Archive for June, 2006

Tempur!

Saturday, June 24th, 2006

Ini kali ketiga aku ke Kupang
Dua kali lalu untuk penulisan buku tentang pengungsi Timor Leste di NTT
membantu JRS

Kini membantu SOS Kinderdorf
juga menyusun buku
tentang anak asuh dan ibu asuh mereka, karya 34 tahun mereka di Indonesia

Ada yang beda di Bandara El Tari kini
3 pesawat tempur disiagakan di sebuah hanggar khusus
dan setiap hari diterbangkan
menjaga perbatasan, katanya

Mestinya
bukan ketakutan yang dipelihara
untuk memulai hidup baru dengan Timor Leste

Yang dibutuhkan adalah rangkulan bersahabat
dari saudara yang pernah tinggal seatap dan selantai
supaya damai ada di mana-mana

Kupang, 19 Juni 2006

Derita di mana-mana

Saturday, June 24th, 2006

Ketika di sana ada pesta
ada seremonia
ada hura-hura
ada tawa

Di sini ada derita
kelaparan
tak ada sisa makanan yang bisa di santap
hanya ada doa
semoga bencana ini lekas bisa diatasi

Sikka-Maumere, 14 Juni 2006

5,9 Skala Richter!

Tuesday, June 6th, 2006

Kotaku terguncang. Saudaraku menderita.

Gempa bumi 5,9 skala Richter itu meluluhlantakkan Jogja, Bantul, Sleman, Gunung Kidul, Kulonprogo, Klaten, Boyolali, dan Sukoharjo. Sabtu wage, 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB menjadi waktu yang mencekam. Akan terekam sepanjang hayat.

Aku tidak merasakan 57 detik itu. Tapi aku merasakan detik-demi-detik sesudahnya, yang panjang, mencemaskan, dan gamang. Juga merasakan gairah kerja yang membangkitkan semangat hidup mereka.

Tulisan di bawah ini hanya catatan kecil atas peristiwa sangat besar itu. Tidak komplet. Juga tidak utuh.

Hanya satu tujuanku, membuat catatan. Terlalu besar untuk dilewatkan begitu saja. Aku berharap, catatan ini menginspirasi siapa pun untuk membuat catatan yang lebih dalam dan lengkap.

 

Jogja, 5 Juni 2006

AA Kunto A

Wisata Bencana

Tuesday, June 6th, 2006

Ada

pemandangan unik di antara reruntuhan bangunan-bangunan korban gempa bumi. Tiada lain adalah munculnya beraneka tulisan dengan nada kurang lebih sama, “Kami bukan tontotan, kami butuh bantuan.”

Bahkan, seorang teman yang rumahnya roboh sempat menyebarkan sms yang berbunyi, “Tolong sebarkan imbauan: jangan penuhi jalan daerah bencana hanya untuk NONTON, karena hambat distribusi. Sms itu dikirim pada Rabu, 31 Mei 2006, pukul 03.25 WIB. Pagi sekali.

Teman yang tinggal di Ganjuran itu pantas jengkel. Rumahnya ambruk. Ibunya sakit gara-gara tertimpa bagian bangunan. Sementara rerobohan rumahnya sering dijadikan background orang-orang yang hendak berfoto mengabadikan kejadian. Hatinya panas, merasa bahwa orang-orang itu tak punya perasaan sama sekali. Tega-teganya mereka berpose layaknya di studio foto di depan puing-puing rumah itu. Maka, untuk memampat kejengkelannya, ia mendirikan pagar seng di depan reruntuhan rumahnya. Setelah berdiri, ia torehkan tulisan besar-besar berwarna merah, “INI BENCANA, BUKAN PANORAMA”. Tujuannya, katanya, supaya tidak ada lagi orang yang mengambil gambar bekas rumahnya. Padahal ia keliru, dengan tulisan sedemonstratif itu, orang justru memotret semakin sering. Terutama, tulisan itu pasti jadi santapan empuk para wartawan foto. Ah, serba keliru memang.

Memang, peristiwa seperti ini selalu berulang di lokasi bencana di mana pun. Banyak yang berseliweran bukan hendak membantu, tapi sekadar melihat-lihat. Dan mereka tidak selalu masyarakat biasa. Pejabat, artis, atau figur publik lainnya kerap melakukan itu. Pejabat datang diiring kendaraan polisi, sirine meraung-raung, pengawalan sangat ketat, menggelar kegiatan seremonial penyerahan sumbangan, dan sesudahnya pulang. Artis juga begitu, tak sedikit yang mendompleng popularitas. Datang ke lokasi diiringi puluhan wartawan infotainment, diselingi perilaku-perilaku yang cari muka belaka.

Tentang sirine pejabat sungguh menjengkelkan. Di tengah kesusahan, masih saja mereka meminta prioritas jalan, menggusur orang lain, bahkan meminta minggir relawan yang hendak mengirimkan bantuan logistik. Tidak sadarkah mereka suarana sirine yang meraung-raung itu melukai perasaan korban? Tidak tahukah bahwa hari-hari sebelumnya korban dihantui ribuan suara raungan sirine ambulans pemberi pertolongan? Tidak semua orang bisa membedakan mana suara sirine ambulans, mana sirine mobil patroli polisi/dinas perhubungan, dan mana sirine kendaraan iseng. Bagi mereka, semua sama saja. Suara-suara gaduh itu membuat mereka cemas dan gelisah.

Yang menyakitkan, tentu saja, rombongan “wisatawan bencana” itu memacetkan jalanan di daerah bencana pada hari-hari pertama sesudah gempa bumi melanda. Padahal, di hari-hari itu, jalanan –yang rata-rata sempit– sedang dibutuhkan untuk mengevakuasi korban sakit, untuk mendatangkan alat berat guna menggali korban yang masih tertimbun, dan menyalurkan bantuan logistik. Juga menyesaki perasaan keluarga korban yang datang dari luar kota segera ingin mengetahui nasib kerabatnya.

Belajar dari pengalaman bencana di tempat lain, fenomena “wisatawan bencana” ini masih akan berulang. Mereka bisa berkedok relawan sekali pun, yang sibuk ke sana-kemari tapi sejatinya tidak melakukan apa pun. Bisa pula berupa pejabat yang pura-pura meninjau padahal hanya pengen disorot kamera.

Kubertolongtolong

Tuesday, June 6th, 2006

Pertolongan itu datang dari tetangga

Secara seadanya

Namun dalam semangat luar biasa

Bantuan dari negara datang sangat lambat

Nyaris tak ada

Itu pun dalam orkestrasi yang gaduh ricuh

Lalu buat apa presiden berpindah kantor ke Jogja?

Darahku merekam siapa yang bisa dipercaya

Tetangga

Bukan negara

Kawan

Bukan negara

Saudara

Bukan negara

Tuhan

Bukan negara

Masih Ada Cinta di Antara Kita

Tuesday, June 6th, 2006

Sungguh mengharukan pemandangan pada hari Minggu, 4 Juni 2006 itu. Ribuan kendaraan memasuki daerah bencana.

Ada

mobil bak terbuka, tak sedikit mobil pribadi. Juga ada beberapa bus, bus wisata malahan. Jalan lingkar selatan (ring road) Jogja macet. Mereka mengantri memasuki jalan-jalan menuju pusat bencana. Rata-rata mereka adalah tetangga keluarga korban.

Jika sebelumnya rombongan seperti itu datang ke lokasi untuk “berwisata”, menonton daerah bencana, kini mereka punya tujuan lain, yakni membantu korban untuk membersihkan puing-puing yang berserakan. Ya, bekerja bakti, seperti tulis spanduk yang terpampang di samping bus wisata itu.

Pada kaca depan truk mereka tertempel kertas bertuliskan “relawan tenaga”. Mereka datang dari berbagai daerah. Ada yang dari Sleman, Muntilan, Magelang, Temanggung, Wonosobo, dan masih banyak lagi. Melihat asalnya, pastilah mereka berangkat sebelum fajar.

Setiap kendaraan bisa menampung sampai dengan sekitar 50 orang, tua-muda, laki-laki perempuan. Ada yang duduk, ada yang berdiri. Pakaian mereka kebanyakan adalah pakaian kerja lapangan, dengan baju lengan panjang lengkap dengan topi pula. Tak lupa, mereka juga membawa serta alat-alat kerja seperti cangkul, linggis, sekop, dan gerobak beroda satu.

Sampai di lokasi masing-masing, setelah berembug dengan tuan rumah atau pengurus warga setempat, segeralah mereka bekerja. Ada yang menurunkan genteng di rumah yang utuh. Ada yang menggempur dan merobohkan tembok miring. Secara berenteng, mereka memindahkan kayu-kayu yang berserakan ke satu tumpukan tertata. Mereka memilah antara bahan bangunan yang rusak dengan yang masih dapat dipakai lagi. Ini berbeda dengan cara kerja sebagian tentara yang main bongkar menggunakan buldoser tanpa mengindahkan perasaan warga.

Sebelumnya, secara gotong-royong warga korban ini membersihkan sendiri puing-puing rumah mereka. Setiap hari, satu persatu. “Daripada nglangut merenungi nasib lebih baik bangun dan bergerak,” kata Pak Sahadi, seorang ketua RW di Gilangharjo, Bantul. Benar saja, dengan bekerja mereka bisa tertawa bersama, saling ledek, sehingga seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kebersamaan itu pula yang saling menguatkan mereka.

Warga setempat tampak senang dengan kehadiran bantuan tenaga ini. Maka mereka pun tampak lebih bersemangat dalam  ikut membersihkan puing rumah sendiri. Tidak mudah. Selain trauma terhadap bangunan, bisa jadi mereka tidak tega menjumputi sisa-sisa bangunan mereka sendiri. 

Para ibu dan remaja putri pun tak tinggal diam. Mereka menyiapkan makanan dan minuman. Sayang memang, bencana ini tidak cukup mampu menggeser paradigma masyarakat tentang domestifikasi perempuan sebagai kanca wingking; mereka yang bekerja di dapur. Padahal, pada saat bencana menghantam, siapa pun tergerak untuk mengulurkan pertolongan.

Baiklah, itu tak jadi soal. Mungkin, di hari-hari ke depan, cara pandang itu akan bergeser. Atau malah semakin kokoh. Yang terang, mereka semua tergerak untuk menyediakan keperluan tenaga-tenaga yang hendak menolong mereka sendiri juga.

Sebab, mereka tahu, tenaga-tenaga bantuan ini bukan orang bayaran. Mereka datang sukarela, atas desakan hati ingin meringankan beban keluarga korban. Aku kira, mereka sendiri bukan dari keluarga berkecukupan. Mereka adalah petani, yang rela meninggalkan garapan sawah dan hewan ternak. Meski sehari saja, toh itu sangat berarti bagi mereka. Dan toh mereka merelakan diri menjadi pelipur. Dengan cara mereka.

Benar saja, hari itu, bekas reruntuhan rumah mulai tampak bersih. Pandangan mata pun mulai lapang. Bayangan untuk mendirikan bangunan baru pun sudah berkelebat. Dari tumpukan kayu yang ada, segeralah tampak seberapa besar bangunan baru bisa mereka. Tanpa atau dengan bantuan dari pemerintah dan pihak luar.

Uluran bantuan itu laksana cinta yang terus mengalir. Kendati tersendat-sendat, namun bantuan dari mana pun, dalam dan luar negeri, terus datang mengalir. Apa pun bentuknya. Entah uang, barang, maupun tenaga relawan.

Bagi korban, semua bantuan itu pasti menguatkan mereka. Bahwa mereka tidak hidup sendiri. Bahwa banyak yang peduli dengan penderitaan mereka. Bahwa banyak yang mau menuntun mereka untuk bangkit dari keterpurukan.

Bencana ini menunjukkan betapa masih ada cinta di antara kita. Cinta yang tulus dan apa adanya. Ratusan ribu orang terlibat dalam drama cinta kehidupan ini. Baik yang datang ke lokasi sebagai relawan, yang di kejauhan dengan dukungan dana, atau yang di lorong doa. Semoga cinta ini tetap mekar sepanjang asa.

Memoria Rumah Mbah Kung

Tuesday, June 6th, 2006

Rumah Mbah Kakung itu nyaris tersungkur. Ia kalah dalam pertarungan hidup-mati melawan gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter, Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.55. Goncangan gempa itu mengoyakkan seluruh rahang rumah dan tembok penahannya.

Kalau ternyata rumah itu tak benar-benar roboh, ini dapat dibaca sebagai pernyataan bahwa sang penghuni rumah, Pakde dan Bude Darsono, diberi kesempatan menyelamatkan isi rumah. Ya, hanya isinya. Rumah itu sendiri sudah tidak lagi mengijinkan dirinya ditinggali.

Tembok kamar Simbah roboh. Pembatas depan ruang tamu dengan longkang (jawa, ruang terbuka di dalam rumah) miring. Tembok belakang bongkah. Lemari bertumbangan. Hanya atap yang belum runtuh, kecuali atap dapur. Sementara lantai tak melepuh.

Pendopo depan rumah telah lama rubuh. Bukan karena gempa, tapi karena rapuh. Pendopo yang pernah jadi kandang ayam petelor itu telah lama diambrukkan untuk ditanami pohon-pohon buah.

Rasa was-was menghinggapiku begitu memasuki rumah sekadar merasakan aura keganasan alam. Membuat gerakan teledor, berlari misalnya, bisa-bisa mengambrukkan seluruh bangunan. Namun, tidak melongok ke dalam ibarat tidak mau menjenguk ibu yang sakit dan nyaris sekarat. Keterlaluan.

Namun, menapakkan kaki ke dalam rumah bukan perkara enteng. Hati ini berat rasanya. Meski tak meneteskan air mata, aku paham betul, sejatinya aku menangis. Penuh dalam benakku kenangan masa kecil di rumah itu. Ketika aku “ditetah” Mbah Putri supaya bisa lekas jalan. Gara-gara aku pula, Mbah Putri jatuh terpeleset, dan retak tangan kirinya. Hingga harus di-gips. Pegangan tangan dari bambu khusus dibuatkan Mbah Kakung untukku. Dan aku pun akhirnya bisa berjalan, meski ketika bisa berlari kencang sekencang-kencangnya, Mbah Putri tak bersama kami lagi. Beliau meninggal 30 Desember 1978 akibat kanker leher rahim yang dideritanya. Praktis, aku hanya beroleh kesempatan setahun lebih sebulan menerima kelembutan bimbingannya. Beliau wafat dengan gips yang belum dilepas. Tangannya masih retak.

Di rumah itu aku teringat Mbah Kakung, yang 20 Juni 2006 rencananya kami peringati 1000 hari wafatnya. Mbah Kakung sosok yang murah senyum, meski dulu katanya dikenal sangat galak. Waktu muda, beliau adalah bakul sandangan dari pasar ke pasar. Kantung kain selalu dibawanya ke mana-mana, diletakkannya di bawah sadel sepeda, dan ia duduki. Tak heran, ada yang menjuluki beliau sebagai Karto Kantong.

Aku menyadari keberadaan Mbah Kakung ketika beliau sudah memakai gigi palsu. Saban pagi gigi itu disikat. Lucunya, aku ketawa waktu itu, sepasang gigi atas-bawah itu dilepas sehingga ketahuanlah kalau Mbahkung sejatinya ompong.

Di usia tuanya, Mbah Kung masih suka bersepeda. Ia suka bersepeda ke Srandakan, tepi kali Progo pada lebaran hari kedua. Di sana selalu ada tontonan rakyat, sebab itu sangat menarik perhatian beliau. Kebiasaan pergi bersepeda itu berhenti, pertama, ketika salah satu keluarga kami menghardik, “Simbah ki wis tua. Wis ora wayahe pit-pitan tekan endi-endi. Putu-putune ki ndene pengen ketemu mbahne….” Simbah sudah tua. Sudah tidak saatnya bersepeda ke mana-mana. Cucu-cucu ke sini pengen ketemu kakaknya… Dan kedua, ketika beliau jatuh di sawah, dan diantar pulang oleh seseorang.

Dulu, kata Ibu, Mbah Kakung suka mengajak pergi ke sekaten di Alun-alun Utara Jogja. Tentu saja naik sepeda. Ibu membonceng di belakang. Mbah Kakung dengan entengnya menggenjot sepeda sekitar 15 kilometer jauhnya. Sampai tahun 1998, ia masih kuat bersepeda. Masih kokoh. Masih lincah.

Kelincahan Mbah Kung juga berlaku untuk aktivitas membaca. Dalam usia 85 tahun, beliau masih bisa membaca koran tanpa kacamata. Beliau bahkan mengikuti tulisan-tulisanku di Harian Bernas, koran yang menjadi langganan Mas Tri, putra Bude Darmi. Aku ingat persis, jika aku ke sana, Simbah suka berkomentar, “Wah, tulisanmu ana nang koran….” Tulisanmu ada di koran, katanya. Sungguh mengharukan mengingat saat itu.

Sayang, memasuki usia 91 tahun, fisiknya tak kuat lagi menopang jiwanya yang masih segar. Penglihatannya memudar. Daya ingatnya merosot. Namun, masih bisa makan sendiri. Bubur dan telor mata sapi kesukaannya. Untuk berjalan butuh penyangga sebelum lima hari betul-betul tak bisa berjalan, tergolek di tempat tidur. Rabu malam, 24 September 2003, sebelum pergantian hari, beliau wafat setelah dua jam sebelumnya didoakan keluarga dan tetangga dalam pengajian surat Yasin.

Tentang pengajian itu ada ceritanya juga. Pada waktu sehat, Mbah Kung sempat ditawari untuk menerima sakramen permandian, mengikuti jejak Mbah Putri yang dibaptis dengan nama Maria. Tawaran datang dari ibu, seorang katolik, anak ragil dari lima bersaudara. Namun, pertimbangan lain muncul ketika pada masa sakitnya, Mbah Kung tinggal di rumah Bude Darmi, anak ketiganya. Dua setengah tahun Simbah dirawat di sana, oleh Bude yang seorang muslim. Simbah sendiri penganut yang sama, meski tidak taat sebagaimana orang Jawa kebanyakan. Jadi, tidak masuk akal jika kemudian Simbah dibaptis. Selain itu, sungguh tidak hormat terhadap Bude. Maka, diputuskanlah untuk menyelenggarakan pengajian itu, memohon kepada Allah jalan terbaik untuk Simbah.

Dan benar, sepeninggal jamaah pengajian, Mbah Kung berpulang ke rumah abadinya di surga. Malam itu, Rabu, 24 September 2003, pukul 23.30, Sugiya Kartowihardjo wafat. Ternyata Mbah Kung hanya butuh didoakan dan direlakan.

Ingatan itu kembali muncul tatkala menatap rumah yang menghadap ke barat itu. Sekilas utuh. Namun sejatinya lumpuh. Tembok kamar roboh tak bersisa, merobohkan semua torehan masa lalu.

Pakde dan Bude Darsono, kini, mendirikan tenda di depan rumah. Cukup kokoh, setidaknya untuk bertahan tiga bulan. Lama sekali? Ya, untuk merobohkan dan membersihkan puing-puing saja membutuhkan waktu tidak sebentar. Tetangga kiri-kanan tidak mungkin membantu karena rumah mereka pun rubuh. Saudara-saudara dekat? Juga tidak. Rumah mereka pun doyong. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk membangun.

Rumah Bude Darmi, yang bersebelahan dengan rumah Mbah Kung, ambruk di sisi kiri dan kanan. Sisi kiri kandang babi dan sapi. Sisi kanan dapur dan kamar Bude serta Mas Heri. Juga tempat mencampur pakan. Bagian tengah, yang lebarnya sekitar 30 meter tampak utuh. Namun, tembok belakang televisi koyak. Tembok depan miring. Sangat tidak layak untuk dihuni. Maka, Bude Darmi dan Pakde tidur di luar, di bawah tenda. Karung bagor bekas tempat pakan dimanfaatkan untuk menutup sisi lain, menghalau angin malam yang dingin. Untunglah teras masih utuh sehingga bisa untuk menaruh barang-barang…

Rumah Pakde Darto, 400 meter sebelah barat Rumah Bude Darmi, tak kalah menyedihkannya. Rumah utama, yang didirikan Mbah Kung tahun 1940-an nyaris rata dengan tanah. Bude, yang waktu itu sedang memasak, terjebak di tengah reruntuhan. Untunglah hanya terluka sedikit. Kamar-kamar yang dulu kami tiduri jika menginap, yang berplafon anyaman bambu, kini sudah beratap langit. Foto Bung Karno, tokoh favorit Pakde, yang terpasang di atas televisi, tersungkur tertimbun kayu dan genting. Basah dan sobek. Plat bertuliskan “S Kartowihardjo” masih terpampang utuh di atas pintu utama. S adalah kependekan Sugiya. Ya, Simbah pernah tinggal di tanah pembelian mertuanya itu.

Rumah depan, bangunan relatif baru yang belum sepenuhnya jadi, ikut rusak. Meski tidak runtuh sepenuhnya, namun sangat tidak layak huni. Pakde sempat dua malam tidur di teras rumah karena belum mendapatkan tenda untuk tidur di luar, di tempat aman.

Tempat aman? Ya, gempa susulan masih terjadi beberapa kali. Selain membuat panik, gempa itu juga potensial mengambrukkan bangunan-bangunan yang sudah retak. Pasti ini sangat membahayakan.

Untunglah kami bisa mencarikan bantuan untuk mereka. Posko Realino, yang terdiri dari JRS Indonesia-KWI-USD, telah memberi kami terpal, beras, mie instan, makanan ringan, dan susu untuk anak-anak. Kami juga mendapatkan bantuan lain dari Posko di Gelanggang Mahasiswa UGM, Posko di FE UAJY, juga dari beberapa posko lainnya. Bantuan awal itu, terutama tenda, sangat berarti untuk mereka. Maklum, tiga hari awal, hujan mengguyur sepanjang malam. Tenda-tenda itu cukup melindungi mereka dari hujan, meski tidak dari dingin.

Hari-hari berikutnya, kami terus menemani mereka. Tidak sekadar menghibur, namun membantu mereka bangkit dari keterpurukan. Lima hari setelah kejadian, sebagian listrik menyala, cukup membuat lega mereka. Sebab, sungguh tidak bisa dibayangkan bermalam di tenda tanpa penerangan memadai.

Ke depan, banyak pekerjaan yang harus mereka siapkan dari sekarang. Merubuhkan rumah dan membersihkan puing. Mendirikan bangunan baru. Dan terutama memulihkan mental, beranjak dari rasa cemas dan takut. Hari-hari ke depan adalah waktu yang sangat melelahkan bagi mereka. Panjang dan gamang. Namun, kami percaya, kebersamaan akan memompa semangat mereka untuk berdiri tegak kembali.

Lulus Sidang Hukum Alam

Tuesday, June 6th, 2006

Antonia Suci Nugraheni sudah benar-benar merampungkan sidang hukum alam. Ia memungkasi perjalanan hidupnya di usia muda, 18 tahun.

Sabtu pagi, 27 Mei 2006, ia menjadi korban gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter. Diduga, ia tidak pernah menyadari kejadian itu. Sebab, ia sedang tertidur pulas. Masih pukul 05.55 WIB. Belum bangun. Dan memang tidak pernah bangun. Jasadnya ditemukan tertimbun reruntuhan tembok kamarnya. Dan mungkin ia tidak pernah merintih kesakitan.

“Pagi tadi, saya mau ajak dia jalan-jalan. Namun, saya lihat ia tidur pulas sekali. Dia khan habis ujian, jadi ya saya biarkan bangun siang,” kurang lebih itu yang dikatakan bapaknya kepada Chandra, adikku, dan teman-teman anaknya yang berkunjung ke rumah duka di Imogiri, malam setelah kejadian. Bapaknya jalan pagi sendirian.

Benar, minggu sebelumnya Nia, begitu panggilannya, sudah menyelesaikan Ujian Akhir Nasional (UAN). Siswa kelas 3-IPS SMA Stella Duce 1 ini tentu lega telah menunaikan tugasnya dengan baik. Maka, barangkali, pagi itu ia ingin memuaskan diri dengan tidur lebih panjang. Sebab, selama bertahun-tahun, adik dari Windar, lulusan SMA Kolese de Britto tahun 2004 ini harus selalu bangun sangat pagi supaya bisa tepat waktu sampai sekolah. 

Dua minggu berturut-turut ia menghadapi dua sidang, sidang sekolah dan sidang alam. Dan dua-duanya telah ia lampaui. Ia sudah lulus. Tanpa ijazah, hanya sertifikat kematian. Kini ia berbaring di kampus keabadian Kregan, perbukitan Imogiri. Bukit itu dekat dengan Pajimatan, makam raja-raja Mataram.

Rumahnya nyaris rata dengan tanah. Tinggal tembok depan dengan pintu dan kaca utuh, serta teras yang masih berdiri kokoh. Kehancuran inilah yang dijumpai bapak Nia ketika kembali dari jogging. Memang, ia masih mendengar permintaan tolong istrinya. Namun, terlambat, ajal sudah menjemput. Istrinya, Margareta Herma Wujinah, kembali ke pangkuan Allah dalam usia 48 tahun, menemani anak putrinya.

Kampung Karangtengah, satu kilometer selatan Pasar Imogiri, memang rusak parah. Bukan hanya bangunan beton yang rubuh, bangunan kayu pun koyak. Ratusan manusia meregang nyawa. Saking banyaknya korban mati, tidak mudah menemukan rumah Nia. Di Pasar Imogiri, kepada orang-orang yang berjaga-jaga di pinggir jalan, lebih banyak orang yang geleng-geleng kepala daripada memberikan petunjuk. “Wah, banyak yang mati sama ibunya,” jawab spontan orang-orang itu kepadaku. Butuh kesabaran untuk menemukan rumahnya di seberang hamparan padi hijau itu.

Maklumlah, banyak korban berjatuhan di kota kecamatan itu. Kelihatan dari tanda-tanda fisiknya. Pasar Imogiri nyaris rata dengan tanah. Tak satu pun bangunan utuh. Melihat reruntuhannya, nyaris tak ada celah untuk lolos dari maut. Kalau tidak dirubuhi tembok, pastilah ditimpa atap. Lalu, kematian pun menjadi pemandangan merata. Kematian Nia menjadi salah satu panoramanya.

Aku tidak mengenal Nia secara dekat. Namun, aku pasti pernah bertemu dan bersalaman dengannya 27 Desember tahun lalu. Hari itu kami berkumpul di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan untuk merayakan 25 tahun FKPK (Forum Kontak Pelajar Katolik). Dalam perayaan ekaristi yang dipimpin Rm Noegroho Agoeng Pr itu, Nia membawakan bacaan pertama. Ia mengenakan baju merah dengan celana jins.

Minggu siang itu, sehari setelah kejadian, jenazah Nia dibaringkan di rumah kerabatnya tak jauh dari rumahnya. Rumah itu juga rusak, tapi halamannya masih cukup luas. Bersanding dengan jenazah ibunya, ia berbaring di halaman rumah. Dengan terpal seadanya, atap berteduh di kala malam. Mau apa lagi, tidak ada yang berani ambil risiko untuk membaringkan jenazah di dalam rumah.

Nia beruntung. Jasadnya boleh diperlakukan secara layak. Kebaya merah muda dan kain batik dikenakannya. Ia pun berkesempatan didoakan secara sempurna, dalam upacara kematian yang utuh, perayaan ekaristi. Raganya berbaring di peti berukir yang kokoh. Ia di peti putih, ibunya di peti coklat. Mereka bersanding dalam keabadian.

Ribuan korban lain tak semujur dia. Banyak mayat yang dikuburkan begitu saja tanpa dimandikan. Mereka pun ditumpuk dalam liang lahat yang sama bersama korban yang masih saudara. Malah, kebanyakan tak sempat dibalut kain kafan. Juga tanpa upacara pemakaman yang selazimnya. Pakdeku, yang tinggal di Pandean, Gilangharjo, Pandak, Bantul, saja hari itu menguburkan tetangga-tetangganya berdua saja. Ya, berdua saja, disaksikan dan didoakan oleh keluarga yang selamat dan tega. Sebab, banyak tetangga yang juga menguburkan jenazah keluarganya sendiri.

Padahal, biasanya kematian selalu diiringi dengan larutnya doa-doa para takziah. Orang Bantul dikenal rapi jika menghadiri upacara kematian. Pakai sarung dan kemeja, kadang batik. Dan tidak berkaos seperti orang kota. Bersahaja, itu cara mereka menyampaikan hormat. Kebanyakan mereka pun mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhir, hingga tanah basah digundukkan di atasnya. Belum lagi, pada malam-malam sesudahnya, tujuh kali, tetangga sekitar datang untuk bersama-sama melambungkan doa memperlancar jalan orang yang meninggal itu. Semua itu tak ada sudah.

Nia kembali beruntung. Ratusan pelayat mengantarnya ke pemakaman Kregan, satu kilometer arah timur dari rumahnya. Begitu banyak teman yang takzim berdoa di samping petinya. Dari raut muka dan sembab mata mereka, terbaca ratapan atas kematian yang begitu cepat ini. Sungguh, ini pemandangan langka. Begitu banyak kematian selain dirinya kemarin. Maka, hadirnya banyak pelayat di upacara kematian Nia sungguh pemandangan mewah hari itu. 

Alam Membagi Rata Kebijaksanaannya

Tuesday, June 6th, 2006

Seminggu sudah bencana itu terjadi.

Kota kelahiranku luluh lantak. Tetangga dan saudaraku berjeritan tak keruan, meminta tolong…

Rasanya hati ini tak percaya jika bencana menimpa tanah kami. Seperti mimpi, seperti ilusinasi. Begitu banyak korban berjatuhan. Sore ini, seperti dilansir sejumlah media, jumlah korban semakin banyak, lebih dari 6.000 jiwa.

Angka itu begitu menakjubkan. Nyaris tak percaya bahwa alam telah merenggut mereka secara membabi buta. Tanpa pilih, ambruk merata. Juga tidak hanya orang miskin. Orang kaya pun tak bisa mengelak.

Ternyata alam tak pernah pilih kasih. Ia baik kepada siapa pun, sekaligus menghabisi siapa pun, jika mau. Matahari ia bagi rata sinar dan panasnya. Kebahagiaan ia sebar secara gratis. Namun, gempa bumi itu pun ia hentakkan rata pula. Kedukaan ia semburkan tanpa bayar. Juga tanpa ampun. Tanpa boleh disiapkan. Juga tanpa sempat dihalau.

Tipis percaya, bencana ini meluluhlantakkan tanah kami. Sebab, biasanya, tanah kami seperti padang terjanji, seperti anak ajaib, yang terlindung, yang tersanjung. Apalagi, oleh negara, tanah kami adalah daerah istimewa. Kami punya gubernur yang adalah seorang raja. Kami memiliki ribuan perguruan tinggi, tempat persemaian bibit-bibit generasi unggul. Kami punya kesenian yang sering disanjung di negeri manca, kebudayaan yang adiluhung, katanya.

Dan masih banyak lagi. Dengan semua itu, rasanya, tanah ini sungguh-sungguh permadani surgawi, yang dalam segala kesusahan sekali pun tetap menebar angin syukur. Lihat kembali aktivitas orang Bantul di pagi hari. Dengan sepeda, mereka berombongan-beriringan menuju kota Jogja. Ke kota mereka hendak bekerja.

Ada pedagang, ada buruh bangunan, ada pekerja sektor lainnya. Belakangan, banyak sepeda tergantikan oleh sepeda motor.

Gojekan ini masih memancing tawa, karenanya. “Nek rai tengene gosong mesti Wong Bantul,” diiringi pingkal-pingkal. Artinya, kalau kulit wajah sebelah kanan gosong pasti Orang Bantul. Mengapa? Karena di waktu berangkat ke utara, ke arah kota, matahari ada di sebelah kanan mereka, di timur. Sore harinya, sepulang bekerja, matahari sudah condong di barat, lagi-lagi di sebelah kanan muka mereka. Maka, karena berangkat dan pulang selalu dibakar matahari, gosonglah wajah mereka sebagian, kanan saja.

Lagi. Ada istilah “laut… laut…” di kalangan pekerja di Jogja. Ungkapan itu mereka lontarkan sekitar pukul 16.00, sebagai tanda waktu bekerja sudah selesai. Entah dari mana istilah itu muncul, tapi tampaknya Orang Bantullah yang menginspirasi. Mereka menyebut “laut” untuk pengganti kata “selesai dan pulang”.

Laut adalah kampung halaman mereka, tanah mereka juga. Maka bersepeda kembalilah mereka menjelang senja, ke arah laut, pulang ke rumah. Baik berangkat atau pulang, sepeda-sepeda itu menjadi raja jalanan. Mereka bisa berjejer tiga, bahkan lima . Dan di saat itu, mereka tak hirau pada kendaraan besar yang melaju. Mereka bergeming jika ada yang berteriak menyalakan klakson keras-keras. Sudah bekerja keras kok disuruh minggir, mungkin begitu gerutu mereka.

Dan para penglaju, yang bekerja keras, yang wajah sebelah kanannya hitam itu, ternyata juga jadi korban. Sepeda mereka banyak tertimbun, baik di rumah maupun di halaman pasar. Tulang punggung pencarian nafkah itu ringsek sudah.

Dari mereka tangis itu sayup-sayup mengeras. Mereka jadi korban. Ada anggota keluarga yang mati, sakit, dan tentu saja trauma bagi yang selamat. Bisa jadi mereka menggugat kenapa bencana ini menimpa mereka pula.

Tapi dari mereka aku belajar banyak, utamanya tentang rasa bersyukur. Lazim bagi orang Jawa mengatakan “Untung…” dalam keadaan apa pun. “Untung mati… kasihan kalau hidup, tersiksa.” “Untung cuma patah kaki….” “Untung keluarga masih utuh, meskipun rumah habis.” Begitulah mereka memaknai bencana ini. Dalam musibah seberat apa pun, mereka masih merasa lebih baik. Toh mereka tidak diberi cobaan lebih berat.

Tunggale akeh…,” celetuk mereka tatkala datang tamu yang menyatakan bela sungkawa dan ucapan turut prihatin. Yang lain banyak, begitu cara mengelak dari beban. Maka, mereka tidak merasa terpuruk secara berlebihan. Beban ini milik bersama.

Ada yang lebih berbeban, meski aku pun berat menanggungnya. Begitu mereka meyakini.

Itulah. Bahkan dalam puruk pun masih ada kebersyukuran. Aku berharap, para korban menerima derita ini secara iklhas sebagai keseimbangan alam yang tak terelakkan. Tanah kami telah menghasilkan panenan yang berlimpah, dengan air meruah, dengan tanaman bertumbuhan, dengan senyum yang berekahan. Maka, ketika bencana ini melumatkan semuanya, biarlah ia hadir sebagai tanda bahwa alam adalah keseimbangan yang sempurna. Alam adalah cermin kebijaksanaan sejati.

Alam pasti sudah berhitung. Meski menyakitkan, ia punya cara sendiri untuk menguji batas kemampuan manusia.