Alam Membagi Rata Kebijaksanaannya
Seminggu sudah bencana itu terjadi.
Kota kelahiranku luluh lantak. Tetangga dan saudaraku berjeritan tak keruan, meminta tolong…
Rasanya hati ini tak percaya jika bencana menimpa tanah kami. Seperti mimpi, seperti ilusinasi. Begitu banyak korban berjatuhan. Sore ini, seperti dilansir sejumlah media, jumlah korban semakin banyak, lebih dari 6.000 jiwa.
Angka itu begitu menakjubkan. Nyaris tak percaya bahwa alam telah merenggut mereka secara membabi buta. Tanpa pilih, ambruk merata. Juga tidak hanya orang miskin. Orang kaya pun tak bisa mengelak.
Ternyata alam tak pernah pilih kasih. Ia baik kepada siapa pun, sekaligus menghabisi siapa pun, jika mau. Matahari ia bagi rata sinar dan panasnya. Kebahagiaan ia sebar secara gratis. Namun, gempa bumi itu pun ia hentakkan rata pula. Kedukaan ia semburkan tanpa bayar. Juga tanpa ampun. Tanpa boleh disiapkan. Juga tanpa sempat dihalau.
Tipis percaya, bencana ini meluluhlantakkan tanah kami. Sebab, biasanya, tanah kami seperti padang terjanji, seperti anak ajaib, yang terlindung, yang tersanjung. Apalagi, oleh negara, tanah kami adalah daerah istimewa. Kami punya gubernur yang adalah seorang raja. Kami memiliki ribuan perguruan tinggi, tempat persemaian bibit-bibit generasi unggul. Kami punya kesenian yang sering disanjung di negeri manca, kebudayaan yang adiluhung, katanya.
Dan masih banyak lagi. Dengan semua itu, rasanya, tanah ini sungguh-sungguh permadani surgawi, yang dalam segala kesusahan sekali pun tetap menebar angin syukur. Lihat kembali aktivitas orang Bantul di pagi hari. Dengan sepeda, mereka berombongan-beriringan menuju kota Jogja. Ke kota mereka hendak bekerja.
Ada pedagang, ada buruh bangunan, ada pekerja sektor lainnya. Belakangan, banyak sepeda tergantikan oleh sepeda motor.
Gojekan ini masih memancing tawa, karenanya. “Nek rai tengene gosong mesti Wong Bantul,” diiringi pingkal-pingkal. Artinya, kalau kulit wajah sebelah kanan gosong pasti Orang Bantul. Mengapa? Karena di waktu berangkat ke utara, ke arah kota, matahari ada di sebelah kanan mereka, di timur. Sore harinya, sepulang bekerja, matahari sudah condong di barat, lagi-lagi di sebelah kanan muka mereka. Maka, karena berangkat dan pulang selalu dibakar matahari, gosonglah wajah mereka sebagian, kanan saja.
Lagi. Ada istilah “laut… laut…” di kalangan pekerja di Jogja. Ungkapan itu mereka lontarkan sekitar pukul 16.00, sebagai tanda waktu bekerja sudah selesai. Entah dari mana istilah itu muncul, tapi tampaknya Orang Bantullah yang menginspirasi. Mereka menyebut “laut” untuk pengganti kata “selesai dan pulang”.
Laut adalah kampung halaman mereka, tanah mereka juga. Maka bersepeda kembalilah mereka menjelang senja, ke arah laut, pulang ke rumah. Baik berangkat atau pulang, sepeda-sepeda itu menjadi raja jalanan. Mereka bisa berjejer tiga, bahkan lima . Dan di saat itu, mereka tak hirau pada kendaraan besar yang melaju. Mereka bergeming jika ada yang berteriak menyalakan klakson keras-keras. Sudah bekerja keras kok disuruh minggir, mungkin begitu gerutu mereka.
Dan para penglaju, yang bekerja keras, yang wajah sebelah kanannya hitam itu, ternyata juga jadi korban. Sepeda mereka banyak tertimbun, baik di rumah maupun di halaman pasar. Tulang punggung pencarian nafkah itu ringsek sudah.
Dari mereka tangis itu sayup-sayup mengeras. Mereka jadi korban. Ada anggota keluarga yang mati, sakit, dan tentu saja trauma bagi yang selamat. Bisa jadi mereka menggugat kenapa bencana ini menimpa mereka pula.
Tapi dari mereka aku belajar banyak, utamanya tentang rasa bersyukur. Lazim bagi orang Jawa mengatakan “Untung…” dalam keadaan apa pun. “Untung mati… kasihan kalau hidup, tersiksa.” “Untung cuma patah kaki….” “Untung keluarga masih utuh, meskipun rumah habis.” Begitulah mereka memaknai bencana ini. Dalam musibah seberat apa pun, mereka masih merasa lebih baik. Toh mereka tidak diberi cobaan lebih berat.
“Tunggale akeh…,” celetuk mereka tatkala datang tamu yang menyatakan bela sungkawa dan ucapan turut prihatin. Yang lain banyak, begitu cara mengelak dari beban. Maka, mereka tidak merasa terpuruk secara berlebihan. Beban ini milik bersama.
Ada yang lebih berbeban, meski aku pun berat menanggungnya. Begitu mereka meyakini.
Itulah. Bahkan dalam puruk pun masih ada kebersyukuran. Aku berharap, para korban menerima derita ini secara iklhas sebagai keseimbangan alam yang tak terelakkan. Tanah kami telah menghasilkan panenan yang berlimpah, dengan air meruah, dengan tanaman bertumbuhan, dengan senyum yang berekahan. Maka, ketika bencana ini melumatkan semuanya, biarlah ia hadir sebagai tanda bahwa alam adalah keseimbangan yang sempurna. Alam adalah cermin kebijaksanaan sejati.
Alam pasti sudah berhitung. Meski menyakitkan, ia punya cara sendiri untuk menguji batas kemampuan manusia.