Menjemur Air
Seorang perempuan dengan hobi mandi pakai air hangat. Setiap sore. Sesampai di rumah atau menjelang tidur. Keramas atau sekadar membasuh rai. Tapi tidak untuk onani.
Perempuan itu tidak bisa mandi tanpa air hangat. Mungkin lebih tepatnya tidak mau. Baginya, air hangat membuat kulitnya lebih halus terawat. Jantungnya lebih hangat. Dan jari-ujung-kukunya lebih lentik.
Dalam pikirannya ada pesan gentayangan. Agar ia tidak lagi mandi pakai air hangat. Boros energi, kata pesan itu. Ia manggut-manggut, namun bukan tanda setuju. Ia mengiyakan, bahwa energi mesti dijaga. Jangan sampai habis –toh memang sudah mau habis, bukan? Namun, ia menyangkal bahwa air hangat adalah salah satu sumber boros energi. Maka, ia berpikir keras bagaimana membuktikan penyangkalan itu.
Ketemulah jalan. Pagi, menjelang meninggalkan rumah, ia menggayungi air, menuangnya dalam plastik. Diikatkannya seutas tali erat-erat. Di jemuran baju, tali itu diikatkan padanya. Ia pergi, membiarkan air itu dimaki-maki oleh sengatan sinar matahari.
Sore, atau siang, sesampai di rumah, dipanennya gantungan air dalam plastik itu. Dibukanya ikatan tali itu. Air dipindahtuangkan ke dalam ember. Jadilah, ia mandi dengan air hangat.
[cerita seorang siswi sekolah dasar di Magelang, Jawa Tengah, delegasi Kongres Anak 2005 berteme "Hemat Energi" yang diadakan tadi siang oleh Majalah Bobo di Jakarta: anak, inspirasi yang tiada pernah mengering...]