Masih Ada Cinta di Antara Kita

Sungguh mengharukan pemandangan pada hari Minggu, 4 Juni 2006 itu. Ribuan kendaraan memasuki daerah bencana.

Ada

mobil bak terbuka, tak sedikit mobil pribadi. Juga ada beberapa bus, bus wisata malahan. Jalan lingkar selatan (ring road) Jogja macet. Mereka mengantri memasuki jalan-jalan menuju pusat bencana. Rata-rata mereka adalah tetangga keluarga korban.

Jika sebelumnya rombongan seperti itu datang ke lokasi untuk “berwisata”, menonton daerah bencana, kini mereka punya tujuan lain, yakni membantu korban untuk membersihkan puing-puing yang berserakan. Ya, bekerja bakti, seperti tulis spanduk yang terpampang di samping bus wisata itu.

Pada kaca depan truk mereka tertempel kertas bertuliskan “relawan tenaga”. Mereka datang dari berbagai daerah. Ada yang dari Sleman, Muntilan, Magelang, Temanggung, Wonosobo, dan masih banyak lagi. Melihat asalnya, pastilah mereka berangkat sebelum fajar.

Setiap kendaraan bisa menampung sampai dengan sekitar 50 orang, tua-muda, laki-laki perempuan. Ada yang duduk, ada yang berdiri. Pakaian mereka kebanyakan adalah pakaian kerja lapangan, dengan baju lengan panjang lengkap dengan topi pula. Tak lupa, mereka juga membawa serta alat-alat kerja seperti cangkul, linggis, sekop, dan gerobak beroda satu.

Sampai di lokasi masing-masing, setelah berembug dengan tuan rumah atau pengurus warga setempat, segeralah mereka bekerja. Ada yang menurunkan genteng di rumah yang utuh. Ada yang menggempur dan merobohkan tembok miring. Secara berenteng, mereka memindahkan kayu-kayu yang berserakan ke satu tumpukan tertata. Mereka memilah antara bahan bangunan yang rusak dengan yang masih dapat dipakai lagi. Ini berbeda dengan cara kerja sebagian tentara yang main bongkar menggunakan buldoser tanpa mengindahkan perasaan warga.

Sebelumnya, secara gotong-royong warga korban ini membersihkan sendiri puing-puing rumah mereka. Setiap hari, satu persatu. “Daripada nglangut merenungi nasib lebih baik bangun dan bergerak,” kata Pak Sahadi, seorang ketua RW di Gilangharjo, Bantul. Benar saja, dengan bekerja mereka bisa tertawa bersama, saling ledek, sehingga seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kebersamaan itu pula yang saling menguatkan mereka.

Warga setempat tampak senang dengan kehadiran bantuan tenaga ini. Maka mereka pun tampak lebih bersemangat dalam  ikut membersihkan puing rumah sendiri. Tidak mudah. Selain trauma terhadap bangunan, bisa jadi mereka tidak tega menjumputi sisa-sisa bangunan mereka sendiri. 

Para ibu dan remaja putri pun tak tinggal diam. Mereka menyiapkan makanan dan minuman. Sayang memang, bencana ini tidak cukup mampu menggeser paradigma masyarakat tentang domestifikasi perempuan sebagai kanca wingking; mereka yang bekerja di dapur. Padahal, pada saat bencana menghantam, siapa pun tergerak untuk mengulurkan pertolongan.

Baiklah, itu tak jadi soal. Mungkin, di hari-hari ke depan, cara pandang itu akan bergeser. Atau malah semakin kokoh. Yang terang, mereka semua tergerak untuk menyediakan keperluan tenaga-tenaga yang hendak menolong mereka sendiri juga.

Sebab, mereka tahu, tenaga-tenaga bantuan ini bukan orang bayaran. Mereka datang sukarela, atas desakan hati ingin meringankan beban keluarga korban. Aku kira, mereka sendiri bukan dari keluarga berkecukupan. Mereka adalah petani, yang rela meninggalkan garapan sawah dan hewan ternak. Meski sehari saja, toh itu sangat berarti bagi mereka. Dan toh mereka merelakan diri menjadi pelipur. Dengan cara mereka.

Benar saja, hari itu, bekas reruntuhan rumah mulai tampak bersih. Pandangan mata pun mulai lapang. Bayangan untuk mendirikan bangunan baru pun sudah berkelebat. Dari tumpukan kayu yang ada, segeralah tampak seberapa besar bangunan baru bisa mereka. Tanpa atau dengan bantuan dari pemerintah dan pihak luar.

Uluran bantuan itu laksana cinta yang terus mengalir. Kendati tersendat-sendat, namun bantuan dari mana pun, dalam dan luar negeri, terus datang mengalir. Apa pun bentuknya. Entah uang, barang, maupun tenaga relawan.

Bagi korban, semua bantuan itu pasti menguatkan mereka. Bahwa mereka tidak hidup sendiri. Bahwa banyak yang peduli dengan penderitaan mereka. Bahwa banyak yang mau menuntun mereka untuk bangkit dari keterpurukan.

Bencana ini menunjukkan betapa masih ada cinta di antara kita. Cinta yang tulus dan apa adanya. Ratusan ribu orang terlibat dalam drama cinta kehidupan ini. Baik yang datang ke lokasi sebagai relawan, yang di kejauhan dengan dukungan dana, atau yang di lorong doa. Semoga cinta ini tetap mekar sepanjang asa.

One Response to “Masih Ada Cinta di Antara Kita”

  1. thely Says:

    tulisanmu selalu menggugah rasa kun. keep going yaa..

Leave a Reply