Memoria Rumah Mbah Kung

Rumah Mbah Kakung itu nyaris tersungkur. Ia kalah dalam pertarungan hidup-mati melawan gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter, Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.55. Goncangan gempa itu mengoyakkan seluruh rahang rumah dan tembok penahannya.

Kalau ternyata rumah itu tak benar-benar roboh, ini dapat dibaca sebagai pernyataan bahwa sang penghuni rumah, Pakde dan Bude Darsono, diberi kesempatan menyelamatkan isi rumah. Ya, hanya isinya. Rumah itu sendiri sudah tidak lagi mengijinkan dirinya ditinggali.

Tembok kamar Simbah roboh. Pembatas depan ruang tamu dengan longkang (jawa, ruang terbuka di dalam rumah) miring. Tembok belakang bongkah. Lemari bertumbangan. Hanya atap yang belum runtuh, kecuali atap dapur. Sementara lantai tak melepuh.

Pendopo depan rumah telah lama rubuh. Bukan karena gempa, tapi karena rapuh. Pendopo yang pernah jadi kandang ayam petelor itu telah lama diambrukkan untuk ditanami pohon-pohon buah.

Rasa was-was menghinggapiku begitu memasuki rumah sekadar merasakan aura keganasan alam. Membuat gerakan teledor, berlari misalnya, bisa-bisa mengambrukkan seluruh bangunan. Namun, tidak melongok ke dalam ibarat tidak mau menjenguk ibu yang sakit dan nyaris sekarat. Keterlaluan.

Namun, menapakkan kaki ke dalam rumah bukan perkara enteng. Hati ini berat rasanya. Meski tak meneteskan air mata, aku paham betul, sejatinya aku menangis. Penuh dalam benakku kenangan masa kecil di rumah itu. Ketika aku “ditetah” Mbah Putri supaya bisa lekas jalan. Gara-gara aku pula, Mbah Putri jatuh terpeleset, dan retak tangan kirinya. Hingga harus di-gips. Pegangan tangan dari bambu khusus dibuatkan Mbah Kakung untukku. Dan aku pun akhirnya bisa berjalan, meski ketika bisa berlari kencang sekencang-kencangnya, Mbah Putri tak bersama kami lagi. Beliau meninggal 30 Desember 1978 akibat kanker leher rahim yang dideritanya. Praktis, aku hanya beroleh kesempatan setahun lebih sebulan menerima kelembutan bimbingannya. Beliau wafat dengan gips yang belum dilepas. Tangannya masih retak.

Di rumah itu aku teringat Mbah Kakung, yang 20 Juni 2006 rencananya kami peringati 1000 hari wafatnya. Mbah Kakung sosok yang murah senyum, meski dulu katanya dikenal sangat galak. Waktu muda, beliau adalah bakul sandangan dari pasar ke pasar. Kantung kain selalu dibawanya ke mana-mana, diletakkannya di bawah sadel sepeda, dan ia duduki. Tak heran, ada yang menjuluki beliau sebagai Karto Kantong.

Aku menyadari keberadaan Mbah Kakung ketika beliau sudah memakai gigi palsu. Saban pagi gigi itu disikat. Lucunya, aku ketawa waktu itu, sepasang gigi atas-bawah itu dilepas sehingga ketahuanlah kalau Mbahkung sejatinya ompong.

Di usia tuanya, Mbah Kung masih suka bersepeda. Ia suka bersepeda ke Srandakan, tepi kali Progo pada lebaran hari kedua. Di sana selalu ada tontonan rakyat, sebab itu sangat menarik perhatian beliau. Kebiasaan pergi bersepeda itu berhenti, pertama, ketika salah satu keluarga kami menghardik, “Simbah ki wis tua. Wis ora wayahe pit-pitan tekan endi-endi. Putu-putune ki ndene pengen ketemu mbahne….” Simbah sudah tua. Sudah tidak saatnya bersepeda ke mana-mana. Cucu-cucu ke sini pengen ketemu kakaknya… Dan kedua, ketika beliau jatuh di sawah, dan diantar pulang oleh seseorang.

Dulu, kata Ibu, Mbah Kakung suka mengajak pergi ke sekaten di Alun-alun Utara Jogja. Tentu saja naik sepeda. Ibu membonceng di belakang. Mbah Kakung dengan entengnya menggenjot sepeda sekitar 15 kilometer jauhnya. Sampai tahun 1998, ia masih kuat bersepeda. Masih kokoh. Masih lincah.

Kelincahan Mbah Kung juga berlaku untuk aktivitas membaca. Dalam usia 85 tahun, beliau masih bisa membaca koran tanpa kacamata. Beliau bahkan mengikuti tulisan-tulisanku di Harian Bernas, koran yang menjadi langganan Mas Tri, putra Bude Darmi. Aku ingat persis, jika aku ke sana, Simbah suka berkomentar, “Wah, tulisanmu ana nang koran….” Tulisanmu ada di koran, katanya. Sungguh mengharukan mengingat saat itu.

Sayang, memasuki usia 91 tahun, fisiknya tak kuat lagi menopang jiwanya yang masih segar. Penglihatannya memudar. Daya ingatnya merosot. Namun, masih bisa makan sendiri. Bubur dan telor mata sapi kesukaannya. Untuk berjalan butuh penyangga sebelum lima hari betul-betul tak bisa berjalan, tergolek di tempat tidur. Rabu malam, 24 September 2003, sebelum pergantian hari, beliau wafat setelah dua jam sebelumnya didoakan keluarga dan tetangga dalam pengajian surat Yasin.

Tentang pengajian itu ada ceritanya juga. Pada waktu sehat, Mbah Kung sempat ditawari untuk menerima sakramen permandian, mengikuti jejak Mbah Putri yang dibaptis dengan nama Maria. Tawaran datang dari ibu, seorang katolik, anak ragil dari lima bersaudara. Namun, pertimbangan lain muncul ketika pada masa sakitnya, Mbah Kung tinggal di rumah Bude Darmi, anak ketiganya. Dua setengah tahun Simbah dirawat di sana, oleh Bude yang seorang muslim. Simbah sendiri penganut yang sama, meski tidak taat sebagaimana orang Jawa kebanyakan. Jadi, tidak masuk akal jika kemudian Simbah dibaptis. Selain itu, sungguh tidak hormat terhadap Bude. Maka, diputuskanlah untuk menyelenggarakan pengajian itu, memohon kepada Allah jalan terbaik untuk Simbah.

Dan benar, sepeninggal jamaah pengajian, Mbah Kung berpulang ke rumah abadinya di surga. Malam itu, Rabu, 24 September 2003, pukul 23.30, Sugiya Kartowihardjo wafat. Ternyata Mbah Kung hanya butuh didoakan dan direlakan.

Ingatan itu kembali muncul tatkala menatap rumah yang menghadap ke barat itu. Sekilas utuh. Namun sejatinya lumpuh. Tembok kamar roboh tak bersisa, merobohkan semua torehan masa lalu.

Pakde dan Bude Darsono, kini, mendirikan tenda di depan rumah. Cukup kokoh, setidaknya untuk bertahan tiga bulan. Lama sekali? Ya, untuk merobohkan dan membersihkan puing-puing saja membutuhkan waktu tidak sebentar. Tetangga kiri-kanan tidak mungkin membantu karena rumah mereka pun rubuh. Saudara-saudara dekat? Juga tidak. Rumah mereka pun doyong. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk membangun.

Rumah Bude Darmi, yang bersebelahan dengan rumah Mbah Kung, ambruk di sisi kiri dan kanan. Sisi kiri kandang babi dan sapi. Sisi kanan dapur dan kamar Bude serta Mas Heri. Juga tempat mencampur pakan. Bagian tengah, yang lebarnya sekitar 30 meter tampak utuh. Namun, tembok belakang televisi koyak. Tembok depan miring. Sangat tidak layak untuk dihuni. Maka, Bude Darmi dan Pakde tidur di luar, di bawah tenda. Karung bagor bekas tempat pakan dimanfaatkan untuk menutup sisi lain, menghalau angin malam yang dingin. Untunglah teras masih utuh sehingga bisa untuk menaruh barang-barang…

Rumah Pakde Darto, 400 meter sebelah barat Rumah Bude Darmi, tak kalah menyedihkannya. Rumah utama, yang didirikan Mbah Kung tahun 1940-an nyaris rata dengan tanah. Bude, yang waktu itu sedang memasak, terjebak di tengah reruntuhan. Untunglah hanya terluka sedikit. Kamar-kamar yang dulu kami tiduri jika menginap, yang berplafon anyaman bambu, kini sudah beratap langit. Foto Bung Karno, tokoh favorit Pakde, yang terpasang di atas televisi, tersungkur tertimbun kayu dan genting. Basah dan sobek. Plat bertuliskan “S Kartowihardjo” masih terpampang utuh di atas pintu utama. S adalah kependekan Sugiya. Ya, Simbah pernah tinggal di tanah pembelian mertuanya itu.

Rumah depan, bangunan relatif baru yang belum sepenuhnya jadi, ikut rusak. Meski tidak runtuh sepenuhnya, namun sangat tidak layak huni. Pakde sempat dua malam tidur di teras rumah karena belum mendapatkan tenda untuk tidur di luar, di tempat aman.

Tempat aman? Ya, gempa susulan masih terjadi beberapa kali. Selain membuat panik, gempa itu juga potensial mengambrukkan bangunan-bangunan yang sudah retak. Pasti ini sangat membahayakan.

Untunglah kami bisa mencarikan bantuan untuk mereka. Posko Realino, yang terdiri dari JRS Indonesia-KWI-USD, telah memberi kami terpal, beras, mie instan, makanan ringan, dan susu untuk anak-anak. Kami juga mendapatkan bantuan lain dari Posko di Gelanggang Mahasiswa UGM, Posko di FE UAJY, juga dari beberapa posko lainnya. Bantuan awal itu, terutama tenda, sangat berarti untuk mereka. Maklum, tiga hari awal, hujan mengguyur sepanjang malam. Tenda-tenda itu cukup melindungi mereka dari hujan, meski tidak dari dingin.

Hari-hari berikutnya, kami terus menemani mereka. Tidak sekadar menghibur, namun membantu mereka bangkit dari keterpurukan. Lima hari setelah kejadian, sebagian listrik menyala, cukup membuat lega mereka. Sebab, sungguh tidak bisa dibayangkan bermalam di tenda tanpa penerangan memadai.

Ke depan, banyak pekerjaan yang harus mereka siapkan dari sekarang. Merubuhkan rumah dan membersihkan puing. Mendirikan bangunan baru. Dan terutama memulihkan mental, beranjak dari rasa cemas dan takut. Hari-hari ke depan adalah waktu yang sangat melelahkan bagi mereka. Panjang dan gamang. Namun, kami percaya, kebersamaan akan memompa semangat mereka untuk berdiri tegak kembali.

One Response to “Memoria Rumah Mbah Kung”

  1. Ade Says:

    wah, mbrebes mili aku le moco tulisanmu… *shrug*

Leave a Reply