Menjemput Gempa Jogja

Kereta Jayabaya Selatan ini berangkat terlambat setengah jam dari Stasiun Senen. Sepanjang perjalanan, waktu pun juga terasa lambat bergerak. Memang, pukul 21.00 kereta sudah sampai di Purwokerto, alias enam jam penyusuran darat. Sesudah itu, barulah waktu berjalan semakin lambat. Nyaris setiap stasiun berhenti. Entah untuk menurunkan penumpang, entah untuk berpapasan dengan rangkaian kereta yang lain.

Dari Purwokerto naik sepasang suami istri. Tri Yuwono, demikian pria itu memperkenalkan diri. “Ibu dan adik saya meninggal,” kecapnya. Tri seorang anggota polisi Polda DIY. Ia sedang cuti ke Tegal untuk menengok istrinya, seorang guru olahraga sekolah dasar. Rumahnya Pundong. “Kalau saya tidak ke Tegal, pasti sudah ikut mati,” duganya seraya dalam hati bersyukur telah diberi umur panjang. Sebab, katanya, pada pukul 05.55 sebagaimana gempa itu menggetarkan Jogja, ia pasti masih terlelap tidur di rumah yang ditempati ibu dan adiknya. Dan ia bukan orang yang dapat segera bangun ketika ada kejadian mengejutkan sekalipun. Ternyata ia kini masih hidup. Dan ia mengaku tidak membayangkan apa pun tentang bencana yang menimpa tempat tinggalnya.

Perjalanan dari Purwokerto sampai Jogja sungguh penantian yang mencemaskan. Memang, kereta itu berakhir di Stasiun Gubeng, Surabaya. Namun, banyak penumpang yang turun Jogja atau Klaten atau Solo. Tampak sekali kegelisahan mereka, setidaknya dari obrolan yang terdengar di antarnya berisiknya deru roda kereta. Ada yang cemas karena keluarganya tidak bisa ditelepon, ada yang gelisah segera pengen menemui jasad saudaranya, ada yang cemas dengan segala pikiran dan kegalauan perasaannya.

Empat setengah jam perjalanan Purwokerto-Jogja. Disambut hujan gerimis, dengan mobil yang dibawa Bapak, saya mengantar dua teman perjalanan ke rumah mereka, di Jokteng Kulon dan Kretek, pantai selatan. Hujan agak lebat membuat saya cukup panik memegang stir kemudi. Dinihari itu listrik sepanjang jalan mati. Jalanan gelap gulita. Lampu mobil Corolla 76 Bapak tak sanggup menembus jarak pandang hingga jauh. Belum lagi kalau berpapasan, silaunya minta ampun.

Menyusur Jalan Parangtritis, suasana mencekam. Tidak mengada-ada. Penerangan sama sekali tidak ada. Satu-dua kendaraan saja yang berpapasan, membuat saya harus melambatkan laju. Saya harus sangat hati-hati, mengingat puing-puing reruntuhan bangunan berserakan di kiri-kanan jalan. Sesekali saya harus zig-zag menghindar. Bakmi Sewon yang biasanya jadi tempat nongkrong, tak tampak wujudnya.

Untunglah, sampai di Sewon, ada iring-iringan kendaraan dari belakang yang mendahului. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk menguntit, supaya tidak susah-susah memelototi jalan.

Sampai di Perempatan Manding, sentra kerajinan kulit terbesar selain Sidoarjo, Garut, dan Tajur itu, hujan mulai mereka. Sampai Kretek sudah reda. Berbelok ke depan, kami dihadang pemeriksaan warga. Ditanya mau ke mana. Kami lolos karena tujuan jelas.

Teman saya panik ketika tiba di rumah, tak seorang pun membukakan pintu. Memang, rumah kelihatan utuh, namun tak berpenghuni. Ia tidak tahu keluarganya mengungsi di mana. Disusurinya jalan makadam yang gelap pekat itu hingga menemukan pos kamling. Ada seseorang yang mengenalinya dan mengantar menemui bapaknya yang tidur di dalam mobil tak jauh dari situ.

Pukul 2.30 kami meninggalkan Kretek menuju Palbapang, tempat kerabat saya banyak bermukim. Kami putuskan lewat Ganjuran. Dalam kegelapan, kami bisa melihat rumah-rumah yang roboh, pagar yang tumbang, dan tenda-tenda yang berdiri sekenanya. Ada tenda dari terpal, dari seng, dan dari kumpulan jas hujan yang ditata berjajar. Dan pasti selalu ada yang duduk berjaga di sana. Bisa berjaga, bisa pula gelisah tak bisa tidur.

Lewat depan rumahnya Mas Bardhono, astafirullah, rumah-rumah sudah menyatu dengan karibnya, tanah. Memang masih ada yang berdiri, tapi pasti tak kokoh lagi. Saya tak tahu persis, tapi menduga rumah di sebelah balai desa itu rumah Mas Bardhono. Di emperan rumah itu, yang tak saya temukan, beberapa waktu lalu diadakan sembayangan meninggalnya bapak.

Candi Ganjuran tampak kokoh dari pinggir jalan. Banyak orang duduk bertimpuh di sana. Tampaknya bukan orang setempat.

Sebelum sampai di rumah saudara-saudara, mental sudah saya siapkan. Dan benar, remuk semua. Hanya tersisa teras di rumah bude-pakde yang masih layak untuk berteduh dari gerimis yang pagi itu, pukul 03.30, mulai jatuh lagi. Untunglah, semua selamat.

Hari masih gelap. Kali ini saya tak dapat membendung air mata.

3 Responses to “Menjemput Gempa Jogja”

  1. -Deta- Says:

    ugh, sedih baca postingannya mas Kunto.. siapa sangka ya, jokja yang tentram itu bisa tertimpa bencana maha dashyat ini.. hu hu hu..

  2. aga Says:

    Ketika tangis datang, kadang kita tak pernah menyadari bahwa kebahagiaan menanti.
    “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…”
    (Pengkothbah 13)

  3. Katarina Says:

    Turut berduka cita untuk gempa di Jogja. Semoga keluarga Mas Kunto tabah menghadapi cobaan ini.
    Syukur puji Tuhan, keluargaku ga papa di Jogja. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Leave a Reply