Bali Kosong
Dalam bahasa Jawa, bali itu mulih, kembali. Maka, bali kosong berarti kembali kosong. Pulang kepada kehampaan.
Seperti itu pulalah yang terjadi pada Bali, pulau dewata pujaan manusia sepanjang bangsa. Kemarin, saya ke sana setelah terakhir Desember 2004. Bandara Ngurah Rai sepi. Tidak seperti lazimnya, tak ada antrian untuk sekadar mengambil bagasi. Parkiran nyaris kosong, padahal biasanya pukul sembilan pagi padat menyumpat.
By Pass menuju Nusa Dua ramai, tapi ternyata tidak di Nusa Dua. Pantai kosong, hanya ditunggu pasir yang terdesak abrasi. Hotel Westin lengang, bukan karena sedang Nyepi. Resort di tepi pantai itu sepi pengunjung. Menghadap ke timur, pantai itu seperti mengharap matahari yang tiada kunjung bersinar.
Tari kecak yang dimainkan 50 Bli, dipimpin Sang Hanoman, tak juga menurunkan ilmu pengetahuan ke akal budi mereka. Cak… cak… cak…cakcak…ccccakcccak… Langgam itu seperti hanya berdecak kehilangan roh. Kain poleng yang membalut enam pohon kelapa seperti hilang daya, tak sanggup tepis sesat. Hanya tepuk tangan ala kadarnya yang menggemuruhi pamungkasnya sendratari nan agung itu. Sesudah menari, detak gemercak Bli-Bli muda itu kembali kepada kehampaan.
Ini pasti derita berkepanjangan bagi orang Bali. Tak ada lagi turis berkerumun di seputar pura. Mereka berdoa sendiri, dalam hening yang malam. Tetamu tak lagi mampir di kios souvenir, sementara sesaji terus mengepul. Mantra memohon ampun, sembayang pengharapan itu, kini seolah tak ampuh lagi. Barangkali karena terlalu lama terbeli oleh industri wisata…
Bali sedang kembali kepada kekosongan yang sebenarnya. Bali sedang sendiri. Bali sedang tiada…
Bunyi tulisan kaos bikinan Pakuningratan, "Bali Wae Nang Djogdja." Ya, mulih wae nang yoja…