Sudah tidak ada yang menjadi tujuan pulang, katanya. Tentu aku bengong. Ia masih punya ibu, sejak bapaknya mati beberapa tahun lalu. Memang, tak berselang ibunya kawin lagi.

Entah apa yang menyebabkan mereka terbelah. Aku tak berusaha mencari tahu. Biarkan saja ia bicara, andai memang perlu. Dan memang ia bicara, "Sudah lebih dari dua tahun aku tak berkomunikasi dengan ibuku." Lalu, "Aku malas pulang karena tidak mau bertemu dengan orangtuaku sendiri."

Ia marah.

G adalah inisial orang kedua. Ia baru 40 hari didului istrinya menghadap Bapa, demikian ia memanggil Allahnya. Dua putri-putra ditinggalkan istrinya untuk sejak kematian itu ia asuh seorang diri. Usianya 52 tahun, telah menjalani pernikahan 17 tahun. Selama itu pula ia dicoret dari daftar keluarga besarnya, termasuk tidak berkomunikasi dengan ibunya.

Ia Cina, menikah dengan perempuan yang bukan dari sukunya. Tidak kaya pula. Begitu alasan yang dikemukakannya untuk menyebut penyebab pembuangannya. Ia tertunduk mengingat mendiang istrinya, perempuan yang digambarkannya sebagai sosok yang tegar dan berjiwa besar. Perempuan itu mendidik kedua anaknya dengan lembut, sepenuhnya hendak melindungi anak-anak yang tidak diakui neneknya itu.

Yang membuatnya terharu, hari-hari terakhir sebelum ajal menjemput, sang istri berulang kali meminta untuk diantar menemui mama, ibu G. Tetapi G menolak, tanpa menanyakan tujuannya. Ia hanya menebak setelah peristiwa kematian itu, mungkin sang istri hendak berpamit kepada ibu bahwa ia telah selesai menunaikan tugasnya dengan baik.

G memaafkan ibunya.

Sosok ketiga seorang pastor. Penulis ini berinisial S. Ibunya mati setelah dirawat sekira 2 minggu di Jakarta. Hidup ibunya banyak dihabiskan di Jawa Timur. Khusus untuk menjemput maut ibu itu pergi ke Jakarta, berada di tengah banyak anaknya yang berkumpul di ibu kota.

Misa requiem diselenggarakan keesokan sorenya. S sendiri yang memimpin misa bersama 4 konselebran teman seserikatnya. Sepanjang misa, ia banyak melantunkan kidung-kidung rohani yang selalu ia bisikkan ke telinga ibunya semasa dirawat di rumah sakit. Bacaan Injil yang dicukilnya dari Kidung Simeon pun ditembangkannya, dalam bahasa Jawa pula. Ya, ia Cina yang amat mencintai kebudayaan Jawa, sebagaimana ibunya.

S tampak terpukul dengan peristiwa kematian ini, meski dalam kotbahnya ia berusaha menunjukkan ketegaran. Bagaimana tidak, setelah semua saudaranya hidup berkeluarga, praktis ia sendirilah yang masih boleh sepenuhnya dicintai sebagai anak.

Ibu itulah alasan utama dirinya ketika setiap kali ada undangan ke Jawa Timur. Ia selalu berusaha menyanggupi, untuk sekalian menjenguk ibu yang belum menjadi Katolik ketika sekian tahun lalu melepasnya pergi ke seminari.

Devosi S pada Bunda Maria begitu kental. Beberapa buku tentang Maria sudah dikarangnya. Maria adalah ibu sejati yang dirindukannya. Mungkin pada ibunya ia menemukan sosok Maria yang dekat di hatinya.

Natal depan akan menjadi liburan yang hampa baginya. Andai ia tetap pulang kampung seperti biasanya, tidak ada lagi kening ibu yang bisa dikecupnya. Tidak ada lagi lengan renta yang bisa dituntunnya.

Ia kehilangan.

Aku bersyukur masih punya ibu, yang masih boleh kucintai sepenuhnya tanpa syarat apa pun. Ia bahagia hidup di desa, menemani suaminya, bapakku, berkebun. Mereka adalah alasan utamaku setiap kali pulang kampung.

One Response to “Ibu”

  1. one-tea Says:

    Ealah Kun…aku dadi nagis kelingan ibuku. Soalnya akhir2 ini aku kangen pulang tapi belum kesampaian…..

Leave a Reply