Lulus Sidang Hukum Alam
Antonia Suci Nugraheni sudah benar-benar merampungkan sidang hukum alam. Ia memungkasi perjalanan hidupnya di usia muda, 18 tahun.
Sabtu pagi, 27 Mei 2006, ia menjadi korban gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter. Diduga, ia tidak pernah menyadari kejadian itu. Sebab, ia sedang tertidur pulas. Masih pukul 05.55 WIB. Belum bangun. Dan memang tidak pernah bangun. Jasadnya ditemukan tertimbun reruntuhan tembok kamarnya. Dan mungkin ia tidak pernah merintih kesakitan.
“Pagi tadi, saya mau ajak dia jalan-jalan. Namun, saya lihat ia tidur pulas sekali. Dia khan habis ujian, jadi ya saya biarkan bangun siang,” kurang lebih itu yang dikatakan bapaknya kepada Chandra, adikku, dan teman-teman anaknya yang berkunjung ke rumah duka di Imogiri, malam setelah kejadian. Bapaknya jalan pagi sendirian.
Benar, minggu sebelumnya Nia, begitu panggilannya, sudah menyelesaikan Ujian Akhir Nasional (UAN). Siswa kelas 3-IPS SMA Stella Duce 1 ini tentu lega telah menunaikan tugasnya dengan baik. Maka, barangkali, pagi itu ia ingin memuaskan diri dengan tidur lebih panjang. Sebab, selama bertahun-tahun, adik dari Windar, lulusan SMA Kolese de Britto tahun 2004 ini harus selalu bangun sangat pagi supaya bisa tepat waktu sampai sekolah.
Dua minggu berturut-turut ia menghadapi dua sidang, sidang sekolah dan sidang alam. Dan dua-duanya telah ia lampaui. Ia sudah lulus. Tanpa ijazah, hanya sertifikat kematian. Kini ia berbaring di kampus keabadian Kregan, perbukitan Imogiri. Bukit itu dekat dengan Pajimatan, makam raja-raja Mataram.
Rumahnya nyaris rata dengan tanah. Tinggal tembok depan dengan pintu dan kaca utuh, serta teras yang masih berdiri kokoh. Kehancuran inilah yang dijumpai bapak Nia ketika kembali dari jogging. Memang, ia masih mendengar permintaan tolong istrinya. Namun, terlambat, ajal sudah menjemput. Istrinya, Margareta Herma Wujinah, kembali ke pangkuan Allah dalam usia 48 tahun, menemani anak putrinya.
Kampung Karangtengah, satu kilometer selatan Pasar Imogiri, memang rusak parah. Bukan hanya bangunan beton yang rubuh, bangunan kayu pun koyak. Ratusan manusia meregang nyawa. Saking banyaknya korban mati, tidak mudah menemukan rumah Nia. Di Pasar Imogiri, kepada orang-orang yang berjaga-jaga di pinggir jalan, lebih banyak orang yang geleng-geleng kepala daripada memberikan petunjuk. “Wah, banyak yang mati sama ibunya,” jawab spontan orang-orang itu kepadaku. Butuh kesabaran untuk menemukan rumahnya di seberang hamparan padi hijau itu.
Maklumlah, banyak korban berjatuhan di kota kecamatan itu. Kelihatan dari tanda-tanda fisiknya. Pasar Imogiri nyaris rata dengan tanah. Tak satu pun bangunan utuh. Melihat reruntuhannya, nyaris tak ada celah untuk lolos dari maut. Kalau tidak dirubuhi tembok, pastilah ditimpa atap. Lalu, kematian pun menjadi pemandangan merata. Kematian Nia menjadi salah satu panoramanya.
Aku tidak mengenal Nia secara dekat. Namun, aku pasti pernah bertemu dan bersalaman dengannya 27 Desember tahun lalu. Hari itu kami berkumpul di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan untuk merayakan 25 tahun FKPK (Forum Kontak Pelajar Katolik). Dalam perayaan ekaristi yang dipimpin Rm Noegroho Agoeng Pr itu, Nia membawakan bacaan pertama. Ia mengenakan baju merah dengan celana jins.
Minggu siang itu, sehari setelah kejadian, jenazah Nia dibaringkan di rumah kerabatnya tak jauh dari rumahnya. Rumah itu juga rusak, tapi halamannya masih cukup luas. Bersanding dengan jenazah ibunya, ia berbaring di halaman rumah. Dengan terpal seadanya, atap berteduh di kala malam. Mau apa lagi, tidak ada yang berani ambil risiko untuk membaringkan jenazah di dalam rumah.
Nia beruntung. Jasadnya boleh diperlakukan secara layak. Kebaya merah muda dan kain batik dikenakannya. Ia pun berkesempatan didoakan secara sempurna, dalam upacara kematian yang utuh, perayaan ekaristi. Raganya berbaring di peti berukir yang kokoh. Ia di peti putih, ibunya di peti coklat. Mereka bersanding dalam keabadian.
Ribuan korban lain tak semujur dia. Banyak mayat yang dikuburkan begitu saja tanpa dimandikan. Mereka pun ditumpuk dalam liang lahat yang sama bersama korban yang masih saudara. Malah, kebanyakan tak sempat dibalut kain kafan. Juga tanpa upacara pemakaman yang selazimnya. Pakdeku, yang tinggal di Pandean, Gilangharjo, Pandak, Bantul, saja hari itu menguburkan tetangga-tetangganya berdua saja. Ya, berdua saja, disaksikan dan didoakan oleh keluarga yang selamat dan tega. Sebab, banyak tetangga yang juga menguburkan jenazah keluarganya sendiri.
Padahal, biasanya kematian selalu diiringi dengan larutnya doa-doa para takziah. Orang Bantul dikenal rapi jika menghadiri upacara kematian. Pakai sarung dan kemeja, kadang batik. Dan tidak berkaos seperti orang kota. Bersahaja, itu cara mereka menyampaikan hormat. Kebanyakan mereka pun mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhir, hingga tanah basah digundukkan di atasnya. Belum lagi, pada malam-malam sesudahnya, tujuh kali, tetangga sekitar datang untuk bersama-sama melambungkan doa memperlancar jalan orang yang meninggal itu. Semua itu tak ada sudah.
Nia kembali beruntung. Ratusan pelayat mengantarnya ke pemakaman Kregan, satu kilometer arah timur dari rumahnya. Begitu banyak teman yang takzim berdoa di samping petinya. Dari raut muka dan sembab mata mereka, terbaca ratapan atas kematian yang begitu cepat ini. Sungguh, ini pemandangan langka. Begitu banyak kematian selain dirinya kemarin. Maka, hadirnya banyak pelayat di upacara kematian Nia sungguh pemandangan mewah hari itu.