Wisata Bencana
Ada
pemandangan unik di antara reruntuhan bangunan-bangunan korban gempa bumi. Tiada lain adalah munculnya beraneka tulisan dengan nada kurang lebih sama, “Kami bukan tontotan, kami butuh bantuan.”
Bahkan, seorang teman yang rumahnya roboh sempat menyebarkan sms yang berbunyi, “Tolong sebarkan imbauan: jangan penuhi jalan daerah bencana hanya untuk NONTON, karena hambat distribusi. Sms itu dikirim pada Rabu, 31 Mei 2006, pukul 03.25 WIB. Pagi sekali.
Teman yang tinggal di Ganjuran itu pantas jengkel. Rumahnya ambruk. Ibunya sakit gara-gara tertimpa bagian bangunan. Sementara rerobohan rumahnya sering dijadikan background orang-orang yang hendak berfoto mengabadikan kejadian. Hatinya panas, merasa bahwa orang-orang itu tak punya perasaan sama sekali. Tega-teganya mereka berpose layaknya di studio foto di depan puing-puing rumah itu. Maka, untuk memampat kejengkelannya, ia mendirikan pagar seng di depan reruntuhan rumahnya. Setelah berdiri, ia torehkan tulisan besar-besar berwarna merah, “INI BENCANA, BUKAN PANORAMA”. Tujuannya, katanya, supaya tidak ada lagi orang yang mengambil gambar bekas rumahnya. Padahal ia keliru, dengan tulisan sedemonstratif itu, orang justru memotret semakin sering. Terutama, tulisan itu pasti jadi santapan empuk para wartawan foto. Ah, serba keliru memang.
Memang, peristiwa seperti ini selalu berulang di lokasi bencana di mana pun. Banyak yang berseliweran bukan hendak membantu, tapi sekadar melihat-lihat. Dan mereka tidak selalu masyarakat biasa. Pejabat, artis, atau figur publik lainnya kerap melakukan itu. Pejabat datang diiring kendaraan polisi, sirine meraung-raung, pengawalan sangat ketat, menggelar kegiatan seremonial penyerahan sumbangan, dan sesudahnya pulang. Artis juga begitu, tak sedikit yang mendompleng popularitas. Datang ke lokasi diiringi puluhan wartawan infotainment, diselingi perilaku-perilaku yang cari muka belaka.
Tentang sirine pejabat sungguh menjengkelkan. Di tengah kesusahan, masih saja mereka meminta prioritas jalan, menggusur orang lain, bahkan meminta minggir relawan yang hendak mengirimkan bantuan logistik. Tidak sadarkah mereka suarana sirine yang meraung-raung itu melukai perasaan korban? Tidak tahukah bahwa hari-hari sebelumnya korban dihantui ribuan suara raungan sirine ambulans pemberi pertolongan? Tidak semua orang bisa membedakan mana suara sirine ambulans, mana sirine mobil patroli polisi/dinas perhubungan, dan mana sirine kendaraan iseng. Bagi mereka, semua sama saja. Suara-suara gaduh itu membuat mereka cemas dan gelisah.
Yang menyakitkan, tentu saja, rombongan “wisatawan bencana” itu memacetkan jalanan di daerah bencana pada hari-hari pertama sesudah gempa bumi melanda. Padahal, di hari-hari itu, jalanan –yang rata-rata sempit– sedang dibutuhkan untuk mengevakuasi korban sakit, untuk mendatangkan alat berat guna menggali korban yang masih tertimbun, dan menyalurkan bantuan logistik. Juga menyesaki perasaan keluarga korban yang datang dari luar kota segera ingin mengetahui nasib kerabatnya.
Belajar dari pengalaman bencana di tempat lain, fenomena “wisatawan bencana” ini masih akan berulang. Mereka bisa berkedok relawan sekali pun, yang sibuk ke sana-kemari tapi sejatinya tidak melakukan apa pun. Bisa pula berupa pejabat yang pura-pura meninjau padahal hanya pengen disorot kamera.
June 7th, 2006 at 8:35 pm
relawan yg over exposed berarti bukan benar-benar relawan…