Tusin!
[Perjalanan Karawaci-Jakarta pada suatu pagi. Rekaman sesaat]
Bingkai ini mungkin reot. Tapi di dalamnya ada
potret yang aslinya tak berbingkai. Potret itu bernama
Tusin.
Sudah pukul sembilan pagi ketika Jalan Daan Mogot
masih saja macet di beberapa titik. Cikokol macet
gara-gara pasar tumpah. Juga sebuah pertigaan di
Batu Ceper. Pintu keluar Terminal Kali Deres tentu saja. Juga perempatan Cengkareng.
Butuh ketabahan luar biasa untuk menembus
simpul-simpul itu. Melaju kencang adalah
keterpaksaan mengejar waktu. Memelankan kendara adalah kekalahan atas ganasnya lintasan itu.
Tapi pelan toh bisa jadi inspirasi. Ada tanda-tanda
bahwa jalan raya tidak selalu identik dengan
ketergesaan. Tidak selalu adu kencang. Bukan pula
selalu arena pamer torsi. Dalam pelan ada kearifan.
Tadi pagi. Di antara raungan mesin, ada kesenyapan
ayun pedal, dalam nafas yang terengah. Sebelas
sepeda beriring selepas perempatan Cengkareng. Semua
laki-laki, bahkan sepedanya pun tak satu pun jengki.
Beriring satu-satu, tidak berjejer.
Semua sepeda itu menggendong kronjot, keranjang dari
anyaman bambu. Sesisi kiri, sesisi kanan. Isinya
sama,kelapa. Hijau dan kuning. Utuh atau terkelupas.
Sebagian kelapa kopyor.
Satu kilometer seusai lampu merah itu, di jembatan
gantung, mereka berhenti. Tetap dalam posisi
berurutan. Setiap sepeda disandar begitu saja di
pinggir jalan. Sepeda itu tanpa penyangga. Toh tak
ada yang rubuh.
Di bawah pohon yang gersang lagi tersaput debu,
mereka berkumpul menghindari sinar matahari. Jongkok, bukan duduk. Merokok, dan tidak minum.
Tusin salah satu di antara sebelas pejongkok itu. Ia
tidak merokok. Lagi, ia segera beranjak berdiri
begitu saya ajak bicara.
"Ke Kota," jawabnya saat saya tanya hendak dibawa ke
mana butir-butir kelapa itu. Lalu dalam sambung
tanya dan renteng jawab, mengalirlah informasi ini.
Kelapa itu dijual Rp 2.000. Sesudah di tangan
"penadah", mereka tidak tahu ke mana kelapa itu
disebarkan. Yang mereka tahu, setiap bijinya mereka
beroleh "untung" 700 perak. Itu kelapa biasa.
Beda dengan kelapa kopyor. Harga jual dan
keuntungannya sepuluh kali lipat per biji. Namun,
karena daya angkut terbatas, total keuntungan dari
keduanya sama. Tak heran jika mana pun kelapa yang
mereka angkut, mereka tak memilihnya.
Sesudah sholat subuh mereka berangkat dari Teluk
Naga. Setiap hari, sejak puluhan tahun silam. Sejak ia
masih muda hingga anaknya menjadi bagian dari penggenjot sepeda itu. "Kalau lancar 3 jam sampai kota," ujarnya.Artinya, tadi pagi tidak lancar. Sudah empat jam mereka mengayuh, dan Kota masih jauh.
Ia tampak bersungut-sungut karena pagi tadi lalu
lintas begitu padat. Beranjak sebentar macet. Melaju
sedikit ada angkot berhenti mendadak. Mengerem
mendadak dengan beban 100 biji kelapa bukanlah
pekerjaan gampang. Otot terlatih saja bisa
tertatih-tatih. Setelah berhenti, untuk memancal
pedal lagi juga butuh ketenangan, lebih dari sekadar okol kuat.
Tusin mengeluh. Jalanan makin tak bersahabat dengan
mereka. Sama-sama mencari nasi, orang-orang seperti
Tusin kian tersisih. Bahkan sudah menyusur tepian
pun, pekak klakson tak henti memburu.
Ah Tusin. Potretmu tak berbingkai. Di luar yang
terekam, pastilah banyak kisah hidupmu yang
menarik… tapi mungkin tak berguna bagi kami… Mestikah engkau transparan dan ekountabel untuk membuat kami sedikit berpaling? Haha, mungkin kamu ikut tertawa.