Setelah beberapa hari, aku berhasrat untuk menulis catatan ini. Catatan atas reuni Kolese de Britto dan Stella Duce Jogja…
Untuk kedua kali di tahun ini, alumni dua sekolah itu berkumpul di Jakarta. Bukan dalam ingar-bingar, namun dalam kehangatan yang sakral.
Telah banyak yang tua, barangkali sebanding dengan yang telah tiada…
Banyak pula yang lebih tua dari seharusnya; badan yang telah ringkih, daya ingat yang pudar; dalam sisa semangat yang memercik.
Tapi tentu harus dicatat; ada banyak orang muda di sana. Beberapa menggandeng anak, tak sedikit yang melipat tangan di dada tanda ia masih sendiri. Bagi mereka ini, reuni baru semacam tanda, bahwa hidup belum apa-apa; belum saatnya berbagi duka. Masih terlalu banyak canda yang mestinya dibagikan sama rata.
Satu hal yang menjengkelkan. Para muda itu telah banyak berubah. Meski sepanjang acara penuh dengan gelak tawa, pisuh-pisuhan, ger-geran, namun wajah mereka tak bisa menipu. Telah banyak yang menjadi dewasa; dewasa yang tak semestinya. Mungkin karena lingkungan pekerjaan yang bikin mereka menjaga sikap. Atau mungkin kerasnya Jakarta yang menempa mereka untuk sedikit menunduk.
Kuharap, detak jantung mereka tetap seperti sedia, saat di Bintaran atau Demangan, juga saat di Sabirin pinggir Code: penuh gairah! Jakarta boleh keras, tapi kita tak boleh berhenti menghentak. Kota ini jahat, namun bukan lantas jadikan kita alim.
Tua memang pasti. Mapan pilihan. Namun gairah kebebasan, bahkan kebinalan, bolehlah tetap ngrembaka; mekar santun bersama pujangga ibu kota…