tarif

September 4th, 2007 by kunto

Tarif tol Jakarta naik sudah. Pengguna jalan protes. Pemerintah bersikukuh.

Sudahlah. Tidak perlu protes. Buat apa protes yang pemerintah yang bengal? Yang tuli? Yang tak peka pada penderitaan rakyatnya?

Kalau tidak kuat bayar tol, ya lewat bawah saja. Atau, jual saja mobilnya, ganti pit montor.

Masih tidak kuat juga? Ya jangan tinggal di Jakarta. Di sini semua pake tarif. Maka, kalau tidak siap diperlakukan sebagai materi transaksional, ya pergi saja.

Memaksakan diri toh semakin pusing. Tarif naik tak pernah berarti pelayanan membaik.

Kalau tetap bertahan, bersiasat sajalah. Cerdas dalam bekerja. Toh, kenaikan tarif yang selalu berulang tak pernah membuat orang jera hidup di kubangan uang Jakarta.

Selamat deh menikmati tol….

vip

August 29th, 2007 by kunto

Pesawat sudah bersiap menuju run way. Orang-orang itu masih saja sibuk ber-sms. Atau, kalau tidak, teriak-teriak ke orang di seberang, entah minta dijemput tepat waktu, entah meninggalkan pesan bisnis, atau sekadar mengabari bahwa pesawat segera tinggal landas.

Saat mendarat demikian pula. Pesawat belum lagi berhenti sempurna, bunyi ponsel sudah bersahutan. Ada yang memastikan bahwa penjemput berada pada posisi yang diinginkan, ada yang memastikan pada orang yang ditinggal bahwa dirinya sudah sampai, ada pula yang sekadar mengetahui adakah pesan offline yang masuk ke selularnya.

Permintaan pramugari agar menyalakan ponsel setelah meninggalkan pesawat tiada digubris.

Soalnya bukan keselamatan, tetapi rasa hormat. Rasa menghargai.

Ini juga sering terjadi pada forum-forum publik seperti seminar. Duh, susahnya mematikan ponsel meski moderator sudah menyampaikan aturan main forum.

Orang-orang penting! Ya, mereka orang paling penting di negeri ini. Setidaknya, orang yang ingin diakui sebagai orang penting. Yah, selamat jadi orang penting deh… Halo… halo… aku wis landing lho… Kentul-kentul runway-ne. Pethuk nak destination gate yo. Jo lali… selak ngelih je…

display

August 27th, 2007 by kunto

Menyempatkan diri mampir ke Gramedia Matraman. Renovasi belum paripurna. Masih ada debu merangkak di antara hembusan pendingin udara.

Luar biasa. Beda sekali penampilan toko buku beromzet paling besar di tanah air ini dibandingkan dengan sebelumnya. Mirip mall. Dan hampir semuanya berubah.

Perubahan paling mencolok ada pada display buku. Raknya gede-gede, kayak rak beras kalau di minimarket. Jadi, buku-buku yang dipajang tampak sangat mencolok. Dari kejauhan tampak begitu jelas buku apa saja yang dipampang. Tidak perlu jongkok untuk melihat buku di rak paling bawah.

Tak heran, malam kemarin, toko ini begitu menuai pengunjung. Kini tak perlu lagi berdesakan untuk berbelanja. Tempatnya begitu lega.

Dengan display yang baru, peluang penulis agar buku karyanya dipajang di podium utama begitu besar. Maka, tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk menunda menulis. Semua orang kini bisa menulis. Dan pasarnya begitu besar. Tak akan cukup waktu sehari untuk berburu di toko yang paling tersohor ini.

Hanya satu kekurangan mencoloknya: satpam terlalu ramah. Saya percaya, tujuan perusahaan baik, yakni agar pengunjung merasakan kehangatan sentuhan petugas secara lebih personal. Sayangnya itu tidak terjadi. Satpam menyapa setiap pengunjung secara berlebihan. Terasa sekali basa-basi. Maklum standard operation procedur (SOP)-nya. Keluar dari cangkem,  belum keluar dari hati.

optimis

August 24th, 2007 by kunto

Seorang kakak kelas melontarkan gugatan setelah membaca blog ini:

Di,
Sore ini aku rodo longgar dari ke-rutin-an di tanah sebrang.
Kubuka milis tercinta dan kubuka satu-2nya blog yang kekenal..tapi..
Kenapa suaramu merintih penuh kecemasan..penuh ke-pesimisan..
Bukan-kah paling tidak kita masih punya HUT Kemerdekaan yang bisa dirayakan dengan kebanggaan, sebagai mana bangganya para pemakai Peci Kuning berlambang Veteran RI..biarpun harus berebutan berdesakkan memasuki pelataran Istana Merdeka untuk menyambut hari yang mereka ciptakan itu…
Jangan terlalu pesimis adi-ku, jangan sesalkan siapapun, bukan-kah tugas kita bersama untuk membenahi negeri ini tanpa harus pesimis..kasihan mereka yang sudah bangga berpeci Kuning …terus mengepal dengan berani dan bangga sebagi putra utama Indonesia..
GBU

Boleh. Saya terima komentar itu. Terima kasih Kangmas.

Saya tidak membela diri. Setiap kepala punya kemerdekaan untuk berpendapat. Juga bersikap. Maka, sudah semestinya dua kepala itu bertemu. Bukan beradu, tetapi berpadu. Bukan bersatu.

maya

August 23rd, 2007 by kunto

Ketiadaan telah menjadi kenyataan. Manusia semakin mudah percaya pada sesuatu yang tidak pernah jelas keberadaannya. Manusia telah pula gampak digoyak oleh kenyataan yang tidak ada.

Manusia modern menyebutnya dunia maya. Tanpa tatap muka, tanpa sentuhan. Tanpa wujud, hanya ada bayang-bayang. Tanpa kehadiran, namun dengan perpisahan.

Dunia maya, dunia tanpa bentuk yang nyata. SMS, email, mailinglist, blog, dan web adalah beberapa contoh kemayaan yang nyata itu. Lalu, manusia bisa terhubung ke belahan dunia yang lain dalam waktu yang begitu cepat. Manusia bisa begitu akrab dengan teman barunya hanya dengan kata-kata, atau bertatap sepotong foto. Jarak telah ditiadakan. Semua terasa begitu dekat, yang kadang-kadang memang sungguh seperti dekat.

Kehangatan pun tak memerlukan pelukan untuk menggetarkan. Keromantisan juga tidak memerlukan belaian untuk mendidihkan gairah. Hmmm, bahkan kemarahan pun tak memerlukan pelototan atau tonjokan.

Dunia maya adalah dunia tanda. Tanda hanyalah wakil, hanya silih, simbol akan.

Malapetaka besar ketika tanda dipuja. Dan kini sudah terjadi. Manusia-manusia terkesima pada tanda. Dunia maya telah begitu nyata bagi mereka.

Haha, kecanggihan teknologi melahirkan manusia berwajah ganda: tampak maju, sekaligus bego. Terampil berselancar, sekaligus melorot nalarnya.

Maka, marilah kita merayakan kesuksesan dunia maya menjungkalkan kemanusiaan kita. Dengan sukacita kita olok-olok mereka yang gampang termakan muslihat maya, eh kelabuh dunia maya hahahahaha….

kembali tidak merdeka!

August 20th, 2007 by kunto

Sontoloyo benar bangsa ini! Tak jemunya memuja pesta di tengah telaga asat. Mereka pikir, pesta bisa menghapus nestapa? Mereka pikir, pesta satu induk dengan kata merdeka?

Angka 62 menghias pagar desa. Dengan bendera merah-putih di setiap ujung lurung, warga desa hendak menegaskan nasionalismenya. Dengan umbul-umbul aneka warna, warga desa hendak mengibarkan tanda kesetiaannya kepada nusa dan bangsa. Dengan gapura, warga desa hendak turut bangga dengan kemegahan negaranya.

Lalu ada pawai sepeda hias menyusur persawahan. Seluruh kepala terlibat serta, dengan ukiran kertas aneka rupa. Semua larut dalam genjotan perjuangan, begitu bunyi omong kosong itu. Serasa pasukan gerilya di zaman prakemerdekaan.

Sehari sesudahnya, di malam libur, panggung hiburan pun dimegahkan. Para jawara lomba ditahbiskan dengan pekik bangga. Joget lentur pun dialunkan dengan gemulai. Seremonia ala kampung mereka.

Kini pesta sudah usai. Ingar-bingar sudah dikembalikan ke persewaan tenda. Piring kotor pun sudah dicuci, meski meninggalkan bau nasi rames dan sambel pete. Kembalilah mereka ke kasunyatan sejati: negeri ini jauh dari merdeka.

Kemerdekaan negeri ini hanya berlangsung sehari saja. Sisanya, kesengsaraan. Pekik merdeka hanya nyaring di lapangan upacara bendera. Pasukan Pengibar Bendera hanya berbaris patuh di depan istana. Lagu kebangsaan hanya berkumandang di lomba panjat pinang.

Selebihnya? Pekik merdeka sumbang melengking dalam vandalisme fasilitas publik, dalam penggarongan uang rakyat, dalam penzinahan janji demokrasi. Anak-anak SMA yang gagah berbaris laksana hulubalang Majapahit itu pun akan kembali pening berhadapan dengan mahalnya biaya pendidikan, suramnya masa depan, dan langkah gontai bangsa yang frustrasi. Popularitas lagu kebangsaan pun akan sekilat lenyap bersamaan dengan gemuruh gelombang lagu-lagu pop cengeng.

Maka, sudahlah. Kita sudah merdeka sehari kemarin. Kini, kita kembali tidak merdeka. Lupakan pesta sia-sia itu. Kembali ayun cangkul, putar otak, untuk memperjuangkan kemerdekaan sejati: bebas dari ketakutan dan ketidakadilan.

Turunkan panggung fantasi itu. Loroti gapura mimpi itu. Lipat bendera-bendera kebanggaan semu itu.

Kita gelar tikar pandan saja. Tanpa gapura, tanpa tiang pusaka. Kita bekerja. Ya, bekerja menyingkirkan ketakutan dan kemelaratan akut ini. Dengan atau tanpa partai. Dengan atau tanpa presiden. Dengan atau tanpa upacara. Kita rayakan kehidupan secara lebih nyata.

Selamat bekerja di negeri yang belum merdeka!

sembuh

July 2nd, 2007 by kunto

Tidak ada seorang pun yang merindukan kesembuhan. Mengapa? Bukankah kesembuhan adalah doa mereka yang sakit? Bukankah kesembuhan adalah harapan bagi mereka yang ingin keluar dari penderitaan?

Benar. Namun, siapa manusia yang ingin sakit? Tidak seorang pun. Bahkan jika ia dijanjikan kesembuhan dalam waktu yang secepat-cepatnya.

Yang diinginkan manusia adalah kesehatan. Sehat tidak sama dengan sembuh. Sembuh adalah tahapan setelah sakit. Sedangkan sehat adalah kondisi tidak sakit.

Namun, bagi yang sakit, kesembuhan adalah satu-satunya pengharapan. Hanya kesembuhan yang membuat hidupnya kembali bergairah. Hanya kesembuhan yang menjadikan hidupnya kembali berarti.

Lebih dari kesembuhan, sejatinya yang dinanti oleh orang sakit sekalipun adalah kesehatan. Dan, yang dijaga oleh orang waras adalah kesehatan.

sang gembala

June 22nd, 2007 by kunto

Senja menunggu pembaringan. Matahari sebentar lagi menjelma menjadi keheningan. Sinarnya dibagi untuk mereka yang menanti fajar. Kehangatan telah diseberangkan.

Sekawanan domba beriring meninggalkan tanah lapang. Seperti sore-sore sebelumnya, dalam hapalan mereka, menjelang petang, kaki mereka spontan melangkah menuju kandang. Langkah kenyang, sesiang rerumputan mereka kunyah segar-segar. Bahagia paras mereka, seperti hendak menjemput bidadari di peraduan.

Sang gembala terbaring di bawah pohon kelengkeng. Mungkin ia lelah, seharian sudah menggiring kawanan. Mungkin juga ia pasrah, toh domba tak bakal mengkhianatinya. Mungkin juga ia lengah, menganggap domba kawanan yang patuh.

Domba-domba tiada peduli akan sikap sang gembala. Sore-sore yang berlalu telah mengajari mereka pulang tanpa dituntun. Mereka telah menjadi domba yang mandiri, melangkah tegak tanpa dihentak tongkat komando.

Kali ini, kepulangan itu berujung pada kehilangan. Sang gembala yang mereka tinggalkan di pinggir tanah lapang tak bakal pernah menyusul.

Istri sang gembala curiga. Domba-domba itu pulang tanpa diiring siulan sang gembala. Ditelusurinya jejak langkah gembala itu. Sang istri menjumpai suaminya berbaring di atas rumput. Tidur nyenyak, pikirnya.

Nyatanya tidak. Sang gembala telah berpulang. Tidurnya tak lagi seperti malam-malam saat mereka berpelukan di atas ranjang. Tidur itu kini telah menjadi sangat panjang. Tiada berujung. Tiada berikat. Napasnya melesat bersama semburat jingga. Bersama Sang Khalik napas itu bersetubuh. Ia pergi dalam tangis kekagetan.

Toh, domba-domba itu tidak tahu. Esok pagi, pintu kandangnya tak akan lagi dibuka sang gembala. Jika mereka mengembik, tak ada lagi tongkat yang bakal mengantar mereka ke padang rumput.

Sang gembala sudah beristirahat di liang lahat, siang tadi. Ini akan menjadi malam pertamanya bersama Esa, sang gembala utama.

Untuk Pak Adi, tetangga di kampung, yang wafat dalam "dinas kegembalaan", selamat pulang. Selamat bertemu dengan gembala hidupmu.

matahari

June 14th, 2007 by kunto

Pada pagi, matahari menandai dimulainya hari. Pada petang, ia menandai diakhirinya hari. Jika pagi, ia disebut terbit. Jika petang, ia disebut terbenam. Jika tengah hari, ia disebut terik. Jika malam… tak ada sebutan untuknya.

Apakah karena malam tak ada matahari hingga ia tak bernama?

Tentu tidak. Matahari bersinar sepanjang masa. Tak pernah tenggelam. Terbit dan terbenam hanyalah bahasa manusia; manusia yang terbatas dalam kata-kata. Sejatinya matahari tak pernah tenggelam. Hanya saja, manusialah yang tidak mampu menjangkau kehidupan matahari sesudah ia tenggelam.

Matahari juga tak pernah bersinar lantaran diminta. Ia selalu hadir pada waktunya, kepada setiap manusia. Matahari tak pernah membagi sinarnya. Juga kepada mereka yang tinggal di gubuk reot pinggir ciliwung, yang gelap adalah baju mereka, matahari memberikan dirinya secara cuma-cuma. Ia pun tak menarik bayaran andai sorot cahayanya menimpa tengkuk bos-bos negara papan atas.

Juga pada waktu malam. Meski tak memberi panas, ia menyisakan kehangatan pada malam. Ia mempersiapkan diri untuk menuntaskan kehangatannya di esok hari.

Sinar matahari melesat adil kepada setiap makhluk. Semua mendapatkan sesuai proporsinya. Tidak berlebih, tidak kurang.

Matahari adalah simbol kebahagiaan bagi semua makhluk. Kehadirannya setiap pagi selalu dinanti. Kepulangannya setiap petang juga dirayakan. Panas dan dingin adalah dua menu utama pesta matahari.

Maka, kini, ketika hujan masih juga kerap mengguyur, sejatinya para makhluk sudah merindukan matahari. Merindukan kehangatannya. Matahari menjadi penawar dahaga bagi mereka yang terbenam.

pensiun

June 12th, 2007 by kunto

Sudah saatnya semua perjalanan diakhiri. Pengabdian itu tuntas sudah. Menjadi pegawai di sebuah instansi. Berpuluh tahun lamanya menyediakan diri bagi sesama yang sakit dan menderita. Tidak sekadar meminumkan obat, namun lebih-lebih menyuntikkan semangat.

Berkat tangannya, ribuan orang telah diringankan rasa sakitnya. Berkat rasa cintanya, ribuan orang percaya akan kesembuhan.

Darah dan air mata senantiasa bersamanya. Luka dan kematian juga sahabat-sahabat karibnya. Luka-luka itu dibersihkannya, diberinya penawar. Diajaknya pula orang sakit itu berbicara.

Puluhan tahun ia menyediakan diri menemani korban-korban yang tak dapat menolong dirinya sendiri. Karenanya, ia mengenal betul bagaimana maut menghampiri pasien-pasien.

Pagi sekali ia berangkat hingga hari menjelang sore. Tulang patah dikembalikannya seperti semula. Erangan sakit dihiburnya.

Kerap pula ia masuk siang dan pulang saat larut malam. Juga demi kesembuhan mereka.

Masuk malam dan pulang pagi hari juga rutinitas yang pernah menyita waktunya. Orang yang datang karena sesak napas atau serangan jantung, pada malam itu dibantunya meraih kelegaan.

Berjumpa dengan orang sakit, setiap hari, sejak 1971, mengantarnya kepada kearifan: berjaga-jagalah siapa saja yang sakit, sebab Allah bisa dengan seketika mencabut mandat sehatnya untuk kita.

Kini, perjalanan itu berakhir sudah. Sebagai karyawan, hak dan kewajibannya purna. Namun, sebagai manusia, tangannya tak pernah berhenti bekerja. Dan memang tak boleh bekerja, sebelum si empunya hidup mencabut mandat.

Kami bahagia pernah dibesarkan oleh tangan hangat itu…

untuk Ibu yang kini telah pensiun, dan Bapak yang sejak tahun lalu tak lagi berstatus sebagai PNS. Terima kasih.